Jumat, 17 Juni 2011

MENJEMPUT PANGERAN DIPENGHUJUNG DHUHUR

Sudah semakin panas...gundah bertambah, resahpun merambah seluruh hatiku....Bumi telah jadi saksi sepanjang usiaku. Setia menungguku untuk menyatu sewaktu-waktu sang utusan datang menjemputku.

Meski dhuhur sudah hampir berlalu., tangan ini dan seluruh jiwa ini tak kan pernah berhenti memohon kepada-Mu ya Robby.. "for the rest of my life" I'll be with you, I'll stay by your side...I'll be loving You day and night.


Hari ini...
trace back masa lalu menjalin tali silaturahmi, mengunjungi teman lama,di kota yogya... mengenang kembali dan bernostalgia....

Hari ini...
untuk kesekian kalinya, dulu dan sekarang, perasaan masih sama.

Hari ini...
hanya angka yang bertambah sedang waktu semakin dekat, meski tak tahu seberapa dekat.

Hari ini...
ingin ku ucapkan untukku "Semoga di sisa usiaku" Pangeran yang dinanti, menjemput di penghujung dhuhur ini..

amin ya robbal alamin




Kamis, 11 November 2010

MARAH PADA AMANAH???


Sungguh berat menjaga amanah dari Allah swt. Anak itu sungguh tidak bersalah. Karenanya berbuat larangan agama, orangtua yang seharusnya bertanggung jawab. Kenapa harus amarah yang terjadi ketika mereka tidak mengerti yang kita katakan. Tak seorangpun ingin amanah yang dijaga rusak tabiatnya, Tak seorangpun berharap amanahnya terluka karena amarahnya sendiri. Ya sering kali orang tua marah-marah ketika gagal mengajarkan hal baik kepada amanah tersebut.

Seharusnya instropeksi dan berkontemplasi terhadap diri sendiri, sebelum marah pada amanah. Setelah marah terjadi, semua tumpah ruah pada amanah, lantas apa yang kita rasa? Adakah yang salah? Ya, pasti ada yang salah jawabnya. Andaikan kita tidak sibuk dengan urusan kerja dan ada waktu untuk memperhatikan mereka lebih banyak, menjaga dan menjawab setiap keingintahuan mereka dengan ilmu, memahami kesulitan mereka, memberi pengertian atas tidakan baik dan buruk. Insya Allah mereka akan jadi amanah yang terjaga dan terpercaya. karena kita berbicara dengannya dari hati ke hati dengan rasa ikhlas menerima amanah tanpa harus dengan amarah ketika ketidakmampuan kita terbaca oleh mereka.

Senin, 07 Juni 2010

IDA, RAJWA dan KALIMANTAN


Aku tidak tahu ada apa dengan kalimantan? dulu zulfa adikku merantau kesana demi anak-anaknya. Sekarang ganti Ida dan putri kecilnya kembali lagi kesana. Semuanya demi mencari ridho Allah untuk berjuang disisa hidup dan masa depan yang masih tersimpan dalam misteri. Dalam hatiku berat rasanya melepas mereka, tapi mereka harus terus menjalani hidup tanpa harus bergantung pada keluarga kecuali pada Allah.

Kalau kita terus menengok kebelakang sulit untuk melangkah kedepan. Masa lalu cukup jadi pelajaran hidup agar kita tidak jatuh terpuruk untuk kedua kalinya. masa lalupun tak bisa lepas dari kita. adanya sekarang karena ada masa lalu. sekarang pun kan jadi masa lalu untuk menyongsong hari yang akan datang.

Semua punya kisah dalam perjalan hidup. semua ada hikmah dalam peristiwa yang dialami dalam perjalanan hidup. semua pun ada pelajaran bagi dirinya diriku dan orang lain untuk senantiasa mensyukuri nkmat hidup. sekalipun itu teramat pahit. jangan sampai dimuntahkan. kita nikmati kepahitan itu untuk lebih mencintai Allah. sungguh serasa lebih nikmat dikala kepahitan menjadi manis dengan ridho Allah.

