Selasa, 25 Agustus 2009

RAMADHAN 1430H


Dari tahun ke tahun ramadhan selalu berubah… suasananya maksudku. Orang-orang yang ada disekitar kita, kegiatan beribadah kita, bahkan menu makanan juga bisa jadi berubah seiring dengan semakin sulitnya jangkauan kebutuhan hidup. Harapannya sih senantiasa lebih baik. Bahkan kadang pertanyaan yang diucapkan di awal dan diakhir ramadhan selalu sama. “Apakah umurku sampai dipenghujung Ramadhan yang akan datang ya?”, “Apakah ini ramadhan terakhirku ya?”, “Apakah Ramadhan tahun depan aku masih bersama dengan keluargaku ataukah sudah dengan suamiku?” ya karena aku belum menikah jadi pertanyaan itu juga sering muncul di setiap bulan ramadhan….
Masih kuat di dalam ingatanku… setiap kali ramadhan ibu selalu menawarkan “Srondeng plus dendeng daging sapi” untuk kakaknya tercinta “Pak Puh Yan”. Tapi tahun ini ibuku tidak membuat tawaran itu lagi.. walaupun begitu ibuku masih membuatnya. Tidak lagi untuk kakanya. Tapi untuk keluarga yang lain. Ya .. siapa yang tahu, ramadhan tahun lalu adalah ramadhan terakhir untuk pak puhku. Beliau sakit selam ramadhan dan meninggal beberapa hari setelah lebaran…aku masih sempat memjenguknya. Adik-adiknya pun juga sempat datang ke RS disemarang pada hari-hari terakhir bulan ramadhan.
Ramadhan demi ramadhan memang selalu berubah… akupun tidak ingat betul hijriyah keberapa perubahan mulai terjadi, sepertinya sudah 10 tahun terakhir ini. Berawal dari Pak puh Nahrowi yang meninggal entah pada tahun hijriyah keberapa, lalu nenekku, kemudian bu de marfuah 5 tahun yang lalu, disusul pah puh Yan setahun yang lalu. Semuanya “waiting list” untuk “mudik di kampong akherat” termasuk aku. Semakin berkurangnya usia… rasanya semakin dekat saja waktunya untuk menghadap Sang Illahi Robbi. Bagaimanapun senang, susah, mudah atapun sulitnya… sisa hidup tetaplah harus dijalani….

Dalam kesempatan yang masih diberikan oleh Allah.. sebagai manusia tetaplah harus memiliki berbagai macam harapan, doa dan ikhtiar yang harus dilakukan. Semua itu diperuntukkan demi mendapat ridho Allah, kebahagian dunia dan akherat…
Ya Allah di Ramadhan tahun ini kembali hamba menengadahkan tangan untuk mengutarakan isi hati sebagai doa permohonan hamba kepada-Mu…
Ya Allah hamba memohon ampunilah dosa-dosa hamba, bapak, ibu, adik-adik, dan keluarga hamba, serta seluruh kaum muslmin dan muslimat di dunia dan akherat, dosa yang telah kami semua lakukan di masa lalu hari ini dan yang akan datang.
Ya Allah hamba memohon terimalah amal ibadah hamba, bapak, ibu, adik-adik, dan keluarga hamba, serta seluruh kaum muslmin dan muslimat di dunia dan akherat, amal ibadah yang telah kami semua lakukan di masa lalu hari ini dan yang akan datang.
Ya Allah mudahkanlah urusan dunia akherat hamba, mudahkanlah urusan dunia akherat bapak, mudahkanlah urusan dunia akherat ibu, mudahkanlah urusan dunia akherat adik-adik, dan mudahkanlah urusan dunia akherat keluarga hamba, serta mudahkanlah urusan dunia akherat seluruh kaum muslmin dan muslimat di dunia dan akherat… Amin Allah humma Amin….

My Wise Uncle...


Pamanku yang satu ini, paling enak diajak bicara, bercanda dan dimintai nasehat. Pokoknya kalau diajak “petung” enak deh. Hampir seluruh keluarga ibuku kalu punya masalah mesti minta pertimbangan n ngajaknya bicara. Aku dan adik-adikku memanggilnya Lek Nan.
Kisah hidup masa mudanya juga tidak kalah serunya dengan pak puhku “Pak Sofyan”. Ibu dan bu puh sering kali menceritkan kisah hidupnya dimasa kecilnya dan masa mudanya padaku dan juga adik-adikku. Bahkan kalau aku ngobrol dengan lek nan, bliau juga sering menceritakan kehidupannya di masa lalu. Sekarangpun kalu kita saling berkunjung masih cerita tentang anaknya, atik dan alfin (adik sepupuku).
Istrinya Lek Nur, orangnya juga asyik buanget deh… kita juga sering ngobrol masalah keluarga, apa yang telah di laului waktu dulu. Kalu kita ketemu betah deh ngobrolnya. Lek nur orangnya fair dan terbuka sekali. Kita sering sharing bagaimana menghadapi hidup dan persoalannya. Aku bersyukur punya bu lek yang asyik-asyik dan tidak pelit juga. Waktu aku kuliah dulu aku juga sering dijatah/diberi uang saku sebulan sekali sama lek Nur. Sampai-sampai lek nan bilang ke lek nur ngingatkan kalau ponakanya tidak hanya watik. Tesanjung juga aku disayang sama bu lekku dan bu puh ku.

