Jumat, 15 Mei 2009

CUKUP BAGIKU ALLAH…


Dalam perjalanan hidup ini telah banyak yang aku lewati. Kesedihan memang lebih dekat denganku. Dan semua itu membuatku rindu. Rinduuu sekali… aku ingin Allah benar-benar merengkuhku, memelukku dan menenangkan hatiku bahwa semua kebutuhanku di dunia ini telah dijamin-Nya. Kutahan semua perasanku, Semuanya ku kembalikan “cukup bagiku Allah” yang memenuhi hatiku.

Sungguh kadang aku mensyukuri kesedihanku karna semua itu membuatku merasa dekat dengan Allah. Dimana tak ada tempat untuk menangis memohon, mengharap dan bergantung kecuali Allah.

Meskipun seringkali diam-diam ku mengharapkan kebahagiaan segera datang menghampiriku. Tapi kutahan semua perasanku, Semuanya ku kembalikan “cukup bagiku Allah” yang menenangkan hatiku.

Ku ingatkan diriku pada suatu waktu. Waktu yang pasti aku lewati dan semua manusia lewati. Saat terakhir raga harus terpisah dengan jiwa. Rasanya kaki ini tak berpijak pada bumi. Tapi kutahan semua perasanku, Semuanya ku kembalikan “cukup bagiku Allah” yang menenangkan hatiku.

Dalam sisa hidup ini, yang telah tertulis untukku dimasa datang adalah misteri. Kurasa sebuah penantian yang sangat panjaaaaaaaaaang, kemudian setelah semua terlewati ku katakana ternyata waktu berlalu begitu cepat tanpa kusadari hariku sudah semakin dekat. Kemudian kutahan semua perasanku “cukup bagiku Allah” memohon petunjuk-Nya agar umurku menjadi berkah untuk dunia dan akheratku kelak.

Ya Allah…. Ku mohon ampuanan-Mu atas dosa-dosa yang telah hamba lakukan di masa lalu, saat ini dan yang akan datang.
Ya Allah…. Ku mohon ampuanan-Mu atas dosa-dosa yang telah bapak dan ibunda hamba lakukan di masa lalu, saat ini dan yang akan datang.
Ya Allah…. Ku mohon ampuanan-Mu atas dosa-dosa yang telah adik-adik hamba lakukan di masa lalu, saat ini dan yang akan datang.
Ya Allah…. Ku mohon ampuanan-Mu atas dosa-dosa yang telah keluarga hamba lakukan di masa lalu, saat ini dan yang akan datang.
Ya Allah…. Ku mohon ampuanan-Mu atas dosa-dosa yang telah saudara-saudara hamba lakukan di masa lalu, saat ini dan yang akan datang.
Ya Allah…. Ku mohon ampuanan-Mu atas dosa-dosa yang telah kaum muslimin dan muslimat lakukan di masa lalu, saat ini dan yang akan datang.
Ku mohon terimalah amal ibadah kami semua, mudahkanlah urusan dunia dan akherat kami kelak
Amin, amin ya robbal alamin.


HATIKU LA TAHZAN...!! ^_^


Ya Allah hamba tahu
Engkau maha mengetahui
Meski sering kali hamba tak sabar untuk ingin tahu apa yang Engkau tahu
Bimbinglah hamba menuju hidayah-Mu Ya Robby

Ya Allah hamba tahu
Engkau maha adil
Meski sering kali hamba tidak ikhlas menerima keadilan-Mu
Tetapkanlah hati hamba dalam iman, ikhsan dan ikhlas terhadap ketentuan-Mu Ya Robby

Ya Allah hamba tahu
Engaku maha mendengar
Meski sering kali hamba mengeluhkan kapan Engkau akan mengabulkan
Lapangkanlah hatiku untuk istiqomah dalam doa-doaku Ya Robby

Ya Allah hamba tahu
Engkau maha kuasa
Meski sering kali hamba mengatur dan memastikan rencana
Berilah hamba ketabahan dan kesabaran dalam menanti semua ketentuan-Mu Ya Robby

Ya Allah hamba tahu
Engaku maha pegasih dan penyayang
Meski sering kali kepedihan yang kurasakan karena kasih dan sayang-Mu
Berilah hamba kekuatan cinta suci tanpa balas kecuali ridho-Mu

Ya Robb sungguh hamba tak kuasa….
Hamba tak mampu untuk berkata-kata….
Hamba tahu kegelisahan bunda…
Meski hamba berusaha menghiburnya…
Tapi hatikupun mengingarinya….
Kegelisahanku sugguh lebih dalam….
Meski seringkali kukatakan…
La Tahzan…!
La Tahzan….!
La Tahzan….!
Semua telah ditentukan dan ditakar sesuai ketentuan-Mu
Kenapa masih saja sedih….