Semoga Allah senantiasa melindungi mama ida dan rajwa dimanapun berada. semoga Allah senantiasa melimpahkan ridho_Nya pada kita semua.

Rabu, 04 November 2009

Di penghujung 33 tahun


33 tahun?
Apa yang sudah kulakukan?
Berapa banyak kebaikan?
Berapa banyak keburukan?
Berapa banyak pahala dan juga dosa?

33 tahun?
Apa ya yang sudah aku punya untuk dunia dan akheratku?
Apa ya yang sudah ku berikan pada orang-orang yang menyayangiku?
Apa ya yang belum ku lakukan untuk orang-orang sekitarku?
Apa ya yang belum kulakukan untuk memanjakan hidupku?
Apa ya yang belum ku persiapkan untuk matiku?

33 tahun?
Seharusnya aku sudah harus apa ya?
Punya pekerjaan? Not so bad
Punya suami? Not yet
Punya anak? Not yet
Punya karir? Not so bad
Punya iman yang kuat? sometimes
Hidup semakin mantap? Not really
Mati sudah siap???????? Wait…!!!

33 tahun?
Untuk mengisi hidup memang perlu sebuah rencana.
Apa aku sudah pernah merencanakan hidupku yang sudah lewat 33 tahun?
Pernah.. sangatlah pernah. Ada yang tinggal rencana, ada yang belum terlaksana
Ada juga yang sudah terlaksana meski tidak sesuai rencana.

Hampir 80% setelah perencanaan semuanya mengalir. Aliran itu kadang sangat deras, ada yang lambat bahkan hampir putus asa, ada yang berapi-api penuh gelora. Ada yang happy ending dan sad ending.

33 tahun?
Aku masih harus terus berharap.
Aku masih harus terus berdoa,
Aku masih harus terus berusaha,
Aku masih harus terus bertahan,
Aku juga masih harus menerima keadaan
Untuk tetap hidup dan mewujudkan impian.
Sampai akhirnya…
Memenuhi panggilan…
Untuk pulang mempertanggungjawabkan.
Semuanya…
Tanpa terkecuali..
Di hadapan Illahi Robbi…

Selasa, 01 September 2009

PECAH TANGISKU


Minggu Pagi itu, 30 agustus 2009 aku menangis sampai tak tertahankan… ku peluk erat budeku… ku Tanya kapan bupuh pulang? Ya aku bertemu dengan bu puh. Sepertinya bliau merasakan betapa aku merindukannya. Aku pun menangis sejadi-jadinya.. lalu aku pergi menemui kakak sepupu ke ngronggo, ku hanya melihat mas aan dan mas yus sekeluarga, tapi ada hal yang aneh, kenapa tiba-tiba ada mas oni disitu. Dia sedang mengatur rumah bupuh, dia minta rumah itu ditata dan digelar karpet di ruang tengah. Lalu aku tak mempedulikannya. Aku hanya ingin memberi tahu putra-putra bu puh kalau aku bertemu dengan ibu mereka di suatu tempat entah dimana. Rasanya… aku benar-benar bertemu dengan beliau. Tapi beliau tidak berkata apa-apa… wajahnya samar-samar. Aku tak melihat dengan jelas, aku tidak peduli, aku hanya memeluknya erat, erat sekali hampir tidak kulepaskan. Rasa haru yang begitu dalam membuat pecah tangisku. Aku menangis sampai aku terjaga dari tidurku… ternyata semua itu hanya mimpi… ya hanya mimpi.. bangun tidurpun air mataku tak bisa ku bendung juga.. aku masih saja menangis. Lalu aku cerita ke ibu, kalau baru saja aku bermimpi ketemu bupuh. Ibu pun juga cerita hal yang sama kalau beliau bermimpi bertemu bupuh berdiri di pintu rumah beberapa hari yang lalu di awal puasa. Ibukupun menghampirinya dan memeluknya, memanggil namanya “Yu ah kapan teko” dan memanggil-manggil namaku “Tik ki lo bupuh teko soko mekah …” Kata ibu dalam mimpi itu bu puh menatapnya dengan rasa iri… Ibupun jadi ingat bahwa ibu lupa membacakan surat al-fatihah untuk beliau di awal bulan ramadhan. Semua keluarga yang meninggal (pak puh Yan, orang tua, mertua) sudah dibacakan al-fatihah kecuali budeku.