Kalau aku menilai, keluaraga lek nan adalah keluarga yang paling tenang dan aman-aman saja. Tak pernah terdengan ada masalah. Kehidupannya juga selalu ada peningkataan dan perubahan yang semakin membaik. Ibarat perusahaan, menegementnya buagus.
Dulu waktu muda lek Nan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, dia ingin jadi orang yang berhasil. Sebenarnya kalau mau bliau juga bisa jadi guru. Tapi ternyata guru bukan pilihannya. Cerita yang aku ingat tentang perjalanannya adalah lek nan hanya jadi tukang cat di Jakarta, tapi dia bilang baik-baik saja, sampai akhirnya tidak mampu bertahan lagi dan tidak punya uang sama sekali, hanya permen karet dimulutnya untuk menahan rasa lapar, akhirnya beliau pulang ke jawa dengan nebeng truk.
Kemudian sepulang dari Jakarta pak lek ikut membantu pak puh yan di kios jam tangan dan kaset yang yang baru saja dibuka di pasar warung jayeng. Pak lek ku rajin sekali menabung dan orang nya kreatif. Akhirnya dari hasil tabungannya bliau mencoba buka toko elektronik dan kaset sendiri. Yang kemudian toko pak puh yan dikembangkan oleh lek war. Pak puh sendiri usahanya sudah mulai berkembang di jual beli automotif.
Hari demi hari usaha lek nan lumayan maju. Jadi di pasar warung jayeng itu ada toko kaset, jam dan elektronik yang dikembangkan oleh lek nan dan lek war. Waktu itu seingatku dua pak lek ku ini belum menikah. Kemudian aku ingat lek nan akhirnya menikah dengan lek nur dan dikaruniani anak putrid pertama atik.
Waktu itu aku masih kecil jadi belum begitu bisa ngobrol dengan pak lek n bu lek ku seperti sekarang. Setelah aku dewasa aku sering sekali mendapat cerita tentang pengalaman hidup mereka. Bahkan mereka juga menceritakan masa kecil mereka dengan ibuku, kehidupan ibuku yang menurut pak lek ku hampir tidak pernah bahagia. Selalu menyedihkan.
Kalau aku ingat cerita lek nan aku bersyukur sekali dengan keadaanku sekarang yang jauh lebih baik. Meski mungkin tak sebaik keluarga ibuku yang lain dalam masalah materi. Kalau aku boleh bilang, ibuku paling miskin diantara keluarganya. Dan alhamdulillah keluarga ibuku tak satupun yang memandang sebelah mata. Semuanya sering kali membantu dari sisi materi. Aku bersyukur sekali. Karena mereka dulu sama-sama susah. Bu puhku marfuah, pak puh yan, lek nan, lek war dan lek titin, mereka semua sangat sayang sekali dengan aku adik-adikku ibuku dan bapakku juga. Sering kali mereka mengungkapkan kasih sayang mereka dengan tetesan air mata. Kalau mereka bisa memberikan dunia ini untuk ibuku mungkin akan diberikannya. Makanya kenapa aku selalu berusaha membahagiakan ibuku, termasuk keinginanku memiliki suami yang mampu membahagiakan orang tuaku.
Lek Nan sangat dekat dengan semua keluaraga. Silaturahmi dan sifatnya yang suka menolong selalu menjadikan keluarga ini hangat dan erat. Kisah cintanya denga lek nur juga menjadikan pelajran untuk ku. Lek nur sering cerita, bagaimana bliau mau menerima lek nan sebagai suaminya, dan merasa sangat beruntung tidak menolaknya.
Usaha tokonya semakin hari juga semakin maju. Dulu rumahnya terpisah dengan tokonya, kemudian sekarang toko dan rumah sudah jadi satu. Kekhawatiran yang pernah dirasakan dalam membesarkan putri-putrinyapun juga memberikan pelajaran berharga padaku. Mereka kadang juga pernah meminta pertimbanganku, meski pendapatku biasa-biasa saja tapi mereka tidak segan untuk bertukar fikiran. Pokoknya aku merasa beruntung punya paman dan bibi seperti lek nan dan lek nur.
Alhamdulillah satu bulan yang lalu pamanku mendapatkan keluarga baru alias menantu untuk putri pertamanya. Ketika ku abadikan dengan cam-record matanya yang berkaca-kaca seiring dengan lantunan sholawat nabi, membuatku tak kuasa menahan tangis haru, momen yang paling indah bagi orang tua dan anak gadisnya. Seperti keinginan ibundaku yang entah kapan akan terwujud. Semoga untuk adikku tercinta TITA aku memanggilnya semoga memiliki keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Semoga juga krasan tinggal di kendari bersama suami. Semoga juga lek nan segera mendapatkan cucu pertamanya.

Selasa, 18 Agustus 2009

ZITNI RACHMAWATI


Namaku zitni rachmawati, sesuai dengan akta kelahiranku aku terlahir pada tanggal 21 juni 1976. tapi aku lebih suka menulis namaku dengan huruf “d” dibanding “t” zidni dalam bahasa Indonesia artinya “tambahkanlah aku”. Keluargaku memangilku dengan nama “Wati” kalua jawa biasanya “watik”. Aku lahir di nganjuk. Tidak banyak yang aku ingat waktu aku masih kecil, meskipun demikian ada beberapa hal yang sangat membekas dihati dan ingatanku.

Sebagai anak pertama, kadang beban keluarga yang kurasakan sangatlah berat. Aku harus lebih tegar ketika ibu berkeluh kesah dalam menghadapi persoalan hidup yang kami miliki.

Lekat sekali dalam ingatanku, ketika ibu mencoba membantu bapak menambah inkam keluarga dengan membuat kue donat. Waktu itu baru pertama kalinya ibu mencoba resep yang didapat dari bu puh. Dicetaknya adonan itu kecil-kecil. Ibu bilang adonan ini akan mengembang menjadi besar, jadi kita tunggu aja. Sholat isya aja dulu. Lalu setelah sholat kulihat adonan itu tidak bertambah besar. Lalu ibu mencoba mengaduk lagi adonan yang udah dicetak. Sampai tiga kali. Mungkin kalau adonan itu bisa bicara, pasti merasa kesakitan, diaduk dipipihkan pake botol, dicetak pake gelas, dicampur lagi diaduk lagi berulang-ulang. Akhirnya ibu bilang, kalau ini tetap tidak bisa mengembang ya sudahlah.. kita buang saja adonan ini. "Jangan bu kita kita cetak besar aja, kataku.Akhirnya ketika adonan itu digoreng menjadi sangat besar, ibu tidak jadi membuang adonan donat.

Sebenarnya tidak hanya donat, waktu itu ibu bikin ketan putih yang ada bubuk kedelai, ketan hitam dikemas dengan daun, timus, kripik tempe, stik, cis, pisang molen, madu mongso, roti selai, krupuk puli. Pokoknya buanyak deh …. Ibuku jago masak. Masakannya luar biasa eunaknya… aku sering bawa kue itu ke sekolah atau kalu tidak ke warung-warung. Kadang bebrapa guru SD ku juga pesan. Lumayan lama ibuku berjualan kue. Kalau waktu aku sekolah di pondok, sepertinya ibu sudah tidak jualan lagi, hanya memproduksi krupuk puli sampai aku SMA.

