Sabtu, 14 Maret 2009

BETAPA ALLAH SWT MASIH MENGASIHI DAN MENYAYANGIMU



Muhammad Anwar Masduki nama yang indah pemberian kakekku. Waktu masih bayi pamanku ini tak pernah kenal kakekku. Apa lagi aku. Pak lek ku yang satu ini kalau aku boleh bilang (maaf ya pak lek) “takabur”, keren juga, gaul dan kadang juga dia merasa pendapatnya ga pernah terpakai kalau ada masalah atau acara reuni keluarga, mengobatkan nenek atau apapun dikeluarga besar kami. Tapi yang pasti baik hati dan tidak pelit, karena sering kasih uang saku aku dan adik-adikku, bahkan ibu atau bapakkupun kalau ngutang juga lumayan sering dipinjami.

Cerita dari ibundaku nih, “lek war” adalah adiknya yang tentu saja disanyangi dan lumayan dekat. Bahkan juga nurut ma ibuku. Demikian juga kata lek war, “mbak yuk ku sing paling tak sanyangi iku ibumu tik( kakakku yang paling ku sayangi itu ibu mu tik;red) ”

Waktu kecil, kata ibundaku, dia pernah main ketapel tanpa sengaja mengenai kepala anak tetangga sampai berdarah. Dan berujung nenekku kena marah alias “didamprat”. Kemudian di masa mudanya dia termasuk orang yang pemberani, lumayan sering adu jotos. Tapi bukan tanpa alasan, waktu tak sengaja dia menyenggol kendaraan milik tentara yang akhirnya berujung pada pengeroyokan terhadap pak lek ku. Dia dihantam habis-habisan sampai babak belur yang akhirnya berakibat fatal di usianya sekarang. Waktu itu, pak lek ku bisa melarikan diri tapi akhirnya mobil kepolisian menjemput dirumah dan pak lek ku dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Semua menangisi kejadian itu kecuali nenekku. Tapi, alhamdulillah karena ada kenalan saudara di kepolisian akhirnya pak lek ku bisa keluar dari tahanan.

Ku juga sempat menyaksikan kisah cintanya dan kemudian menikah dengan lek Andarini, dan sekarang berputra 3: dik ovie, dik yanti dan di ipang.

Sedikit mengenang “kejayaan pak lek ku” ketika memiliki toko. Toko yang dijalankan oleh pak lek ku semula adalah toko pak puh yan (ahmad sofyan). Karena kemudian usaha jual beli kendaraan pak puh berkembang pesat maka toko itu kemudian dikelola oleh pak lek ku; lek nan (ahmad amnan) dan lek war, yang akhirnya lek nan mampu membuka toko dari hasil jerih payahnya yang juga luar biasa. Dan akhirnya lek war lah yang mengembangkan toko itu hingga mampu membeli tanah, membangun rumah membeli mobil dan naik haji.

Barang dagangannya adalah kaset, tape, radio dan aneka jam baik asli maupun bajakan. Seiring perkembangan zaman kasetpun kurang diminati akhirnya berubah menjadi CD, CD player, televisi. Waktu itu aku juga sempat bantu di toko kalo liburan semester, begitu juga adikku. Dan sering kali pak lekku memberikan uang saku pada kita. Luar biasa perdangan CD bajakan waktu itu kita sampai kewalahan, laci sampai tak cukup untuk menyimpan uang. Karena yang asli tak laku di pasaran. Aku masih ingat betul kata-kata pak lek ku waktu itu;

Watik (aku) : “Semua ada masanya ya lek, dulu kaset begitu laris, sekarang ganti CD… suatu saat ganti apa lagi ya…”

Lek War : Ini ga akan berakhir tik, akan selalu ada dan terus seperti ini.

Ku hanya terdiam tidak lagi berkata apa-apa, hanya sibuk dengan pikiranku sendiri bahwa semuanya tidak ada yang abadi di dunia ini.