Ya Allah…
Engkau memberi sesuatu yang dibutuhkan oleh hamba-Mu
Bukan sesuatu yang diinginkan oleh hamba-Mu
Ya Allah …
Engkaupun sudah menakar dengan sebaik-baiknya….
Ya Allah berikan hamba kekuatan, ketabahan dan hati yang lapang
Untuk memerima semua takaran yang telah Engkau tentukan untuk hamba-Mu yang tak berdaya ini.

DUNIAKU SEDANG BERBALIK


Dulu ketika bapakku masih sangat kekar dan muda aku digendongnya, semua kebutuhannku dipenuhinya. Baju, makanan, sekolah, uang jajan, apapun itu diusahakannya.
Pagi sehabis subuh dengan udara dingin, bapak dan ibu meninggalkan anak-anaknya untuk berjualan kaset menggelar tikar dipasar.
Pernah pula kudampingi perjalan bapak dari Jakarta nganjuk naik pick up kendaran dagangan pak puh sofyan selama hampir 24 jam. Semua itu demi keluarga, aku dan adik-adikku. Aku ingat perjuangan bapak untuk kami.
Dulu ketika bapak dan ibuku melarangku dan adik-adikku untuk keluar hanya sekedar main-main dibatasinya.

Dulu ketika ku memaksakan keinginanku aku dinasehatinya
Dulu ketika aku butuh sesuatau tinggal memintanya. Banyak hal yang tak terbilang dan tak tersebut yang telah diberikan oleh orang tuaku pada kami bertiga. Meskipun ketidak puasan-demi ketidak puasan selalu ada.

Sekarang, sekarang tibalah kami ingin membahagiakan mereka. Yang seharusnya kami lakukan dari dulu. Tapi anak kecil adalah anak kecil. Seperti kadang kurasakan bapakku dan ibuku menjadi diriku waktu dulu kami masih anak-anak. Waktu seakan sedang berbalik.
Sekarang bapakku tidak sekekar dulu. Dan mungkin tak kuat mengendongku.
Sekarang kebutuhanku tak lagi dipenuhi. Alhamdulillah meski aku belum banyak memberi, tapi apa yang ku inginkan sudah bisa kubeli sendiri.
Bapakku jadi cepat lelah dengan perjalan panjang meski gayanya masih seperti orang bujangan.

Ketika aku mengingikan bapak untuk berdiam dirumah dan tidak perlu bekerja keras, aku jadi ingat ketika aku dilarang keluar rumah dan bermain-main dibatasi.
Akupun juga bisa merasakan betapa nikmatnya bisa membeli apa yang diingikan dan membelikan apa yang orang tua inginkan dengan hasil yang kita punya. Ku yakin perasaan ini sama seperti bapakku ketika bisa memenuhi apa yang kami inginkan. Aku tahu itu…

Kadang ketika ku meminta bapak untuk tidak bekerja lagi ada perasaan yang hilang pada diriku dan bapak. Aku tahu orang tua pengennya terus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan kalu bisa membelikan sesuatu untuk cucunya. Kepuasan itu tidak bisa digantikan oleh apapun. Kadang aku ingin berikan semua harta yang aku punya untuk mereka. Tapi perasaan diberi dan berusaha untuk mendapatkan dengan keringat sendiri amat sangat berbeda. Akupun bisa merasakan kepuasan ketika berusaha mendapatkan sesuatu dengan kerja keras. Sedih juga melihat bapak tidak punya kesibukan. Dan bapak mungkin lebih sedih lagi. Kadang juga aku merasa serba salah. Ketika kami menawarkan kesibukan untuk bapak yang tidak begitu menyita banyak waktu, beliau menolaknya. Maunya kita bapak itu di’eman supaya ga capek. Ternyata maunya bapak berbeda dengan maunya kita. Sepertinya waktu ini sedang berbalik. Perasaan jengkel dan menganggap bapak ga ngerti kalu dieman anaknya sama dengan bapak dulu yang jenggel anakknya ga ngerti kalau di eman. Ya duniku dan orang tuaku sekarang sedang berbalik. Serba salah!!!. Ada yang mau kasih saran!!!

ZABIT FARIDA


Adikku yang nomer 3 ini lahir tanggal 2 maret 1980, punya anak 1 dan statusnya sama dengan adikku yang nomer 2. aku sendiri sampai tidak habis pikir. Yang nikah pada cerai, yang belum nikah pengen cepat-cepat nikah. ^_^.

Adikku yang satu ini bisa ku bilang lebih unik lagi. Mungkin lebih unik dariku. Atau yang paling unik dikeluarga kami. Sekarang dia lagi menekuni bisnis kaktus. Aduh kayaknya keren banget. Tapi sebenarnya biasa saja. Cuma semangatnya adikku sungguh luar biasa. Demi membuka usahanya dia bela-belain ke malang dari nganjuk dengan anaknya yang berusia 2 tahun dibawa serta untuk kulak kaktus. “Naik sepeda motor dari nganjuk saudara-saudara….!!!”, Pulangnya turun hujan. Tapi alhamdulillah ada orang yang berbaik hati memberikan tumpangan sampai kediri kemudian motor dibawa sepupu kami. Sampai kediri janjian dan kemudian pulang ke nganjuk.