Ya…beberapa hari yang lalu aku pernah menulis kenanganku dengan bu puh karena aku memang merindukannya. Akupun juga mengenangnya bersama ibuku. Menceritakan semasa hidup beliau.

Ya Allah.. sungguh berikanlah kebahagian abadi untuk budeku di sisi-Mu.. Terimalah amal ibadahnya, ampuni dosa-dosanya, rasa hormat dan pengabdian beliau pada agama rosulullah, sedekah yang dilakukan di jalan-Mu yang hampir tak pernah berhenti kepada siapapun yang memerlukan, dan bhakti pada suaminya yang luar biasa.. sungguh jadikan teman yang menggembirakan untuk beliau di surgamu Ya Robb. Amin ya robbal alamin....

ZULFA DAN KALIMANTAN



Seperti yang pernah ku katakana bahwa setiap ramadhan selalu saja ada yang berbeda dari tahun ke tahun. Dengan siapa, apa dan bagaimana kita di bulan ramadahan tahun ini, adalah berbeda dengan ramadhan tahun lalu... Demikian juga dengan rezeki yang Allah bagikan ke pada hamba-hambanya di setiap ramadhan ataupun di bulan dan hari yang lain.

Sebenarnya di awal agustus zulfa sudah tidak lagi bekerja. Ada tawaran kerja di Kalimantan tapi dia pikir dan harapan ibu juga semoga ada tawaran kerja yang lain yang dekat-dekat saja paling tidak di Jawa. Tapi ternyata tawaran yang di harapkan tidak kunjung datang. Akhirnya mau tidak mau tawaran yang di Kalimantan harus di terima. Mau bagaimana lagi, semua memang butuh perjuangan… maka berangkatlah adikku yang satu ini ke Kalimantan sebelum ramadhan.

Aku tahu sebenarnya dia tidak tega meninggalkan permata hatinya dan membuat repot ibu, kakak dan adiknya. Ya… suka atau tidak suka. Terpaksa maupun tidak terpaksa semua harus dijalani dan belajar menerima keadaan dengan ikhlas.

Sebelum zulfa berangkat, banyak pesan yang disampaikan padanya; ibu memninta dia meniatkan segala sesuatunya semata-mata mencari ridho Allah, menjaga amanah yang diberikan sebaik-baiknya. Demi anak-anak yang dititipkan Allah padanya dia harus berusaha sampai pada hari dimana dia harus berhenti.

Kadang lelah juga melihatnya, kadang tak tega juga melihat anak-anaknya tanpa mama yang menjaganya. Ayahpun tak tahu kapan memberi kabar baiknya…. Ya Allah sungguh Engkau tak menguji hamba-Mu diluar kemampuannya. Semoga saja kami sekeluarga diberi kekuatan untuk saling jaga, bahu membahu dan tolong menolong dengan kasih sayang dari Allah…. Serta petunjuk dalam menjalani sisa hidup kami masing-masing. Amin ya robbal Alamin…

IDA DAN PASAR RAMADHAN

Manusia tidak boleh menyerah begitu saja….
Apapun hasilnya nanti, yang penting adalah ikhtiar dan doa jangan sampai lupa…
Sekalipun hasil itu jauh atau sama sekali tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tapi harus diyakini bahwa Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita bisa belajar menghadapi segala ujian dan cobaan. Untuk meninggikan derajat kita di dunia dan akherat kita kelak. Rezeki, jodoh hidup dan mati semua ada jalan ceritanya.