Akhirnya… hari itu datang juga… ada razia CD bajakan besar-besaran. Pak lekku akhirnya hanya menjual yang asli. Akhirnya tokonya tidak seramai dulu. Meski masih menyimpan bebarapa CD bajakan itu karena sudah terlanjur dibeli. Yang kemudian berakibat fatal sampai pak lek ku benar-benar kapok.

Kejadian penangkapan dengan tuduhan penjualan dan penyimpanan CD bajakan membawa pak lek ku harus ditahan selama 24 jam. Entah apa yang terjadi selama pak lek ku diatahan. Sebenarnya ketika sudah ada peringatan pak lekku tidak lagi menjual CD bajakan usahanya diganti denga penjualan HP pulsa dan aksesorisnya. Bahkan aku masih ingat betul HP jenis apapun pernah dimilikinya, begitu juga anak-anaknya. Apapun yang diminta anak-anaknya bisa langsung diperturutkan. Usahanya lumayan laku, meski akhirnya kalah bersaing dan seringnya pak lekku jatuh sakit. Tidak hanya itu saja, orang yang dipercaya pak lek untuk jaga tokopun sering sekali mengambil uang karena pak lekku tidak begitu memperhatikan dalam management keuangan tokonya.

1 tahun terakhir ini karena sakit yang hampir saja merenggut nyawanya… akhirnya toko itu tak lagi dibuka, tapi disewakan oleh pak lekku. Semua dagangannya habis untuk biaya pengobatan. Semua itu terjadi setelah pak lek pulang dari haji. Luar biasa Allah menguji pak lek ku. Dia harus dirawat ke semarang dan berganti-ganti rumah sakit. Tetap masih disyukuri…istrinya yang dulu sempat dibiayai pak lek sekolah dan jadi pegawai negeri masih mampu menopang kebutuhan hidup. Dimana anak-anaknya dimasa sekarang amat sangat butuh biaya sekolah. Dan ku masih ingat pula betapa pak puh Yan juga memikirkan penyakit adiknya serta mengusahakan pengobatannya dan bahkan biaya pun juga diberikan pak puh Yan. Sungguh Allah maha segala-galanya, sungguh tak satu pun yang luput dari kendali Allah… Pak Puhku yang juga akhirnya jatuh sakit, setelah lek war kondisinya membaik, akhirnya harus menghadap Allah terlebih dahulu. Semoga Allah membalas amal baikmu pak puh.

Setelah pulang dari semarang waktu itu pak puh belum meninggal, aku berkunjung ke rumah pak lek ku. Badannya yang dulu sangat kekar jadi kurus, nafasnyapun sangat melelahkan. Aku menangis disampingnya.. “nyapo nagnis lek war wis ga po-po(kenapa nagnis lek war sudah ga apa-apa)” katanya waktu itu meski matanya juga berkaca-kaca. Kemudian kami ngobrol panjang lebar…

Ku katakana pada pak lek ku betapa allah sangat menyayanginya. Untung saja lek War ga langsung di ambil nyawanya, untung saja istri masih mau merawatnya dan anak-anaknya masih bersamanya. Tetap masih banyak yang harus disyukuri. Ku katakana kalau harta masih bisa di cari lek, tapi kalo lek rin (istrinya) dan anak-anaknya yang di ambil kemana harus cari penggantinya.

Sekarang pak lek ku ini statusnya penganguran, hanya diam dirumah, karena tubuhnya tak sekekar dan sekuat dulu… kegiatannya hanya tunggu rumah dan insya allah berdzikir. Pak lek ku saat ini sangat menyadari kekhilafannya dan juga dosa-dosanya… ketika ku dengar curhatnya dari ibu; waktu di telpon sepupunya pak lek ku mencurahkan perasaannya saat ini dan mungkin juga perasaan “nelongso” : “saat ini saya tak punya uang sepeserpun, kadang mau makanpun saya ga berani minta, saya menyadari ga mampu lagi menafkahi istri, jadi kalau lapar kadang ku tahan. Kalau ditawari makan baru saya makan. Yang lebih menyedihkan kalau dulu aku masih tertidur anak-anakku mau berangkat ke sekolah membangunkanku dan berpamitan, sekarang… aku duduk di teraspun mereka tak menyapaku dan tak berpamitan padaku. Ku ingat dosa-dosa waktu dulu menyakiti ibuku. Kalau memang saat ini adalah hisab dari allah aku ikhlas menerimanya”