Kebetulan kami sekeluarga tinggal bersama nenek. Nenek ku penjual nasi pecel dan bubur yang paling eunak di ploso, sayangnya ibu tidak mau melanjutkan usaha nenekku. Ada juga yang kost waktu aku SD. Anak-anak yang sekolah di SMA 2 Nganjuk. Kebetulan rumahku dekat dengn SMA 2 ngajuk. Ibu akhirnya menghentikan penjualan kue dan buka warung kecil di rumah nenek sambil memasakkan anak kost.

Banyak sekali cerita-cerita dikala kami tinggal bersama nenek. Nenek pun juga sering cerita bagamana kehidupan ibu dan masa kecilku dulu yang belum tahu apa-apa. Apalagi waktu ibu menikah dengan bapak, bapak belum punya pekerjaan. Tapi nenekku mencoba membujuk lek war anaknya yang juga adik ibuku untuk memberi tempat di toko kasetnya membuka kios reparasi jam.

Aku ingat ketika nenek cerita, bahwa beliau dengar kalau bapak ingin membelikanku anting emas karena kebetulan bapak dapat rezeki. Waktu itu nenek senang sekali mendengarnya, menantunya sudah bisa membelikan perhiasan emas untuk anaknya.

Ibuku sendiri juga pernah cerita bagaimana kehidupan kami, waktu aku dan adikku zulfa masih kecil di daerah ngawi. Aku hampir tidak ingat itu. Tapi ketika ibu cerita kurasakan kesedihan yang amat sangat mendalam… Ibuku ga berani utang tetangga. Waktu itu bapak tidak punya uang sama sekali, pekerjaan bapak di ngawi adalah seorang penjahit. Bapakku jago membuat pakaian. Tapi saat itu tidak ada jahitan. Tiba-tiba adik ibuku lek nan datang membawa beras dari nenek. Lek nan juga pernah cerita hal yang sama. Saat lek nan datang keadaan sudah mulai gelap dan hujan deras, kalau beliau ingat saat itu, beliau sangat kasian melihat aku dan adikku tidur di atas dipan tanpa kasur, hanya berselimutkan sarung… kata ibuku waktu kami tidak punya makan kami sering diberi ketela rebus oleh tetangga. Kadang tetangga kami juga memberi beras ibu.. karena kondisi ekonomi tidk semakin membaik maka ibu memaksa bapak untuk pulang ke nganjuk. Akhirnya tinggalah kami dengan nenek, kemudian kami punya adik satu lagi, ida namanya. Kemudian akupun punya kesempatan untuk sekolah.

28 tahun yang lalu aku sekolah di tk “Roudhotul Atfal” yang sekarang nama TK itu adalah TK Khodijah 1. Tempatnya berada di juwet belakang pasar wage nganjuk. Aku ingat temanku waktu itu kebanykan cowok namanyapun aku masih ingat, ada rudi, rico dan frans, yang cewek cuma ridha anak teman ibuku dan mbak nunik yang kebetulan masih saudaraku.

Ku ingat nama temen2ku tk yang cowok karena mereka cakep-cakep ^_^. Dan yang membuat aku ingat lagi mereka naksir adikku. Ada yang bilang… nanti kalau aku mau ngenalin adikku ke mereka maka aku akan dipinjamkan ayunan tak peduli siapapun yang sedang memake tinggal bilang saja. Lucu juga zaman dulu sudah ada sogokan seperti iyu. Sebenarnya semuanya sama saja dan ada dari zaman ke zaman. Kejadiannya sama yang membedakan hanya waktu dan pelakunya saja.

Waktu karnaval 17 Agustus, aku jadi bu tani, akupun pernah menari di kabupaten nganjuk. Aku juga ingat ketika adikku ngompol aku dipanggil ma bu guru untuk menenangkannya. Ah sungguh indah waktu itu karena aku belum kena hisab atas dosa-dosaku.

Sebagai seorang kakak dimasa kecil aku sudah terlihat suka ngatur adik-adikku. Aku juga senang sekali mengajak mereka bermain bersama. Dan kalau main adikku sering nangis karena selalu kalah. Tapi kalu berantem adu jotos ma adikku aku yang sering kalah. Zulfa dari kecil memang sudah tampak kuat n tahan banting. Meski pernah juga sih kejang di tengah pintu, karena kangen sama bapak yang tidak kunjung pulang dari Jakarta. Setiap sore, sehabis mandi, zulfa selalu duduk di tengah pintu nungguin bapak kalau-kalau pulang dari Jakarta.

Masa SD lumayan lama 6 tahun banyak juga cerita yang masih aku ingat. Waktu kelas satu sama ibuku ranbutku dikepang satu. Pernah suatu hari aku mainan bed yang bisa ditutup dan dibuka. Aku berusaha menutup bed itu sendirian yang terjadi tanganku terjepit dan tepotong sedikit.

Kemudian kelas dua aku sempat berantem dengan agus. Dia menamparku lalu aku menangis. Kelas tiga aku ingat temanku yang menghafalkan puisi anak gembala pipis di depan kelas. Ku juga ingat guru IPA ku marah dan melemparkan blok katrol ketika bliau menerangkan pelajaran muridnya tidak ada yang paham ketika diberi pertanyaan. Aku yakin semua temanku satu kelas ketakukan. Bliau termasuk guru yang sering sekali “ngenyek muridnya”. Melarang muridnya tertawa kalu belum gosok gigi. Ih… seru juga deh kalu ingat. Satu lagi guruku yang kiler waktu itu guru matematika. Bliau hanya suka sama anak-anak yang pinter saja dan menyanjungnya setinggi langit.
Kemudian kelas emapat aku sempat mengalami kebutaan. Menurut medis aku terkena katarak. Menurut kakekku aku terkena sawuran debu penunggu pohon beringin.. Iih.. seru ya… Sepulang sekolah setelah main aku cuci muka di sumur pompa yang kebetulan dekat pohon beringin di SDN Ploso 1. Sesampai dirumah mataku merah… kemudian ke esokan harinya aku tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya serba berkabut dan putih, hampir 1 minggu aku ga masuk sekolah..

aku diobatkan ke dokter trubus kediri, lalu ke madiun dan juga obat alternative yuyu kangkang (kepiting sungai) ditumbuk di oleskan ke kepalaku. Baunya ga karuan. Lalu sama kakekku dibikinkan daun sirih yang ditumbuk dan dilafatkan ayat kursi dipiring dan disiram air hangat. Mataku dikubangkan dalam air sirih dandi kedip-kedipkan. Luar biasa pasir yang terdapat pada piring buanyak sekali. Waktu itu aku dan ibuku ga habis pikir. Alhamdulillah setelah itu semuanya baik-baik saja. Mataku bisa melihat lagi. Menurut dokter mataku sangat sempurna dan tidak perlu pake kaca mata, nanti kalau usiaku sudah 50 tahun baru pantas pake kaca mata. Itu kata beliau.