Ramadhan hari ke tiga yang lalu, adikku ida mencoba usaha baru. Jualan makanan di “Pasar Ramadhan” yang ada di alun-alun nganjuk. Pasar ramadhan memang baru dibuka 2 tahun terakhir ini. Makanya adikku coba-coba jualan makanan untuk berbuka puasa. Menu yang dijual adalah ikan sungai “wader goreng” plus lalapan , “rujak kambang”, “peyek”, sambel pecel, sambel bajak dan “kuping gajah goreng”.

Waktu itu ida minta pertimbanganku bagaimana kalau dia jualan di alun-alun. Ku pikir, Ya tidak masalah dicoba saja, siapa tahu Allah memberi rezeki berlimpah di bulan yang penuh berkah. Sebenarnya ibuku kurang mendukung.. Kemudian kusampaikan ke ibu, supaya mengizinkan dan meridhoi usaha ida saja. Aku tahu adikku yang satu ini sedang bingung. Usaha apa kira-kira yang pas dan tidak perlu banyak modal. Ida sangat menyadari dia harus melakukan sesuatu untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah, Cuma saja dia, aku atau siapapun tidak pernah tahu kapan waktu yang tepat, dan berapa banyak Allah memberikan rezeki-Nya dari hari ke hari.

Namanya juga usaha…, menurut perkiraan, momen sebenarnya juga sudah pas. tempatnya juga sudah pas dan yang dijual pun juga pas, yaitu makanan untuk berbuka. Tapi ternyata Allah menghendaki lain… ikan wader dan lalapan yang sudah dibungkus sebanyak 16 dengan harga Rp.6.000 hanya laku 1 bungkus, es rujak 13 bungkus laku 8 seharga @Rp 1.500,4 bugnkus sambal bajaj laku 1 dan 32 peyek laku 2, kemudian kuping gajah goreng sebanyak 20 bungkus masih utuh. Bisa jadi selera pembeli tidak sesuai dengan makanan yang di jual ida.

Sabtu 29 agustus kemarin aku pulang agak larut malam dari kediri, karena harus menemani anak-anak (siswa MAN 3) mengedit pembuatan film sampai maghrib untuk lomba “film pendek”. Sesampai di rumah aku tanya adikku apa masih jualan di pasar ramadhan.. ida tidak cerita, Cuma menjawab “tidak”. Hmm.. ya sudah ku pikir. Lalu ibunda tanya apa ida tidak cerita… memang kenapa bu? Tanyaku. Lalu ibu cerita di hari ke empat bulan ramadhan rencananya ida mau jualan es kopyor dan es garbis.. semua bahan sudah dibeli 1 hari sebelumnya. Air kelapa, buah garbis, bahan agar-agar, sirup, semua di simpan di dalam kulkas. Ibu dan Ida tidak tahu bagaimana rasanya es yang sedang di bikin.. ibu hanya sedikit mencicipi rasa manis air esnya. Kemudian minta tolong fauzan ponakan kami untuk mencicipi esnya, karena dia puasa beduk. Dia hanya mengatakan “Ga enak te rasanya masam…” ida pikir fauzan hanya mengada-ada, karena fauzan memang sangat pilih-pilih dengan makanan apapun. Jadi ida dan ibupun tak punya fikiran bahwa bahan baku yang sudah disimpan di kulkas ternyata tidak tahan lama dan merubah rasa, terutama air kelapa serta buah garbis.