Ya Allah yang rahman dan rahim mudahkanlah urusan dunia dan akherat Lek War dan keluarganya. Berikan ketabahan dan kesabaran serta tinggikan derajatnya karena keikhlasannya menerima ketentuan-Mu ya Allah. Semoga di Ovi, dik Yanti dan dik Ipang tetap menyayangi bapaknya apapun yang terjadi. Ingatlah lapangmu dikala sempitmu. Karma susungguhnya kesenangan yang telah dilalui lebih lama dari pada sempitnya. Berikan kami sekuluarga petunjuk-Mu ya Allah… Amin Ya Robbal Alamin.

Yesterday is history

Tomorrow is mystery

Today is a gift

Semoga jadi anak yagn sholeh dan sholehah


Dear Fajar dan Rajwa…

Alhamdulillah hari ini usiamu sudah 2 tahun meskipun kalian belum cakap dalam bicara. Di usia kalian adalah masa yang lucu sekali. Kata-kata yang tidak sempurna terucap dari bibirmu . “mama”, te tik (tante watik), “nenek”, “kakek” dll, mengingatkan memori yang tak pernah ingat dimasa lalu tante. Tante mau bilang nih buat kalian berdua

Untuk Fajar jangan suka ngambek ya.. jangan suka gigit adek rajwa.

Untuk Rajwa jangan suka nangis kalo malem-malem kasian mama kan. Udah capek seharian urusin dik rajwa.


Tante doakan semoga menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Semoga umur kalian barokah dan senantiasa istiqomah di jalan Allah swt. Yang pintar ya, tante sayang sekali sama kalian. Tante minta maaf kalo suka marah-marah. Oya maaf juga ga kasih kado. Doa saja ya… ^_^

28 Desember 2009

Jumat, 13 Maret 2009

Bimbinglah kami mengemban amanah-Mu ya Allah




Anak adalah amanah dari Allah untuk para orang tua. Anak adalah permata hati untuk para ayah dan bunda serta generasi penerus keturunan keluarga. Rasanya sangat tidak mudah mewujudkan pengharapan untuk memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Kesabaran yang luar biasa amatlah dibutuhkan. Itupun tidak cukup, karena harus diikuti dengan ilmu agama dan kejiwaan dalam mendidik anak.

Anak-anak… oh anak-anak…, dunia yang unik, menarik dan penuh pengharapan serta banyak ilmu yang bisa didapat untuk refleksi diri di masa kecil. Tapi sayangnya itu hampir tidak pernah dilakukan. Sering kali keinginan kita yang dipaksakan pada anak, kita membandingkan masa kanak-kanak kita dengan anak-anak sekarang, yang sungguhnya sangaatlah berbeda. Mereka tidaklah akan bisa hidup di masa kita, tapi mereka harus terus berusaha sekuat tenaga untuk mengahadapi hidup yang lebih sulit di masa yang akan datang.

Apalagi kalau sudah bicara tentang kekerasan. Apakah ada bedanya kekerasan pada anak yang dilakukan orang tua kita dulu dengan orang tua sekarang??? Kalau ku pikir-pikir yang membedakan adalah aturan sekarang lebih terekspose dari pada dulu. Kalau kuingat masa kecilku, orang tuaku tak jarang mencubit,dan memukul karena tak tahu waktu, karena tak sholat, karena berbohong, karna berbicara kotor dan masih banyak sekali karena… supaya aku menjadi anak sholehah. Adikkupun pernah diceburkan ke bak mandi ba’da isya, karena serakah dan tamak. Akupun pernah dipukul tanganku hingga berdarah karena membuat ibuku kesal dan akhirnya ibuku tak sabar lagi. Tapi setelah semuanya itu, setelah aku seusia sekarang aku benar-benar bisa merasakan betapa sulitnya menjadi orang tua yang mampu mendidik anak untuk berbuat benar dan mengikuti ajaran agama. Sungguh ya Allah baru sedikit ilmu yang kupunya untuk mendampingi anak-anak itu.