Sepertinya dia tidak main-main membuka usaha tanaman di jalan A. Yani nganjuk. Mungkin hampir 3 bulan toko kaktus dan pulsa itu dibuka. Itung-itung buat kesibukan dia setelah pulang dari Kalimantan. “Jadi saudara-saudara yang hobi menanam kaktus bisa join atau kerjasama dengan adikku!!!” Namanya juga usaha… sebenarnya kalau ada tawaran pekerjaan lain yang pas untuk dia ya lumayan. Itu harapanku. Kalau kurasa sedih. Ya sedih… dia harus berjuang untuk dirinya dan anaknya yang masih usia 2.5 tahun. Sering ku katakana pada diriku sendiri kalau masa depan adalah misteri. Pernah ku berucap sekaligus permohonan pada Allah, “Ya Allah berikanlah hamba penyemangat hidup”. Diapun juga mengatakan hal yang sama padaku. Perasaan lelahnya aku sangat memahami. Tak tahu seperti apa kelak kehidupan yang akan dilaluinya bersama putri kecilnya.

Kadang aku berfikir, untuk para single parent yang menghadapi kesulitan menghidupi anak-anaknya seharusnya Negara bertanggung jawab untuk pendidikan dan kehidupan yang layak bagi mereka, ketika ayahnya meninggal atau tidak bertanggung jawab. Ya anak-anak yatim, janda dan orang tua yang tak punya keluarga harus menjadi tanggung jawab negara. Ah bicara apa aku ini… o iya.. bicara tentang adikku yang unik aja deh.
“Ida” adalah panggilan kesayangan kami untuknya. Dari kecil aku sering sekali mengkhawatirkannya, karena dia suka sekali menangis. Kalau sudah nangis sampai berjam-jam. Pokoknya betaaaaaaaaaaaaaaah nangis. Sampai pernah ga berhenti nangis sama nenek dijejali daun papaya supaya berhenti, tapi juga tidak kunjung berhenti. Bapakpun juga pernah sangking jengkelnya air minun di teko diguyurkan. Juga ga berhenti. Pokoknya capek deh….!! Dan anaknya Rajwa, kalau malam juga sering sekali nangis kadang tanpa sebab ga jelas dan sulit sekali berhentinya. Sampai badannya dingin dan pucat. Subhanallah…. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Dulu waktu maghrib pernah dia menangis gara-gara dari pasar malam minta mainan alat masak tidak dibelikan.sampai jam 9 malam juga ga berhenti nangisnya. Akhirnya oleh ibu dikeluarkan dari rumah dan dikunci. Kemudian tak terdengar lagi suara tangisannya. Lalau mas aan, kakak sepupuku yang baru datang masuk rumah ditanya sama ibu, “Ida ada diluar An?” Ternyata ida tidak ada. Dia menghilang. Kita mencari kemana-mana. Nenek sudah mulai ngomel menyalahkan ibuku, dia kwatir kalau cucunya digondol wewe gombel atau ganderuwo. Kemudian akupun ikut mencarinya. Eee… ternyata dia sembunyi di balik pot bunga yang besar. Diapun cengar-cengir. Kita semua sudah kwatir setengah mati dia malah cengengesan.

Waktu SD dia paling tidak suka membawa jajan ke sekolah. Katanya malu. Tapi sekarang apapaun yang dia lakukan semuanya menurutku luar biasa, malah kadang amat sangat nekat. Dan tidak berpikir panjang tentang akibatnya.

Sebenarnya adikku ini juga bercita-cita untuk jadi perawat pendamping dokter gigi. Tapi apalah daya, bapakku rezqinya tidak mengalir untuknya. Jadi lulus SMP terpaksa sekolah di SMU Muhammadiyah dengan paksaan. Kemudian 1 tahun pindah ke pawiyatan dhaha kediri. Karena nilaiyna tidak mencukupi untuk sekolah di negeri, dia pengen sekolah di luarnegeri (tidak di kota nganjuk). Untuk melaksakan misinya dia puasa bicara, pusa makan, puasa minum selama berhari-hari. Hanya dikamar dan diam dan seperti biasa menangis. Ibu sampai jengkel kemudian dipukul sulakpun (kemoceng) juga tidak berkutik. Sungguh ku pikir aku adalah orang yang kaku dan sangat keras kepala, ternyata adikku lebih dari padaku. Akhirnya dengan bujuk rayuan dia mau sekolah di SMU Muhammadiyah dengan kontrak 1 tahun setelah itu harus pindah. Maka dikabulkannya keinginan itu. Yang membuat dia kecewa, sebenarnya dia sudah dinyatakan lulus dan diterima di perawataan gigi sekolah kejuruan tetapi harus ditinggalkan begitu saja karena tidak ada uang. Mau dibilang sedih ya sangat sedih… kadang akupun juga menyalahkan bapak… dan sampai bersumpah kelak kalau aku dah kerja pengennya menyekolahkan adik-adikku. Tapi apa daya. Gajiku pun juga tak cukup. Jadi batallah sumpahku itu dengan sendirinya.