Setelah adzan maghrib ibu dan bapak berbuka puasa dan baru tahu kalau yang dikatakan fauzan ternyata benar, esnya sudah basi. Lalu ibu menelphone ida untuk tidak menjual esnya, kasian nanti yang membeli kecewa karena rasanya masam… kemudian semua dagangan dibawa pulang. Belum ada untung sama sekali. Pantas saja ida hanya diam… tidak cerita, tidak sesemangat di awal ketika ida mengutarakan ide, rencana dan angan-angannya. Lantas ibu memintanya untuk tidak usah jualan makanan lagi. Lagi pula rajwa putrinya juga sedang sakit, beberapa hari tidak mau makan.

Ya Allah… Ini adalah Ramadhan bulan yang sangat baik untuk melakukan amalan yang baik.. Hamba yakin saat-saat ibadah yang dilakukan ida adalah lebih baik dari pada jualan makanan apalagi dibulan dimana Allah melipat gandakan semua amal kebaikan. Adikku yang satu ini kalau berzikir selepas sholat dan mengaji setelah sholat selalu istiqomah setiap harinya…. Mungkin saja Allah lebih menyukai ida menikmati ibadah di bulan ramadhan dibanding harus berdagang di alun-alun.

Sabar ya adikku… ketahuilah Allah begitu menyayangimu… Insya Allah akan ada jalan lain yang tak terduga-duga. Jika Allah menghendaki rezeki itu datang padamu dengan sendirinya dan tiba-tiba, maka hanya dengan “Kun Fa Yakun” rezeki itu akan datang padamu tanpa diduga… Semoga doa-doa yang telah kau uraikan segera terjawab. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan pada kita di dunia yang fana ini dan di akherat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.

Selasa, 25 Agustus 2009

RAMADHAN 1430H


Dari tahun ke tahun ramadhan selalu berubah… suasananya maksudku. Orang-orang yang ada disekitar kita, kegiatan beribadah kita, bahkan menu makanan juga bisa jadi berubah seiring dengan semakin sulitnya jangkauan kebutuhan hidup. Harapannya sih senantiasa lebih baik. Bahkan kadang pertanyaan yang diucapkan di awal dan diakhir ramadhan selalu sama. “Apakah umurku sampai dipenghujung Ramadhan yang akan datang ya?”, “Apakah ini ramadhan terakhirku ya?”, “Apakah Ramadhan tahun depan aku masih bersama dengan keluargaku ataukah sudah dengan suamiku?” ya karena aku belum menikah jadi pertanyaan itu juga sering muncul di setiap bulan ramadhan….
Masih kuat di dalam ingatanku… setiap kali ramadhan ibu selalu menawarkan “Srondeng plus dendeng daging sapi” untuk kakaknya tercinta “Pak Puh Yan”. Tapi tahun ini ibuku tidak membuat tawaran itu lagi.. walaupun begitu ibuku masih membuatnya. Tidak lagi untuk kakanya. Tapi untuk keluarga yang lain. Ya .. siapa yang tahu, ramadhan tahun lalu adalah ramadhan terakhir untuk pak puhku. Beliau sakit selam ramadhan dan meninggal beberapa hari setelah lebaran…aku masih sempat memjenguknya. Adik-adiknya pun juga sempat datang ke RS disemarang pada hari-hari terakhir bulan ramadhan.
Ramadhan demi ramadhan memang selalu berubah… akupun tidak ingat betul hijriyah keberapa perubahan mulai terjadi, sepertinya sudah 10 tahun terakhir ini. Berawal dari Pak puh Nahrowi yang meninggal entah pada tahun hijriyah keberapa, lalu nenekku, kemudian bu de marfuah 5 tahun yang lalu, disusul pah puh Yan setahun yang lalu. Semuanya “waiting list” untuk “mudik di kampong akherat” termasuk aku. Semakin berkurangnya usia… rasanya semakin dekat saja waktunya untuk menghadap Sang Illahi Robbi. Bagaimanapun senang, susah, mudah atapun sulitnya… sisa hidup tetaplah harus dijalani….