Ketika emosi itu datang yang ada adalah teriakan, makian dan bahkan pukulanpun bisa melayang lewat sapu, sulak, atau benda apapun yang ada disekitar. Setelah itu penyesalan, terlebih lagi jika si anak sudah diajak bicara berulang kali, diingatkan tak kunjung ada perubahan, nasehat dari situasi yang sangat tenang, anak mendengarkan dengan baik, bicara pelan, berbagai teori pelatihan juga diterapkan, setelah semua itu dilakukan, namanya anak tetaplah anak, dan orang tua tetaplah orang tua. Yang terus saja mengemukakan otoritasnya untuk bisa membuat anak-anak mengerti apa yang kita mau dengan cepat bukan kita yang mencoba megerti apa yang mereka mau dengan banyak bersabar. Anak-anakpun kembali berbuat sesuatu yang kadang tak mereka mengerti meski sudah diberi pengertian. Mereka tetap anak-anak yang punya masa, dan masa untuk mengerti itu saatnya akan datang, entah kapan??? “kapan” inilah yang membuat orag tua tak sabar. Keinginan anaknya supaya bisa tanggap dan mengerti apa yang dikatakana dan mengerti dengan cepat, membuat orang tua suka marah jika mereka tidak cepat tanggap. Belum lagi faktor lain yang sering kali mempengaruhi, capek, orang tua yang bercerai dan keadaan ekonomi sering kali mengorbankan anak-anak.

Ya Allah sungguh dhoif sekali hamba ini. Kenapa kemarahan yang ada, kenapa??? Rasanya tak kuasa hati ini menahan amarah itu, ketika tak mampu membuat anak itu mengerti. Apa kata orang dilakukan dari yang halus sampai yang keras. Astaghfirullah hal adzim… kenapa tak kumintakan petunjuk pada-Mu ya robb. Sepertinya ikhtiar lahir benar-benar sudah membuat lelah hati dan pikiran, ya Allah ampunilah kami para orang tua yang tak sanggup menjaga amanah dengan kesabaran, ku mohon petunjk-Mu ya Allah. Bimbinglah kami kuatkan hati kami membimbing amanah dari-Mu agar kelak mereka menjadi hamba-hamba-Mu yang mampu menegakkan ajaran rosulullah dan agama yang Allah ridhoi. Agar kelak mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang mencintai kedua orang tuanya sampai akhir hayat. Ya Allah telah engkau saksikan ihtiar kami untuk menjaga amanah-Mu meski dengan kemarahan. Jadikan kemarahan kami menyadarkan mereka bahwa kami orang tua sangat mencintai dan menyayangi mereka. Fauzan, Tia, Fajar dan Rajwa… Tante sangat sanyang pada kalian. Meski tante tak pandai bersikap dengan lemah lembut. Doakan tante semoga senantiasa di beri kesabaran untuk mendampingi menjadi hamba Allah Ar-Rahman Ar Rahim.

Kamis, 11 Desember 2008

Dimanakah "Soulmate" ku ya Allah?

Rasanya ketika waktu “pertemuan” belum tiba, adalah lama menanti yang membuat gelisah. Kadang kala ku coba untuk menenangkan hatiku. Kenapa harus gelisah, kenapa harus khawatir? Toh semua sudah ditentukan oleh Allah swt. Iya, aku tahu lahirku, rezekiku, jodohku (soulmateku), matiku, semua sudah ditentukan oleh Allah. Aku hanya menunggu dan menunggu. Tapi dalam menunggu tentu saja ada sesuatu yang harus ku lakukan yaitu “ikhtiar”.


Ikhtiar yang ikhlas tanpa berharap balas agar keinginan terwujud memanglah sangat sulit. Dengan berbekal kenyakinan bahwa Allah akan mengabulkan semua doa hambanya, maka ku yakin tidak berhasilnya ihktiar yang dilakukan adalah bukan berarti tidak terwujudnya apa yang kita pinta pada allah. Pasti Allah punya ketentuan yang lebih baik dari pada tujuan yang ingin kita capai melalui ikhtiar-ikhtiar yang sering kali dilakukan dengan pamrih.