Setelah lulus SMA adikku juga pengennya kuliah. Tapi sekali lagi mungkin memang bukan rezekinya. Dia tidak diterima di PTN. Akhirnya dia pun sekolah D1 di Ar Rahman kediri. Itupun biayanya minta bantuan pak puh sofyan. Alhamdulillah beliau mau berbaik hati meminjamkan uang untuk sekolah adikku. Wisudanya pun tanpa dihadiri bapak, ibu ataupun keluarganya. Katanya ga perlu. Ya sudah jadi tak satupun diantara kami yang datang. Kami hanya tahu foto dan gulungan ijazahnya.

Selesai kuliah, tentu perjalanan manusia berikutnya adalah mencari pekerjaan. Nah bingunglah dia pekerjaan apa yang cocok. Ada yang mau terima tapi ga boleh pake jilbab. Ku bilang ga usah kerja kalau harus pertaruhkan jilba, bisa-bisa rezekinya ga barokah. Akhirnyapun dia urungkan tawaran itu. Kemudian dengan modal nekat dan sedikit lobi ibu, adikku pengen ikut saudara minduan dari ibu namanya pak mujib. Adikku ingin ikut ke Kalimantan membantu beliau. Setelah rundingan akhirnya adikku berangkat ke tanjung selor. Dia jarang sekali pisah dengan keluarga baru kali ini dia nekat merantau ke Kalimantan.

Setelah beberapa lama ikut pak mujib, adikku mencoba melamar pekerjaan disalah satu proyek yang sedang di kerjakan di Kalimantan. Dari sinilah sepertinya doa-doa adikku diwujudkan oleh Allah. Keinginan punya uang banyak, bisa bantu and kirim uang ibu bapak, makan apa aja keturutan. Ida punya kebiasaan suka belanja makanan atau barang yang unik-unik. Kadang kalau beli makanan dia simpan dikulkas sampai lupa dimakan. Kalau barang-barang yang unik sepertinya kebiasaan dari kecil. Dia punya koleksi uang logam Rp. 5, Rp. 10, prangko, sampul kado, kertas surat, buku tulis dll. Dan koleksinya itu sampai sekarang masih kusimpan terutama selama dia di Kalimantan.

Di Kalimantan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah pak mujib dan berhenti membantu menjaga tokonya. Kemudian dia kontrak kerja di PT yang sedang mengerjakan proyek. Kenalah ida dengan sorang pemuda tampan ditempat kerja seperti memberinya semangat baru. Tapi karena memang belum jodo jadi adikku tidak jadi menikah dengannya meski ada rencana kesana. Salama 2 tahun, akhirnya kontrak kerjanya habis. Perlu diketahui selama kerja disana adikku juga membuka usaha pakaian dan aksesoris serta parsel. Modalnya dari salah satu teman di proyek. Setelah itu usahanya pindah ke balikpapan. Waktu pindah dari tanjng selor ke balikpapan aku datang kesana pas kebetulan waktu itu semesteran dan liburan, jadi kuhabiskan waktuku Bantu packing barang selama hamper 1 bulan. Lumayan punya pengalaman naik pesawat pertama kali. Dalam sehari itu ga hanya sekali 2 kali malahan eh tiga kali, empat kali lima kali sekalian bolak-balik.gratis lagi. lumayan Kemudian naik boat menyusuri tepian pantai hampir 2 jam. Ngeri juga dari ujung ke ujung hanya air dan pohon bakau. Wah menurutku lumayan buat traveling. Meski takut kalo boatny kebalik, tapi alhamdulillah semuanya selamat.

Sampailah aku di tanjung selor. Kumasuk rumah kontrakan adikku. Sedikit ngri juga sih. Tinggal sendirian, pernah punya pembantu tapi pada ga beres, sering bawa pulang dagangan. Ku amati barang-barang yang memenuhi ruangan rumah kontrakkan adikku. Makanan untuk parcel sudah siap untuk dijual dan diberikan ke pegawai perusahanan. Tapi akhirnya urung karena waktu itu SBY melarang pemberian parsel kepada pihak-pihak tertentu. Gagallah usaha parsel adikku dengan makana-makanan yang disudah dibelinya bahkan sudah dikemasnya. Sungguh berlimpah rasanya ku ingin mencicipi semua makanan kaleng yang aneh-aneh yang belum pernah aku lihat dan rasakan. Ida bilang kalu mau buka aja mbak. Cuma aku takut ga habis. Kemudian misi berikutnya adalah kemas-kemas barang untuk dibawa ke balipapan.. akhirnya bersih sudah kontrakkan itu meski masih ada sisa beberapa bulan. Tapi karena kotrak kerja di proyek sudah habis maka diputuskan untuk buka usaha di rapak Ramayana balikpapan.