Dalam kesempatan yang masih diberikan oleh Allah.. sebagai manusia tetaplah harus memiliki berbagai macam harapan, doa dan ikhtiar yang harus dilakukan. Semua itu diperuntukkan demi mendapat ridho Allah, kebahagian dunia dan akherat…
Ya Allah di Ramadhan tahun ini kembali hamba menengadahkan tangan untuk mengutarakan isi hati sebagai doa permohonan hamba kepada-Mu…
Ya Allah hamba memohon ampunilah dosa-dosa hamba, bapak, ibu, adik-adik, dan keluarga hamba, serta seluruh kaum muslmin dan muslimat di dunia dan akherat, dosa yang telah kami semua lakukan di masa lalu hari ini dan yang akan datang.
Ya Allah hamba memohon terimalah amal ibadah hamba, bapak, ibu, adik-adik, dan keluarga hamba, serta seluruh kaum muslmin dan muslimat di dunia dan akherat, amal ibadah yang telah kami semua lakukan di masa lalu hari ini dan yang akan datang.
Ya Allah mudahkanlah urusan dunia akherat hamba, mudahkanlah urusan dunia akherat bapak, mudahkanlah urusan dunia akherat ibu, mudahkanlah urusan dunia akherat adik-adik, dan mudahkanlah urusan dunia akherat keluarga hamba, serta mudahkanlah urusan dunia akherat seluruh kaum muslmin dan muslimat di dunia dan akherat… Amin Allah humma Amin….

My Wise Uncle...


Pamanku yang satu ini, paling enak diajak bicara, bercanda dan dimintai nasehat. Pokoknya kalau diajak “petung” enak deh. Hampir seluruh keluarga ibuku kalu punya masalah mesti minta pertimbangan n ngajaknya bicara. Aku dan adik-adikku memanggilnya Lek Nan.
Kisah hidup masa mudanya juga tidak kalah serunya dengan pak puhku “Pak Sofyan”. Ibu dan bu puh sering kali menceritkan kisah hidupnya dimasa kecilnya dan masa mudanya padaku dan juga adik-adikku. Bahkan kalau aku ngobrol dengan lek nan, bliau juga sering menceritakan kehidupannya di masa lalu. Sekarangpun kalu kita saling berkunjung masih cerita tentang anaknya, atik dan alfin (adik sepupuku).
Istrinya Lek Nur, orangnya juga asyik buanget deh… kita juga sering ngobrol masalah keluarga, apa yang telah di laului waktu dulu. Kalu kita ketemu betah deh ngobrolnya. Lek nur orangnya fair dan terbuka sekali. Kita sering sharing bagaimana menghadapi hidup dan persoalannya. Aku bersyukur punya bu lek yang asyik-asyik dan tidak pelit juga. Waktu aku kuliah dulu aku juga sering dijatah/diberi uang saku sebulan sekali sama lek Nur. Sampai-sampai lek nan bilang ke lek nur ngingatkan kalau ponakanya tidak hanya watik. Tesanjung juga aku disayang sama bu lekku dan bu puh ku.