Ikhtiar dalam mencari soulmate adalah suatu keharusan. Kalau dihitung dari rencanaku di usia 22 menikah, maka sudah 10 tahun keinginan itu belum terwujud. Kemudian selama 10 tahun terakhir ini banyak hal yang bisa aku lakukan terutama untuk keluargaku. Sering kali akupun mensyukuri kesendirianku untuk menjadi “a happy single”. Tapi itu bukanlah mimpiku. Menikah menjalani sunah rosul, tidak mau menjadi orang miskin di akherat kelak adalah keinginanku.


Bukannya tidak ada yang mengusahakan, bukannya tidak ada yang mau membantu bukannya pilihan terlalu tinggi dan bukannya tidak mau menikah. Demi Allah aku sangat mau menikah. Tapi bukan berati karna ingin segera menikah lantas asal mau dengan siapa yang dikenalkan., dan memang saya harus memilih pasangan hidup yang sesuai dangan hati saya dan cocok satu sama yang lainnya. Lagipula menurutku menikah adalah ikatan yang kuat dan suci yang diberkahi Allah dan untuk selamanya.

Maka dari itu saya harus memilih dengan mengajukan pilihanku pada Allah. Hasilnya… Allah yang maha menentukan dan semoga aku kelak diberi kekuatan untuk menerimanya. Aaaaaaaamiiiiiiiiiiiiin^-^.

Kalau ditanya seperti apa suami yang diinginkan, jawabanku hanya satu; suami yang mampu membimbingku untuk senantiasa istiqomah di jalan Allah dan menjali sunnah rosullullah. Dibalik itu semua ada banyak hal yang bisa direfleksikan. Sulit memang, tapi komitmen itu insya allah bisa diwujudkan bersama-sama, maka akan terasa ringan. Amin ya Allah.


KadangSering kali ku bertanya pada Allah ; Ya Allah dimana jodoh yang telah Engaku tentukan untukku? Andaikan ku tahu akan ku jemput dia dan memintanya untuk segera melamarku. Wahai Abdullah (hamba Allah) yang telah ditakdirkan untukku, ku yakin engaku juga tak tahu apakah aku adalah jodoh yang telah ditentukan Allah untukmu? Dan ku yakin tentunya engkau juga menanyakan dimana aku. Semoga kita punya munajat doa yang sama, agar Allah beri kemudahan untuk mempertemukan kita dalam waktu dekat ini. Amiiiiiiiiiiiiiiiin ya Allah..


Bundaku sayang, ku tahu doamu pun tak pernah putus untukku. Semoga waktu yang ditentukan Allah untuk menantu yang ibunda harapkan tidaklah lama. Sabar ya bunda, begitu juga aku. Meskipun ternyata kematian yang harus mendahului semua itu. Apa yang bisa ku perbuat kecuali pasrah dan memohon agar dosa-dosaku diampuni. Yang penting aku sudah berkeinginan lillahi ta’alla


Beri hamba kekuatan ya Allah untuk menghadapi segalanya dalam sisa hidup hamba…

Berikan hamba dan keluarga senantiasa dalam lindungan-Mu, maghfiroh-Mu, rahman dan rahim-Mu serta petunjuk-Mu.

Jadikan kami semua orang yang beruntung dunia dan akherat.

Kumpulkan kami semua dalam surga-Mu dan ku mohon bimbingan-Mu ya Allah.

Senin, 20 Oktober 2008

My Dearest Father


Bapak....
Sepertinya masa kecilku bersamamu tak akan pernah terulang kembali...