Sebelum barang tiba aku dan adikku serta kakak sepupunya yang dititipkan teman di balikpapan menempati ruko. Seperti three angels beraksi. Belum ada tempat tidur karena memang belum datang. Akhirnya kita tidur dilantai dua diatas cover bed. Seperti orang ilang aja. Kita pel dulu lantai 3 dan 2 sampai bersih. Sepupuku sebenanya ga krasan pengennya pulang terus. Maklum ga pernah jauh dari rumah. Tapi alhamdulillah akhirnya kerasan tiba waktunya kerja full time ketika barang-barang dari tanjung selor datang. Ada almari baju, meja rias, spring bed, kulkas dan bermacam-macam daftar barang rumah tangga dan dagangan. Diangakt satu persatu dari lantai bawah sampai ke atas. Waktu itu dibantu oleh tehnisi meski kadang juga aku juga mencoba ngebor diding beton pinjam bor tehnisi itu kalau dia lagi istirahat. Kadang ku minta alatnya untuk ditinggal. Siapa tahu malam-malam ku bisa ngebor dinding-dinding ruko yang sangat angkuh dank eras yang mengelilingi kami three angels.

Satu persatu akhirnya semua barang tertata dan daganganpun mulai didisplay. Ada sepatu, baju, souvenir kayu jati. Kalau dikalkulasi semua barang ini kira-kira berapa puluh apa ratus juta ya. Ah entahlah. Tapi yang jelas isi toko hamper penuh. Akhiranya setelah semuanya sudah lumayan beres tibalah waktunya aku naik pesawat lagi pulang kampong….!!!

Setelah itu perkembangan toko adikku kudengar dari jauh tidak terlalu ramai. Akhirnya ga kurang akal adikku menambah dagangannya dengan jualan rokok dan soft drink. Kemudian cerita tentang seorang lai-laki keturunan makasar bugis melai mendekatinya. Dan sepertinya memberi perhatian lebih. Dan sudah mulai melarang-larang adikku untuk dekat dengan laki-laki lain. Kemudian dia berniat melamar dan memperistri adikku. Akhirnya menikahlah adikku denganya.

Ku rasa pernikahan adikku kali ini lebih aneh dari adikku yang ke dua (zulfa). Mempelai pria tidak membawa 1 keluargapun kerumah. Sebenarnya kami sekeluarga kurang begitu setuju. Tapi ya mau bagaimana lagi. Adikku jauh dinegeri orang ga ada siapa-siapa ya sudahlah, akhirnya dinikahkan juga. Meski semuanya tak mulus. Tapi itu sudah menjadi pilihan adikku. Karena tidak dapat mempertahankan pernikahannya, pulang kampung deh….! Kita sebagai keluarga apalagi ibu bebannya sangat berat. Anak kedua dirumah, suaminya jarang kirim nafkah pulang 1 tahun sekali. Anak yang satunya lagi pulang kampong diambang perceraian dan yang satunya lagi nih… belum nikah juga alias jodonya belum ketemu. PUSIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!!!!!!

Ditatalah hati kami… pekerjaanku juga tak begitu banyak membantu. Gajiku hanya cukup bantu biaya sekolah fauzan, itupun tidak banyak. Alhamdulillah dan selalu alhamdulillah, Allah memberi rezeki kepada bapak lewat usaha sarang burung. Zulfapun juga mencoba memasarkan tabung gas meski akhirnya harus berhenti. Dan ida dirumah juga menenangkan fikiran dan hatinya. Semuanya berlalu begitu cepat, kedua adikku resmi bercerai. Sampai ibu berfikir “pasti di pengadilan agama bilang satu keluarga kok cerai semua” ternyata benar yang diduga ibu ketika adikku siding di PA. akupun bilang ke ibu ya gimana lagi bu memang sudah begitu ya didengarkan saja ^_^.

2 tahun terakhir ini zulfa sudah bekerja dan sebentar lagi kontrak mau habis. Idapun juga punya kegiatan dengan buka kios kaktusnya. Meski ida masih berkeinginan untuk kerja di tenggarong Kalimantan. Sebenarnya kalau ida mau menekuni usaha kaktusnya lumayan. Seperti kemarin waktu kita mengikuti pameran di nganjuk. Allah melimpahkan rezeki yang menurutku luar biasa unutk ukuran bisnis kakus yang saben harinya cuma laku satu dua, eh ini samapi kulak kaktus bolak-balik malang-nganjuk. Kata ida seperti kacang goreng alias laku keras. Ya namanya jualan kadang laku kadang tidak.