Dari lahir Allah memberiku satu mata yang bisa melihat. Mata kananku dari bayi sudah terkena katarak. Karena orang tuaku tidak mampu dan penyakit katarak waktu itu dianggap belum ada obatnya maka sampai sekarangpun aku punya 1 mata yang bisa melihat dunia. Aku sangat bersyukur, meski kadang aku menginginkan kesempurnaan… Tapi aku yakin dengan kekurangan yang aku miliki justru disitulah Allah memberi kesempurnaan yang luar biasa untukku. Semoga kelak di akherat mata ini jadi penerang alam barzahku. Amin ya robbal alamin…

Kelas lima pernah kami satu kelas dibuat ketakukan karena tiba-tiba saja teman kami mengamuk dan dia menghalangi pintu kelas dengan meja kursi. Membanting apa saja. Pintu didorong dari luar tak bisa terbuka. Sampai akhirnya didobrak dan temanku ditenangkan. Tidak kesurupan, tapi dia sangat marah sampai diluar kendali…

Kelas enam seingatku aku bekonsentrasi pada persiapan ujian….dan akhirnya lulus lalu aku meneruskan sekolah ke pondok pesantren Wali Songo Ngabar ponorogo. Aku tidak krasan hanya bertahan selam 1.5 tahun lalu aku pindah ke MtsN Nganjuk.

Selama Mts apa ya yang berkesan. O ya waktu itu saya dan teman-teman sering kali membicarakan guru olah raga yang naksir sama teman kami. Dan selalu diberi nilai baik. Lalu aku dan temanku mutik menulis pesan dilembar jawaban pada ujian tulis olah raga. Aku lupa bagaimana bunyinya, tapi intinya kita minta kasih nilainya yang fair. Jangan mentang-mentang muridnya cantik nilainya jadi bagus. Kemudian kita berdua di panggil ke kantor. Takut juga sih. Trus aku dan mutik minta maaf.

Ada juga peristiwa yang aku yakin setiap anak trauma mendengarnya.. sepulang sekolah aku lihat ibu menangis, ibupun bercerita padaku. Aku bingung dan ikut menangis.. kemudian setelah maghrib aku lihat bapak dan ibu bertengkar hebat.. aku berlari sembunyi di kamar dan nangis sejadi-jadinya tanpa suara. Aku takut sekali kalau bapak dan ibu bercerai… tapi alhamdulillah sampai sekarang semoga sampai akhir hayatnya Allah tetap menjaga ikatan pernikahan bapak dan ibuku.

Kemudian aku melanjutkan sekolahku di MAN 3 kediri. Sebenarnya aku tidak berniat sekolah di MAN. Tapi apa boleh buat. Ternyata tempatku memang di MAN 3 kediri. Kalau di ceritakan masa SMA wah bisa jadi 4 buku. Karena selama SMA aku menulis apapun dalam buku harianku samapi ada 4 buku harianku. Tapi intinya “WOW.. IT’S UNFORGETABLE MEMORIES..! Sampai-sampai setelah kuliah aku balik lagi ke MAN 3 untuk mencari dan mendapatkan apa yang dulu pernah aku dapat di MAN 3. kenangan yang sangat indah semasa SMA… ada suka dan duka pastinya, ada tangis dan tawa juga ^_^….

Kemudian aku kuliah di Universitas Sebelas Maret. Perjalanan hidupku yang luar biasa penuh dengan keprihatina dan perjuangan. Kebahagian semasa kuliah hanya aku dapatkan dari teman-temanku di Mess Putri kentingan belakang kuburan cina. Kehidupan yang sederhana dan bersahaja, lingkungan yang agamis yang membentukku, meski tidak merubahku 100%. Tapi sangat memberiku pelajaran religi dan kehidupan yang sederhana. Teman-temanku se angkatan Eng ’95 yang juga jauh dari kesan kemewahan sperti yang aku takutkan.

aku juga kerja di salah satu bimbingan bahasa inggris di kartosuro. gaji pertamaku waktu itu Rp.12.000. Kemudian darei gaji pertama sampai sampai dengan gaji terakhir aku bisa menabung untuk biaya operasi mataku karena kecelakaan. Ya waktu semester lima kalau tidak salah aku pernah kecelakaan. lumayan tidak sadarkan diri. tapi untunglah hanya opname 3 hari ditungguin ma ibu.

Semuanya masa-masa itu adalah “PERJUANGAN” adikku, orang tuaku dan aku. Perubahan yang sangat hebat terjadi di keluarga kami. Yang mengharuskan kami sekeluarga angkat kaki dari rumah nenekku.. Adikku yang tak bisa sekolah di SMK kesehatan perawatan gigi karena tidak ada biaya. Adikku zulfa yang kuliah D1 di semarang juga harus bertahan tinggal di rumah bulek ku. Yang setelah lulus memutuskan utntuk jadi TKI dan masuk ke penampungan. kemudian saat itu aku juga belum lulus kuliah. pernah aku beranikan diri menayakan pada bapak apakah bapak sudah tidak sanggup lagi membiayayai kuliahku. sambil nagis aku katakan sama bapak kalau memang tidak ada biaya aku akn berhenti kuliah. saat itu aku masih semester 4. Yah Pelajaran yang tidak pernah ku lupa seumur hidup bagiku, adik-adiku dan kami sekuluarga.Masa-masa itu sangat sulit bagi keluarga kami.

Alhamdulillah semakin hari keadaan semakin membaik semoga akan selalu begitu. Dan akupun saat ini juga sudah menjadi seorang pengajar di tampat aku dulu belajar. Sudah hampir 9 tahun aku menjadi bagian keluarga besar MAN 3 Kediri. Meski belum jadi PNS, yang penting apa yang aku dapat bisa membantu keluargaku. Semoga berkah. Dan bertambah… amin ya robbal alamin.