Aku bahkan tak mengingat lagi kapan foto ini diambil... tapi ku bisa melihat senyummu yang tampak bahagia dan penuh harapan padaku kelak...
Bapak...
Kutak samggup menghitung peluh yang telah kau teteskan, sampai kudewasa ini... Sering kali menuntut dan menuntut tampa mampu memberi banyak rasa terima kasihku padamu..
Bapak Terima Kasih...
Bapakku sayang..
engkau adalah sangat penyabar sekalipun Allah menahan rezeki untuk keluargamu...
engaku tak marah.. sekalipun kami menuntutmu disaat sulit..
Bapakku sayang...
Semoga Allah senantiasa mudahkan urusan dunia dan akheratmu..
Jangan lupa usia yang semakin tak tentu batas akhirnya..
Tetaplah bertawakal dan bersujud kepada allah..
Bapak kami semua sayang padamu.

IBUNDA I LOVE YOU


IBUNDA,…..

Kehangatan yang pernah ku rasakan difoto itu tak pernah ku ingat rasanya…

Tapi bukan berarti aku lupa pada semua yang telah ibunda berikan padaku…

Ananda tahu dari foto itu terpancar kebahagian di raut wajah ibunda ketika menggendong ananda. Pasti ibunda saat itu sangat lelah karma ulah ananda.

Pasti saat itu Ibunda banyak sekali mengucap doa pada allah…

Ya Allah jadikan anakku ini anak yang sholehah

Ya Allah jadikan anakku ini anak yang berbakti pada orang tua.

Ya Allah jadikan anakku ini anak yang senantiasa mengagungkan nama-Mu

Ya Allah berikanlah kehidupan yang terbaik untuk anakku dunia dan akheratnya.

Ya Allah……

Dan banyak lagi doa-doa terucap dari bunda sampai saat ini..

Hidupku terasa ringan ketika ibunda mendoakanku dan memberiku ridho..

Ibunda…Ketika ku lihat engkau bersujud di tengah malam..

Rasanya ananda ingin bangun terjaga dan bersujud mengikutimu

Tapi mengapa juga mata ini terpejam.. badan ini tidak mau beranjak dari tidurku

Ibunda rasanya ingin sekali ananda memelukmu erat-erat dan duduk dipangkuanmu sepuasnya dan tak kan melepaskanmu ketika ananda galau.

Ibunda rasanya ingin sekali ku bisa menenangkanmu dikala engaku gundah seperti engkau menenangkanku.

Ibunda rasanya ingin sekali apa yang kupunya ku berikan pada bunda termasuk nyawa ini asal bunda bahagia…

Ibundaku sayang rasanya dunia ini runtuh ketika melihatmu meneteskan air mata..,

Ibundaku Jangan engkau menangis…

Ibunda rasanya duniaku gelap ketika melihatmu marah…

Ibunda jangan marah ya.. maafkan ananda

Ibunda terseyumlah…. Ananda akan membahagiakan ibunda..

Ananda sangat sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaang sekali padamu..Ibu

Ibunda kelak kalo kita pulang ke kampung akherat.., ananda berharap kita bisa berkumpul kembali…

Ya Allah beri kami kekuatan untuk membahagiankan ibunda melebihi kekuatan ibunda membahagiakan kami

Ya Allah berikan kami sekeluarga yang terbaik untuk kebahagian ibunda

Ya Allah mudahkan kelak jalan ke kampong akherat untuk kami sekeluarga.

Amin Amin ya Robbal Alamin..


SAMPAI JUMPA DI KAMPUNG AKHERAT PAK PUH


Sampai Jumpa di Kampung Akherat Pak Puh Ahmad Sofyan

Nganjuk, Ramadhan ke 28, 28 September 2008.

Ahmad Sofyan adalah kakak ibuku..

Beliau memiliki perjalalnan hidup yang bisa dibilang sangat sukses dan selalu lebih baik. Cerita kehidupan beliau yang ku dengar dari bunda tercinta, pak lek Nan dan Budeq Marfuah almarhumah sangat luar biasa…


Kegigihannya patut dijadikan contoh.