O ya putrinya rajwa sekarang sudah gede. Tambah pinter aja. Semoga jadi anak yang solehah ya. Untuk ida adikku sanyang…. Maaf ya kalu mbak ga bisa Bantu banyak, ku hanya bisa doakan semoga segera mendapat pendamping hidup dunia akherat yang bisa membantumu membesarkan rajwa. Doakan mbak juga semoga jodo yang dijanjikan Allah datang dalam waktu dekat ini. Supaya tidak kamu salib lagi ^_^. Semoga kita bisa nikah bareng-bareng seperti yang ku impikan. Aku ketemu jodoku, ida dan zulfa juga ketemu jodonya lagi cukup untuk kedua kali. Jadi deh kita perayaan nikah bareng-bareng. Impian dan doa ibu pun juga bisa terwujud. Ibuku pengen banget mantu, kata bliau maksudnya pengen segera menkahkan aku. Waktu kubilang “kan sudah pernah mantu”

Sebenarnya setelah kedua adikku punya status janda sudah ada yang mulai ada yang menanyakan untuk menikah lagi. Malah adikku zulfa sudah ada yang meminta izin bapakku untuk melamarnya dan ida pun kemari-kemarin juga sudah ada yang menayakan. Kalau akau???????? Bukannya tidak ada saudara-saudara. Ada sih ada tapi ya beitu deh. Aku iya dia tidak, aku tidak dia iya. Capek deh… kadang semuany datang dan pergi hanya meninggalkan sebuah nama dan berlalu begitu saja. Kalau mau dipikir ya dipikir kalau mau tidak ya dipikir juga. Tapi aku tetep harus semangat toh hidup ini ga lama kan. Bagi para pembaca (eh emang ada yang mau baca nih..!!! ^_^, thank you) yang punya nasib sama yuk kita saling menguatkan hati bahwa kita adalah pilihan Allah yang sedang diuji untuk mendapatkan seorang pangeran dunia dan akherat untuk tinggal disurga-Nya kelak. Amin-amin ya robbal alamin.
Ya.. ku sadari semuanya kehidupan dimasa mendatang adalah misteri. Jodo, rizki, mati dan kehidupan ada pada Allah. Manusia sedang mengusakan untuk mendapatkan yang terbaik. Semoga Allah beri kemudahan pada keluargaku dan pembaca semuanya amin ya robal alamin. Ya Allah… yang maha mengetahui dan maha mendengar,perkenankan doa kami ya Allah

ZULFAYA ISNUN


Seorang Ibu dengan tiga anak, mama dari Fauzan, Tia dan Fajar adalah adikku yang ke dua. Lahir bulan januari 22 1978. Sementara ini bekerja sebagai kasir di salah satu proyek di jawa timur. Pada tanggal 2 maret 2009, pengadilan agama kabupaten Nganjuk memberi putusan “cerai” dan jadilah adikku punya status baru “janda beranak 3”. Diantara kita bertiga (zidni,zulfa dan zabit) dia bisa dibilang lebih pandai, karena bisa sekolah di SMPN 1 nganjuk dan SMA 2 nganjuk. Sekolah favorite dan tidak mudah bagi anak yang otakya pas-pasan untuk jadi siswa disana. Tapi sayangnya, adikku tidak bersekolah tinggi. Seperti pada umumnya, persoalan putus sekolah dikarnakan faktor ekonomi. Lulus SMA, dia langsung sekolah di poltek UNDIP dan ikut bulek ku di semarang. Setelah itu mau melanjutkan D3 tidak ada biaya. Akhirnya pulang ke nganjuk, karena cari pekerjaan di semarang tidaklah mudah. Saat itu aku masih kuliah. Sesak juga rasanya, sangat disayangkan adikku yang paling pandai diantara kami bertiga tidak bisa melanjutkan kuliah. Tapi sunnguh tak satupun yang luput dari genggaman Allah semua yang ada di muka bumi dan akherat kelak.

Banyak hal yang bisa kupelajari dari perjalan hidup adik ku yang satu ini dan satunya lagi (baca; Zabit Farida). Aku hanya mencoba menuliskan apa yang kuingat tentang sepenggal kehidupan dari masa kecil yang kita lewati bersaman dan apa yang dimikinya sekarang.

Masa kecilku bersama adik-adikku adalah saat-saat penuh suka dan duka, dan mungkin tidak ada yang luar biasa bagi orang lain. Tapi apapun yang dialami manusia dalam kehidupannya sesungguhnya adalah hadiah yang sangat istimewa dari Sang Khaliq untuk hamba-hambanya. Demikian yang ku rasakan, bahwasannya kehidupan keluarga kami sungguh sangat luar biasa yang mengisahkan drama kehidupan skenario Sang Illahi yang telah tertuliskan di Lauhul fahfudz sebelum kita dilahirkan.

Tak tahu persisnya kapan, di masa kanank-kanak, zulfa pernah terbakar bajunya dan membakar tubuhnya karena bermain korek api di selatan rumah nenekku. Peristiwa itu sempat membuatku sedih. Saat itu ibu sedang mandi dan aku bermain sendiri. Seluruh tetangga mengerumuninya dan memberi berbagai macam saran obat untuk dioleskan ke tubuh adikku. Lumayan parah, masih ada bekas di tangannya sampai sekarang, karena dia gunakan tangannya untuk memadamkan api di bajunya yang hampir habis terbakar. Masa kecil kita tinggal bersama nenek. Lumayan lama sekitar 15 tahun. Setelah itu kemudian kita sekeluarga harus angkat kaki dari rumah di Ploso. “Unforgetable moment” karena kami pindah dengan tidak sangat mengenangkan tapi sesunnguhnya setelah kesusahan pasti ada kemudahan.