ANDI RAJWAA NUR KHASANAH AL AIDIQ



Rajwa usianya hampir sama dengan fajar. Karena mereka lahir di bulan yang sama… bicaranya sudah buanyak sekali.. dan cerewetnya minta ampun
. Dia suka sekali mengobrak-abrik lemari atau mengeluarkan semua isi almari tas atau apapun yang tersimpan dalam kemasan. Rajwaa tidak suka nonton televisi, takut juga sama moyet. Paling suka sama ikan dan juga dah pinter naik sepeda serta suka main air sama mbak tia. Kalau dibilangi mamanya suka ga nurut… rajwa kalu beli sesuatu selalu ingat sama mbak tia. Dia juga sayang sama kakeknya. Suka rebutan sama fajar. Pokoknya kakek buat mereka adalah tempat meminta perhatian… dia sengan sekali menyibukkan diri… ada aja barang dirumah yang dibuatnya berantakan.

FAUZAN KHAIRULLAH


Ga terasa fauzan sudah kelas 3. tapi masih belum sunat.. sebenarnya dia dah minta untuk disunat. Dulu masa kecilnya yang lucu dan menggemaskan sudah hilang
Ditabah lagi kebiasannya yang masih sulit dirubah. Kebiasan dari usia 2 tahun dulu belum juga ilang. Kalau udah main ps ga tahu waktu. Kadang aku sampai geregetan kalu dia dah main main ps lupa semuanya. Egonya masih sangat tinggi. Ga mau ngalah sama sekali dengan adiknya. Maunya minta perhatian lebih dari mamanya. Sebenarnya dia suka sekali matematika,.. Cuma kalu disuruh belajar sulitnya minta ampun. Tapi kalu urusan main ps dimana n kapanpun juga dia slalu OK… sampai aku ga tahu cara menghentikannya… di duruh sholatpun juga masih sangat susah… huh… semoga semakin tambah usianya fauzan semakin mengerti. amin

MUTIARA FAUZIAH


Ponakanku yang satu ini, hitam tapi manis.. bandel juga. Putri kedua dari adikku ini juga sudah sekolah di TK. Kemarin waktu karnaval peringatan agustusan dia dandan jadi orang Sulawesi Selatan. Tapi sayang ga mau seyum…
cemberut terus ga ngerti apa yang diminta. Yang jelas sih karena kemarin kita usil n godain tia… Bulan ini juga tanggal 26 agustus dia ulang tahun… selamat ulang tahun untuk MUTIARA FAUZIAH HAMID…
Semoga jadi anak yang sholihah. Jangan bandel-bandel dong.. jangan godain adik fajar n adik rajwaa. Jangan berantem dengan mas fauzan… terus belajar n sayang mama, ayah, kakek nenek, tante dan saudara…

FAJAR AFLAKHA



Sekarang Ffajar usianya juga udah hamper 3 tahun. Dia dah mulai banyak bicara meski belum jelas. Dan yang paling nyebelin suka buanget ngambekan… kalau dibilangin ngambek n suka nyubit-nyubit. Kadang kalau dimarahi nangis… Anak ini sayang banget ma kakeknya.. ya maklum aja jarang ketemu ayahnya.. makanan kesukaannya nasi sama kecap sama krupuk. Kalau dia lagi good mood pasti mau makan sendiri sampai habis. Pokoknya dunia anak memang unik…
Fajar udah lumayan mandiri kalau mau pipis atau ke wc... sudah suka bersepeda kemana-mana ma kakaknya tia, suka masuk lemari pakaian…. Kalau sore sering kali ngajak kakeknya lihat kereta api sambil disuapin. Ada lagi dia betah banget nonton televise. Kalau aku dirumah pasti aku matikan kalu lihat band 7 atau ronaldowati. Aku minta ganti canel TV. Atau aku ganti putarkan CD Thomas n friends. Akhir –akhir ini dia paling suka nonton finely fire. Ya itung-itung juga belajar mendidik anak. Sebenarnya menarik dan asyik serta menghibur dan kadang juga kalu lagi capek bikin stress juga.. he.. he.. he…

BIARKAN SEMUA MENGALIR SEPERTI AIR


Setiap kali aku di kenalkan seorang pria oleh siapapun dalam hatiku selalu berdoa “Ya Allah semoga orang ini adalah hamba yang telah Allah janjikan untukku. Tidak tahu sudah berapa banyak yang datang dan pergi begitu saja. Semua datang baik-baik berkenalan baik-baik tapi kemudian tidak meninggalkan pesan atau kadang tidak berpamitan. Semuanya berlalu begitu saja. Bagaikan air mengalir. Kadang aku lelah mengulang semua pertanyaan dan jawaban dari awal. Ada yang kenal lewat handphone belum ketemu kemudian berlalu begitu saja,. Ada juga yang berkenalan lewat email berkirim foto, ketemu kemudian juga berlalu begitu saja, ada juga yang sudah datang kerumah setelah itu juga pergi begitu saja. Dari awal perkenalku dengan kakak seorang teman waktu kuliah sampai sekarang, entah sudah berapa kali, aku sendiri sampai tidak tahu kenapa…tapi yang jelas belum berjodo.. dan mungkin mereka bukan “The right man in the right time” untukku…

Sebenarnya ada juga yang sudah sempat melamar.. dia memintaku untuk dijadikan istrinya.. tapi kenapa hati ini juga tidak beranjak untuk menerimanya.. sebenarnya sudah kuniatkan.. memintanya untuk datang menemui orang tuaku… tapi ternyata dia juga tidak kunjung menemui orang tuaku. Ya sudah lah… toh dia juga sudah menikah..

Akupun juga pernah nekat bulat dengan penuh kepasrahan pada Allah, ketika dikenalkan dengan seorang pria, siapapun dia pokoknya kalau dia mau sama aku, aku akan siap menikah dengannya meski aku tidak mencintainya… tapi ternyata.. pria ini malah marah-marah padaku… capek deh…
3 minggu yang lalu aku dikenalkan oleh seorang teman, berharap kami berjodo. Sebenarnya kalau dibilang lelah, aku juga sudah lelah menjawab ritualitas ta’aruf setiap perkenalan, tapi bagaimana lagi semuanya harus dilewati suka atau tidak suka. Aku tetap tidak boleh menyerah. Aku menulis ini karena dari sekian pria yang dikenalkan menurutkan dia yang paling menyakiti perasaanku…. Dia tidak seperti pria yang bisanya dikenalkan padaku… Bisa jadi aku juga yang salah. Tapi tak tahulah.. yang jelas perkataanya sangat menyakitkan.