Kisahnya tentang ketidak sanggupan nenek membiayai sekolahnya menjadi tangis pilu budeku tersayang yang waktu itu sekolah di PGA. Cerita bunda tentang seragam sekolah pak puh dari karung goni compang-camping yang ditambalkan ibundaku membuatku lebih bersyukur dengan keadaanku waktu di MAN 3 yang masih bisa sedikit bergaya meski sama-sama punya melalui hal yang terberat juga. Pak puhku menjalani bisnis pertamakali dari adik nenekku yaitu belajar tukang alroji. Kemudian beliau menjadi maklar tukang alroji lalu meningkat menjadi jual beli sepeda, cerita pertama kali membeli sepeda motor bliau membonjeng nenek dengan maksud mengajak jalan-jalan keliling ploso, tapi apa yang terjadi, bliau tidak tahu kalo nenek jatuh tertinggal dijalan. Kemudian bisnisnya meningkat lagi yaitu broker motor dan mobil sampai sekarang. Usahanya diturunkan ke putranya nomer 2 mas andik yang juga bisa dibilang suksek.


Sekarang ....

Semuanya seolah harus mananti berita duka yang pasti akan terjadi padanya dan kelak padaku dan seluruh keluargaku. Satu persatu semua harus pulang kampung dan mengantri, hanya waktu panggilan yang kita tunggu.Pak puhq jatuh sakit 1 bulan terakhir ini...

Pertama kali ku besuk di ruah sakit Dr. Sutomo nganjuk, bliau peluk erat ibundaku, menangis sejadi-jadinya dan berkata”Piyeki Ib, aku ga iso opo-opo, Tanganku ga iso diobahne rono” (gimana ini aku ga bisa apa-apa, tanganku ga bisa kesana). Aku paling tidak bisa menahan air mata dan ku keluar dari kamar inap. Ya allah akan tiba hari nulut terkunci kata tak ada lagi. Ya allah akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita. Erkata tangan kita tentang apa yang dilakukakannya. Berkata kaki kita kemana dia melangkahnya...


Sekarang adalah fase diman pak puhku bergulat dan meunggu waktu yang tepat untukmenghadap sang Khalik, sekarang bliau hanya bisa memjamkan mat dan membuka sesaat dengan pandangan kosong seperti bay yang baru dieluarka dari rahim ibunya. Di rumah sakit slamet ariyadi semarang bliau tak berdaya.. hanya maunah dari allah yang bisa menjadikan pak puh kembali sehat dengan ikhtiar keluarga.

Ya allah berikan hamba dan keluarga hamba kemudahan dalam menjalani kehidupan dan hidup setelah mati.

Pak puh trima kasih atas semua bantuan yang pernah pakpuh berikan pada ibunda bapak dan adek-adek. Semoga menjadikan pahala yang menerangi penjalan pulang pak puh. Maafkan kami sekeluarga yang tak mampu membantu lebih kecuali doa yang bisa kami panjatkan pada Allah semoga pah puh diberi kemudaha untuk menghadapi detik-detik terakhir kebersamaan pak puh bersama kami samua.. Ya allah jika boleh hamba memohon hamba ingin pak puh menyaksikan pernikahanku dan kunantikan kebersamaan keluarga kami bani makhali.


Jum’at 3 Syawal 1429 H/ 3 Oktober 2008

INNA LILLAHI WA INNA ILLAIHI ROJI’UN

Kediaman Pak Puh Yan

Kami sekeluarga dan tean-teman beliau sibuk menyiapkan kedatangannya dari semarang.

Ku perhatikan semua yang ada di rumah sebesar ini... ada banyak kamar-kamar kosong, ada mobil dan banyak lagi harta benda di dalam rumahnya..

Pak Puh dan satupun tak ada yang pak puh bawa.

Ya Allah akhirnya di hari yang fitri ini Allah memanggil pak puh Yan untuk menghadap, dan berlebaran dengan bu puh marfuah, pak puh awi mbah mahali, mbah yati dan saudara-saudara yang telah berada di kampung akherat lebih awal.

Tak kan ada lagi lebaran bersama pak puh yan..

Selamat jalan pak puh sampai jumpa di kampng akherat.

Ya Allah kumohonkan pada-Mu, terimalah semua amal kebaikan pak puh sebagai ole-oleh yang telah dipersiapkan untuk-Mu

Ya Allah ku mohonkan pada-Mu ampunilah semua dosa-dosa pak puh Yan.

Amin ya Robbal Alamin.