Zulfa adalah anak yang paling bandel diantara kami bertiga. Kalau kita lagi beradu kekuatan aku memang sering kalah. Tapi kalau kita sedang main “cirak gambar”, “kecian”, cirak karet atau permainan apapun, seringnya aku yang menang. Kemudian dia menangis dan mengadu kalau aku main curang ke ibu. Gara-gara setelah permainan zulfa kalau kalah nangis, atau kita suka berebut gambar, akhirnya dimintalah semua mainan oleh ibu dan dibuangnya. Sangat disayangkan. Waktu itu aku sangat menyesalinya. Harap dimaklumi, mainan yang kita senangi kalau dibuang begitu saja kan sangat sayang sekali. Apalagi saat itu mainan tidaklah sebanyak sekarang. Dulu bungkus permen aja bisa digunakan sebagai duit-duitan. Atau daunpun juga bisa gunakan untuk duit dalam permainan “pasaran”.

Dia juga pernah mengubur anak ayam milik nenek hidup-hidup. Ku ingat pula suatu malam dia menangis ga henti-hentinya karena minta dibelikan jenang. Oleh bapak sudah dibelikan kemudian minta lagi karena masih kurang dan ternyata jenangnya sudah habis, maka diapun menangis sejadi-jadinya. Lumayan lama, sampai akhirnya karna ga kunjung berhenti menagisnya, bapak mengangkatnya dan dimasukkan ke bak kamar mandi setengah badan, lalu redalah tangisnya.

Waktu kami masih SD ibu membuat kue dititipkan di warun-warung dan juga kami bawa ke sekolah. Semua itu dilakukan untuk membantu bapak yang bekerja sebagai tukang jam diwarung jayeng di toko lek war. Suatu sore kita berdua disuruh ibu untuk mengambil piring jajan dan uangnya di warung. Ibunda menjanjikan akan memberi uang Rp.25 waktu itu. Akhirnya kitapun berangkat dan uang diberikan ke ibunda. Tetapi ketika dihitung ternyata uang yang diambil adikku dari warung mak sum masih kurang Rp.25 setelah dipotong untuk diberikan ke zulfa. Usut punya usut akhirnya ketahuan juga, ternyata adikku berbohong. Dia mengambil terlebih dahulu sebelum ibu memberikannya. Sungguh tak dapat kulupakan kemarahan ibu waktu itu ketika adikku berbohong. Ketika dimarahi tak sedikitpun zulfa menangis dia kalau dimarahi punya kebiasaan melotot matanya sehingga ibu tambah marah.

Kenangan lain adalah acara minggat (kabur dari rumah) bersama. Sore itu nenek marah-marah ke kita berdua gara-gara kita berdua waktu mandi nyebur bak kamar mandi dan ketahuan nenek. Ibu mungkin juga dalam keadaan tertekan ikut memarahi kami berdua dan keluarlah kata-kata pengusiran terhadap kami. “ora ngerti repote wong tuwek, wis nek ra manut ibue gak usah melok bue, minggat to kono!” Lalu akupun berunding dengan zulfa, “kita minggat aja yuk. Tapi kemana ya? Sudah sore mau maghrib lagi”. Akhirnya kami putuskan untuk minggat ke rumah adik nenek kami.

Dengan perasaan tidak bersalah kami bercerita pada lek munir bulik kami dan sekaligus teman sekelasku. Diapun senang-senang saja. Kuminta padanya untuk merahasiakan keberadaan kami dan alasan kami disini.

Akhirnya ketahuan juga, bapak menjemput kita berdua dan diajak pulang. Setibanya kami dirumah ibu sungguh lebih hebat marahnya..”sopo sing ngongkon dolan maghrib-maghrib. Wis surub barang panggah kelayapan ae. Sopo sing ajak-ajak? Mesti watik sing marai” akhirnya kami berdua saling menyalahkan. Karena aku anak pertama, maka ibu lebih menyalahkan aku. Tak ketinggalan cubitan itupun mendarat dipupu dan tanganku. Akupun menangis. Lalu ibu memintaku untuk ngaji. Akupun nurut saja. Sambil ngaji sambil nangis. Kalau ku ingat aku sering sekali ngaji sambil nagis karena dimarahi ibu gara-gara ga tanggap kalau diajari. Trima kasih bunda walaupun begitu alhamdulillah ilmu mengaji yang bunda ajarkan bermanfaat sangat bermanfaat dunia dan kelak di akherat.
Aku menghabiskan masa kecilku dengan zulfa kalau dihitung-hitung tidak lama dari dia masih bayi sampai usiaku 12 tahun. Karena setelah lulus SD aku mondok di Ponorogo, meskipun tidak kerasan.