Beberapa tahun yang lalu kalau aku dikenalkan pria aku punya pertanyaan dan akupun selalu punya jawaban jika ditanya. Kemudian ibu bilang jangan terlalu banyak bicara/berlebihan kalau kenalan dengan pria. Kemudian tahun terakhir ini aku lebih sering mununggu pertanyaan dan tidak banyak memberi jawaban. aku menyampaikan kondisiku dan keadaan keluargaku serta keinginanku. Itu yang biasa aku sampaikan dalam setiap pembicaraan.

Demikian juga dengan AZ anggap saja namanya begitu…. Kami dipertemukan dirumah seorang teman kemudian kita mengobrol, jelasnya dia yang banyak mengenalkan dirinya terlebih dahulu, “Namaku AZ usiaku 40 tahun kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku tinggal sendirian dirumah tanpa sipapun setelah ibuku meniggal. Begitulah awal perkenalannya. Dia cerita tentang kegiatannya dulu semasa ada ibu dan kakak serta kemenakannya dirumah. Dia juga menyamaikan istri seperti apa yang dia inginkan, baru kemudian dia bertanya padaku, seperti orang yang sedang melakukan transaksi…. Dia mulai bertanya, Bagaimana denganmu pria seperti apa yang kamu inginkan. Menurutku ini pertanyaan yang sering kali diberikan padaku. Jujur kaget juga aku ditanya. Biasanya aku dengan mudah menjawab kalau aku ditanya lewat hp atau email. Kadang tidak ditanyapun aku menyampaikan suami seperti apa yang aku inginkan. Akhirnya aku hanya menjawab “ya seperti yang diingikan wanita pada umumnya”. Lalu aku menyampaikan harapanku.. bahwa aku ingin yakin suatu saat aku akan ketemu dengan seorang pria yang ketika pertama kali ketemu kita merasa cocok dan tidak perlu berpikir lama untuk melamarku. Dua atau tiga kali bertemu bagiku sudah cukup. Akupun juga bercerita tentang kondisi keluarga, keadaan adik-adikku yang memberikan banyak pelajaran tentang pernikahan. Lalu karena sudah larut malam akupun pamitan karena keesokan harinya aku harus ke Malang.

Dua hari setelah pertemuan itu pertamakalinya AZ menelponku. Aku datar saja menjawabnya karena waktu itu aku sedang dalam perjalan ke penginapan diantar oleh temanku sejak kami TK dan mondok bersama yang sudah sekian lama tidak ketemu. Tidak ada perasaan senang atau apa. Semua biasa saja. Kemudian dia kirim sms untuk pertama kalinya “sepertinya kamu kecewa padaku, kalau begitu saya tidak jadi ke rumah” aku tidak langsung membalasnya… baru setelah subuh aku membalasnya… “Jangan terlalu cepat mengambil keputusan sampai membatalkan janji untuk bersilaturahmi ke rumah” hanya itu smsku.

Sebenarnya aku H2C (harap-harap cemas) ketika dia mengenalkan siapa dirinya ada beberapa hal yang aku merasa pas dan ada beberapa hal yang kurang pas dihatiku. Dia tidak menjelaskan secara gamblang pekerjaan dan pendidikan yang pernah dilalui. Tapi, sudahlah aku mencoba memendamnya tidak menayakannya, meski kemudian aku tahu dari temanku…
Kemudian hari minggu AZ datang ke rumah ketemu dengan bapak tapi tidak dengan ibu. Kita juga ngobrol biasa. Aku hanya menanyakan acara reoni keluarganya yang kebetulan di nganjuk. Lalu Aku tinggal sebentar, kubiarkan bicara dengan bapak. Dan kemudian berpamitan. Sesampainya di kediri dia sms untuk ke dua kalinya bahwa dia sudah sampai rumah dan bilang kalau aku sangat beruntung punya keluaraga yang baik dan rumah yang nyaman.

Kemudian malamnya temanku menanyakan bagai mana perkenalanku dengan AZ cocok apa tidak. Lalu aku minta temenku untuk datang langsung kapanpun dia bias. Seminggu setelah perkenalan itu, akupun bercerita tentang apa yang aku rasakan, dan pengalaman yanga pernah aku alami ketika dikenalkan seorang pria lain sebelumnya kepada temanku. Sebenarnya beliau tidak hanya temanku tetapi juga sahabatku, dan insya allah mengerti jalan pikiranku. Setelah mendengar ceritaku tentang masa lalu dan perasaanku yang biasa saja terhadap AZ. Temanku begitu semangat memberi nasehat dan tausiah yang disampaikan hingga akhirnya aku mengatakan, kalu memang AZ serius denganku mohon dia berpikir masak-masak. Aku harap AZ juga sudah tahu kekuranganku secara fisik. Keadaan keluargaku dan tanggung jawabku sebagai anak pertama. Aku juga menyampaikan padanya, biarlah semua mengalir seperti air. Seperti kesepakatan AZ dan aku jika ditanya temanku itu. Temanku bilang ya semua harus diusahakan juga, Ya sudah kalu begitu besok tak minta untuk segera menyiapkan lamaran, karena AZ juga sering menyakan tentang responku pada temanku.

Aku berulang kali menekankan pada temanku biarlah semua mengalir seperti air sebagai jawaban yang telah kami sepakati berdua jika ditanya. Ada perasaan gundah apa iya dia mau menerimaku dengan segala kekuranganku. Ku mencoba memantapkan hatiku pula untuk menerima kekuranganya. Akupun juga mencoba merenungkan apa yang disampaikan temanku tentang pernikahan, terutama diawal perkenalan. Memang sulit wanita mengatakan kata “Iya” kalau tidak sedikit dipaksakan. Mungkin sama halnya dengan pria itu sendiri pikirku. Mereka juga harus berfikir matang untuk melamar seorang wanita. Bliau sendiri menyampaikan, kadang kalau keberanian itu tidak dipaksakan maka kita tidak akan pernah melewatinya.

Keesokan harinya AZ sms, apa iya aku mau menerimanya? Kok temanku meminta dirinya untuk segera menyiapkan lamaran. Dia bilang lucu baru kenal dan belum saling mengenal kok sudah disuruh melamar. Itu suatu yang menada-ada. Dia sms sampai 4 kali… aku tidak langsung menjawab. Kemudian sms yang kelima di hari itu dia mau datang ke tempatku. Aku bialng tidak usah karena waktu itu aku sedang ada tamu, kebetulan juga sudah malam. Kemudian keesokan harinya smsnya baru aku tanggapi.