Kalau aku menilai, keluaraga lek nan adalah keluarga yang paling tenang dan aman-aman saja. Tak pernah terdengan ada masalah. Kehidupannya juga selalu ada peningkataan dan perubahan yang semakin membaik. Ibarat perusahaan, menegementnya buagus.
Dulu waktu muda lek Nan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, dia ingin jadi orang yang berhasil. Sebenarnya kalau mau bliau juga bisa jadi guru. Tapi ternyata guru bukan pilihannya. Cerita yang aku ingat tentang perjalanannya adalah lek nan hanya jadi tukang cat di Jakarta, tapi dia bilang baik-baik saja, sampai akhirnya tidak mampu bertahan lagi dan tidak punya uang sama sekali, hanya permen karet dimulutnya untuk menahan rasa lapar, akhirnya beliau pulang ke jawa dengan nebeng truk.
Kemudian sepulang dari Jakarta pak lek ikut membantu pak puh yan di kios jam tangan dan kaset yang yang baru saja dibuka di pasar warung jayeng. Pak lek ku rajin sekali menabung dan orang nya kreatif. Akhirnya dari hasil tabungannya bliau mencoba buka toko elektronik dan kaset sendiri. Yang kemudian toko pak puh yan dikembangkan oleh lek war. Pak puh sendiri usahanya sudah mulai berkembang di jual beli automotif.
Hari demi hari usaha lek nan lumayan maju. Jadi di pasar warung jayeng itu ada toko kaset, jam dan elektronik yang dikembangkan oleh lek nan dan lek war. Waktu itu seingatku dua pak lek ku ini belum menikah. Kemudian aku ingat lek nan akhirnya menikah dengan lek nur dan dikaruniani anak putrid pertama atik.
Waktu itu aku masih kecil jadi belum begitu bisa ngobrol dengan pak lek n bu lek ku seperti sekarang. Setelah aku dewasa aku sering sekali mendapat cerita tentang pengalaman hidup mereka. Bahkan mereka juga menceritakan masa kecil mereka dengan ibuku, kehidupan ibuku yang menurut pak lek ku hampir tidak pernah bahagia. Selalu menyedihkan.
Kalau aku ingat cerita lek nan aku bersyukur sekali dengan keadaanku sekarang yang jauh lebih baik. Meski mungkin tak sebaik keluarga ibuku yang lain dalam masalah materi. Kalau aku boleh bilang, ibuku paling miskin diantara keluarganya. Dan alhamdulillah keluarga ibuku tak satupun yang memandang sebelah mata. Semuanya sering kali membantu dari sisi materi. Aku bersyukur sekali. Karena mereka dulu sama-sama susah. Bu puhku marfuah, pak puh yan, lek nan, lek war dan lek titin, mereka semua sangat sayang sekali dengan aku adik-adikku ibuku dan bapakku juga. Sering kali mereka mengungkapkan kasih sayang mereka dengan tetesan air mata. Kalau mereka bisa memberikan dunia ini untuk ibuku mungkin akan diberikannya. Makanya kenapa aku selalu berusaha membahagiakan ibuku, termasuk keinginanku memiliki suami yang mampu membahagiakan orang tuaku.
Lek Nan sangat dekat dengan semua keluaraga. Silaturahmi dan sifatnya yang suka menolong selalu menjadikan keluarga ini hangat dan erat. Kisah cintanya denga lek nur juga menjadikan pelajran untuk ku. Lek nur sering cerita, bagaimana bliau mau menerima lek nan sebagai suaminya, dan merasa sangat beruntung tidak menolaknya.
Usaha tokonya semakin hari juga semakin maju. Dulu rumahnya terpisah dengan tokonya, kemudian sekarang toko dan rumah sudah jadi satu. Kekhawatiran yang pernah dirasakan dalam membesarkan putri-putrinyapun juga memberikan pelajaran berharga padaku. Mereka kadang juga pernah meminta pertimbanganku, meski pendapatku biasa-biasa saja tapi mereka tidak segan untuk bertukar fikiran. Pokoknya aku merasa beruntung punya paman dan bibi seperti lek nan dan lek nur.
Alhamdulillah satu bulan yang lalu pamanku mendapatkan keluarga baru alias menantu untuk putri pertamanya. Ketika ku abadikan dengan cam-record matanya yang berkaca-kaca seiring dengan lantunan sholawat nabi, membuatku tak kuasa menahan tangis haru, momen yang paling indah bagi orang tua dan anak gadisnya. Seperti keinginan ibundaku yang entah kapan akan terwujud. Semoga untuk adikku tercinta TITA aku memanggilnya semoga memiliki keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Semoga juga krasan tinggal di kendari bersama suami. Semoga juga lek nan segera mendapatkan cucu pertamanya.