Masa SMP adikku, aku tidak begitu banyak tahu. Tapi yang kuingat di usianya yang masih belia dia sudah mengenal peralatan kosmetik. Dan dia membelinya sendiri, seperti mascara, penjepit bulu mata dan lain-lain. Dia cukup pandai berdandan. Dan bahkan cita-citanya waktu itu pengen jadi model.

Semasa SMA pun kita jarang ketemu karena aku sekolah di kediri. Paling hanya seminggu sekali. Kuingat juga dia sangat berani mendekati cowok, atau pacaran. Diapun pengen ikut pencinta alam di SMAnya tapi tidak diperbolehkan oleh ibunda. Lumayan banyak yang naksir adikku. Termasuk orang yang paling kusuka di sekolahku juga naksir adikku gara-gara dia lihat foto yang ku bawa dari rumah. Adikku adalah tipe gadis yang murah seyum dan mudah akrab dengan cowok yang baru dikenalnya.

Kalau kuliah aku ga begitu banyak tahu sepak terjangnya, tapi yang jelas dia pernah cerita. Waktu itu dia bingung mau mutusin pacarnya atau tidak. Lalu dia siapkan surat untuk menyatakan putus, tapi karma tidak tega dia buat lagi surat sekedar minta maaf. Tapi apa yang terjadi. Surat yang diberikan keliru surat putus, ya sudah… akhirnya putus juga. Di hari wisudanya orang tuaku tidak datang. Hanya aku seorang yang menghadiri wisudanya.

Setelah kuliah dia nganggur. Cari pekerjaan sulit sekali. Akhirnya dia putuskan untuk daftar TKW ke malaysia lewat PJTKI di Surabaya. Waktu itu aku masih kuliah. Rasanya ga ikhlas kalau adikku harus jadi TKW. Ibuku pun juga demikian. Bukan karma jauhnya sih. Karma kwatir dengan zulfa kalau ga bisa jaga diri. Ternyata Allah bekehendak lain. Adikku tidak jadi berangkat ke Malaysia tetapi di rekrut oleh PJTKI untuk jadi tenaga administrasi. Alhamdulillah, sungguh Allah maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Kemudian masa kontrak kerjanya habis dan PJTKI tersebut hampir bangkrut. Adikku sudah menemukan pekerjaan baru masih di bidang yang sama tapi di Jakarta. Kemudian bertemulah dengan jodonya akhirnya menikah dan dikaruniai 3 anak. Meski akhirnya harus becerai.

Kalau ku perhatian luar biasa perjuangannya. Suami tidak menafkahi kurang lebih 2 tahun. Saat-saat anaknya sakit, butuh biaya sekolah, ataupun butuh biaya pengobatan dia hanya diam. Dalam keadaan tertekan jarang sekali dia menangis, kecuali kalau benar-benar tidak tahan. Masa-masa sulit itu membuat hatiku ikut sesak. Tidak tega melihatnya dan ponakanku, terlebih lagi ibundaku, yang mau tidak mau harus memikirkan nasib anaknya. Ku ingat betul apa yang pernah dikatakan bunda padaku. “Rasanya kesulitan yang kuhadapi dulu bersama ayahmu tak sebanding dengan keadaan adikmu sekarang tik, mungkin kalau aku tidak akan kuat” . sesungguhnya Allah telah menyiapkan bahu untuk bersandar ketika hamba-Nya diberi ujian atau cobaan.

Saat ini sudah hampir 2 tahun dan mungkin kontrak kerjanya juga sudah hampir habis. 2 tahun penderitaannya tanpa uang dan kiriman dari suami terbayar cash dari Allah. Meski harus dengan perjalanan malam berangkat dari nganjuk, kemudian pagi dini hari sampai Surabaya, menyebrang lautan untuk anak-anaknya. Medan yang ditempuh ke madura pun tidak mudah. Sungguh adikku yang pemberani. Ya allah mudahkanlah urusan dunia dan akheratnya, ampunkanlah dosa-dosanya dan terimalah amal ibadahnya. Jadikan anak-anaknya sholeh dan sholehah. Semoga Allah senantiasa melindungimu dan anak-anakmu.. Jagalah, dan didiklah anakmu baik-baik. Mereka lebih berharga dari uang yang engkau cari selama ini. Semoga Allah mempertemukanmu dengan pendamping baru yang mampu membantumu menjaga amanat dari Allah. Amin ya robbal alamin

Terima kasih dik telah bersabar dengan sikap mbak yang kadang keras dalam mendidik anakmu. Ku tahu jauh dilubuk hatimu yang paling dalam engkau tak suka aku berlaku seperti yang kulihat. Sungguh engkau ibunda yang sangat sabar. Semua yang kulakukan pada anak-anakmu bukanlah kebencian aku yakin engkaupun tahu itu. Mungkin aku kurang pandai dalam mengekspresikan cintaku, kasih sayangku pada mereka. Semoga kelak mereka juga mengerti bahwa tante sangat sayang pada mereka… semua. Nurut sama mama, tante, nenek dan kakek ya…!!!!