Aku harus berfikir dan berfikir kemudian aku mengomentari pendapatnya. Aku bilang bahwa aku sudah mengatakan pada temanku agar biarlah semuanya mengalir seperti air dan aku juga mengatakan menurutku apa yang disampaikan temanku tidaklah menga-ada dan bukan hal yang lucu. Menurutku sarannya agar dia cepat melamarku itu karena kesimpulan temanku atas semua cerita, pengalaman, keiinginanku dan kenyakinanku bahwa suatu saat aku yakin insya allah bertemu dengan pria yang kita sama-sama falling in love in the first sight, kemudian langsung menikah saja. Tidak perlu berpikir lama. Karena selama ini yang terjadi, pria itu suka sama aku dan aku kurang menyukainya, atau sebaliknya, aku mau menerimanya tapi ternyata pria itu berlalu begitu saja. Lalu akupun bilang pada AZ kalau memang tidak sependapat ya sudah tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. AZ menginginkan tidak perlu mak comblang. Aku pikir saya dan dia kenal juga karena mak comblang. Untuk selanjutnya memang terserah kita.

Mulailah AZ menuduh temanku memperkeruh keadaan, merendahkan harga dirinya dihadapanku, bersekongkol mempermainkannya, dan dia menghinaku tidak mau belajar dari kedua adikku, entah mendoakan entah menyumpahiku agar aku mendapatkan jambangan seperti yang aku inginkan. Ya Allah, sungguh dia itu “Too much” padahal temanku tak pernah sedikitpun merendahkannya, semua yang disampaikan adalah kebaikannya, kalau toh ada yang kurang akupun diminta memahaminya. Tuduhannya sangat berlebihan. Aku tahan amarahku, aku tidak langsung membalas smsnya keculai setelah dia bilang “hentikan persekongkolanmu dengan temanmu, puas kamu mempermainkan aku” lalu akupun bilang “istighfar, njenengan sudah sangat keterlaluan, alhamdulillahirobil alamin, trima kasih atas segala waktu, saran dan doanya. Saya mohon maaf. Itu sms yang ku kirim.
Dari semua smsnya yang masuk aku memang tidak langsung membalas. Aku baca berulang-ulang. Adakah sms yang aku kirim slah tulis. Sampi-sampai aku memintanya membaca dengan sepenuh hati. Dan memahami maksud temanku itu. Aku berulang kali minta maaf kalu ada yang salah kata… tapi sepertinya AZ smakin menjadi-jadi dan memintaku menganggap pertemuanku dengannya adalah mimpi buruk. Sungguh demi allah aku tidak punya pikiran seperti itu.

Aku sedang mencoba menata pikiranku menerima apapun keadannya, aku tidak pernah menyinggung dan menanyakan pekerjaan atau pendidikannya. Kemudian akhirnya aku bicara dengan temanku… apa yang terjadi… AZ memintaku untuk ketemuan lagi… aku pikir, kita sudah ketemu, sudah kerumah orang tua… keaadanku sudah aku jelaskan. Aku pikir itu sudah cukup untuknya. Tapi ternyata tidak, menurutnya tidak mungkin dia suka denganku yang baru ketemu 2 kali, menurutnya… kalu toh menikah itu sama halnya dengan dipaksakan, menurutnya menikah dengan cinta yang dipaksakan tidak akan berlangsung lama. Dia pikir aku menikah hanya untuk coba-coba…. Tuduhan yang sangat berlebihan… sulit sekali aku menerimanya. Rasanya badanku panas dingin menahan amarah. Aku hanya mengucap beribu-ribu maaf padanya serta rasa syukurku pada Allah atas semua jawaban yang di berikan AZ menurutku petunjuk yang tak terduga dikala aku memasrahkan hatiku menerima segala kekurangannya. Karena no body perfect.

Namun akhirnya aku berfikir… sepertinya dalam menjalin suatu hubungan apalagi diawal ta’aruf, komunikasi memang sangat penting terutama untuk menyamakan persepsi awal tujuan perkenalan. Terlebih lagi diusiaku yang semakin berkurang, dan kematangan pemikiran, kupikir aku sudah tidak bisa lagi pacaran seperti anak ABG. Aku pikir itu bisa kita lakukan nanti setelah menikah. Akupun tak pernah punya pikiran “gagal dalam pernikahan” siapa sih yang mau pernikahannya berantakan, tidak ada kan? Kalau toh itu harus terjadi, itu adalah pilihan pasangan di kemudian hari.

Aku memang berprinsip tidak mau pacaran. Alhamdulillah dari dulu aku tidak pernah pacaran sekalipun aku mencintai seorang pria. Aku hanya punya pikiran kalau sudah merasa cocok diawal sebaiknya segera menikah. Kalu toh ternyata dikemudian hari ada persoalan muncul, itu adalah ujian dari Allah untuk menaikan hambanya ke derajat yang lebih tinggi.

Selama ini perkenalan selalu diawali dengan “siapa tahu kita jodo, kalu tidak kita bisa tambah teman” awal yang manis dan niatan yang baik…. Jujur aku tak pernah ada niatan memutuskan tali silaturahmi dengan siapapun setelah aku berkenalan dengan pria manapun. Tapi yang terjadi… setelah kenal, bertemu semuanya seperti kafilah yang berlalu disepanjang usiaku ini.

Ya Allah… hamba benar-benar haus akan petunjuk-Mu… akupun bertanya dengan temanku yang belum menikah. Apakah keinginanku terlalu berebihan. Apakah keinginanku tidak wajar dan tidak umum? Aku juga ingin tahu komentar siapa saja yang membaca… apakah wanita yang menginginkan pasangannya punya pekerjaan merupakan hal yang wajar, terlebih lagi pria yang memiliki pekerjaan tetap dan tetap bekerja. Kata temenku ya itu wajar dan umum.. kemudian apakah keinginanku memiliki suami minimal pendidiakan sama denganku apakah itu hal yang wajar. Diapun masih berpendapat wajar. Apakah keinginanku memiliki suami yang agamanya lebih baik dariku juga hal yang wajar. Diapun juga menginginkan hal yang sama. Kemudian temanku bertanya kalau pekerjaan dan pendidikan tidak sesuai dengan kita apa mau menerima? akupun berfikir kenapa tidak selama dia mampu menjadi imamku, membimbingku untuk istikomah di jalan Allah, mampu menjaga keluarganya jauh dari siksa api neraka, kenapa tidak. Agama adalah penentu segalanya bagiku. Karena disitu banyak petunjuk Allah…untuk menjadikan hambanya memiliki pegangan hidup. Semoga menjadi pelajaran untukku dalam perkenalan berikutnya… serta untuk para pembaca yang belum menikah.

Semua orang mengira aku terlalu menginginkan sesuatu yang berlebihan, dan pilih-pilih. Aku pikir untuk dunia dan akherat, suatu hal yang wajar kalau aku berikhtiar untuk memilih. Hasil akhir tetap ada di tangan Allah.

Ampuni hamba-Mu yang sok tahu ini ya Allah. Jangan lepaskan petunjuk-Mu untukku menjalani hidup. Hamba benar-benar ingin segera bertemu dengan suami yang telah Allah janjikan untuk hamba. La haula wa la Quwata illa billah. Ampuni hamba jika hamba berharap berlebihan dalam setiap perkenalan, sejujurnya selalu ada perasaan takut ditolak dan takut untuk diterima. Tapi apapun itu ya Allah hamba memang harus melaluinya suka ataupun tidak, hamba tetap harus melaluinya. Bimbinglah hamba-Mu yang dhoif ini ya Robb.

I MISS YOU BU PUH



Sudah sekian lama kita ga jumpa Bu de… Apa kabarmu di kampung akherat?... I miss you so much… Sungguh engaku menyisakan cerita yang tak pernah kulupakan… Kasih sayang yang engkau berikan padaku membuatku merasa paling disayangi diantara kemenakanmu yag lain. Aku begitu tersanjung..beruntung dan sangat berterima kasih. Kesabaranmu yang begitu luar biasa, tauladan yang engkau berikan padaku tak akan kulupakan.
Bu puh marfuah adalah kakak ibuku, anak pertama dari nenekku. Beliau meninggal di tanah suci makkah waktu menjalankan ibadah haji 4 tahun yang lalu… Bagiku beliau tidak hanya seorang bude, tetapi juga ibu kedua ketika ibuku tak mengerti dan tak bisa membantu memecahkan persoalanku.
Waktu aku sekolah di kediri aku sempat tinggal di rumahnya selama kurang lebih 3 bulan. Setelah itu aku cari tempat kost yang lebih dekat dengan sekolahan. Karena aku capek harus mengayuh sepeda dari ngronggo ke MAN 3.
Selama tinggal disana aku pernah membantunya membuat kue bak po. Lumayan untuk menambah income keluarga bu deku ya meski ga seberapa.. By the way bak po bikinan budeku eunak lho... Kebetulan beliau adalah guru agama islam di SMP 3 kediri yang kemudian pindah ke SMP 7. Sayang aku tidak bisa membantunya setelah ku pindah ke kost. Waktu aku pindah ke kost meja belajar milik anaknya dipinjamkan padaku. Bliau berpesan jangan lupa sering-sering ke ngrongo.
Bu deku ini suka sekali mengasuh kemenakan-kemekannya. Waktu itu ada mas Andik putra pak puh yan kemudian ada juga kemenakan dari pak puh Nahrowi suami budeku trus masih banyak lagi. Pokoknya buanyak deh kemenakan-kemenakan yang pernah tinggal dalam waktu yang lama di tempat budeku. Bisa jadi mungkin aku yang paling sebentar.
Tapi setelah sekian tahun aku lulus kuliah dan kemudian diterima bekerja di kediri, aku juga memutuskan untuk tinggal bersama bu deku lagi. Ak masih ingat betul betapa bahagianya mereka. Saking bahagianya, Pak puh dan bu puh waktu mendengar aku diterima di kediri sebagai seorang pengajar, aku dibelikan kain 2 potong untuk sragam mengajar. Dan baju2 budeku yan dulu pernah dipakai mengajar diberikan kepadaku. Aku disuruh milih mana yang pas dan yag aku suka… kadang setiap lebaran pak puh dan bu puh membelikan aku baju baru.. dulu waktu aku dan adik-adikku masih kecil juga sering dibelikan baju baru waktu lebaran.
Setiap pagi, ketika aku berangkat mengajar ke sekolah, anaknya dibangunkan diminta mengantarkan aku … tapi lama kelamaan ga enak juga. Kemudian ketika anaknya tidak berada di rumah maka budekulah yang memboncengku ke sekolah. Pernah juga ketika bliau agak sakit juga memaksakan diri mengantarku. Padahal ku sudah mencoba menolaknya…

Saya, bude dan pak puh sering kali ngobrol di ruang tengah. Pak puhku senang sekali menceritakan romantikanya waktu berkenalan dengan bude, bertugas di Papua, Ambon dan beberapa kepulauan di Indonesia. Ceritanya sebagai veteran bagian kesehatan sangat menarik. Setahuku anak-anaknya jarang sekali mendengarkan ceritanya. Kebetulan sumua anak budeku laki-laki ada mas aan, mas yus dan mas wiwin. Bliau juga sering bercerita tentang pekerjaannya di rumah sakit bhayangkara, menceritakn pasien yang bliau temui dan menurutku kalau sudah cerita sulit pokoknya untuk menghentikannya…
Pernah pada suatu malam pak puh anfal tak sadarkan diri.., membuatku panik, budeku mulai membimbingnya menyebut kalimat “La illa ha illa allah” berulang-ulang. Kemudian minta tolong para tetangga untuk dibawa ke rumah sakit. Kebetulan mas yus ada dirumah. Setelah pensiun pak puhku memang sering kali sakit. Dengan sabar budeku merawatnya… sungguh luar biasa kesetiannya beliau, bakti beliau kepada suami. Kalau aku boleh pinjam jempol orang seluruh dunia, maka aku pinjam semuanya untuk menghormati kesetian, kesabaran merawat pak puhku ketika sakit. Dalam hatiku kelak kalau ku menikah ingin sekali menjadi istri yang sholihah seperti budeku. Kebetulan bliau sering sekali memimpin pengajian di perumnas tempat tinggalnya. Mengajakku sholat malam berjamaah dimasjid pada bulan ramadhan. Kalau pulang mengaji sering kali bude bawa jajan. Bliau selalu memberikannya pada pak puh dan pak puh selalu memberikan padaku. Rasanya aku jadi anak kesayangan mereka.
Pak puhku ingin sekali melihat salah satu dari anaknya menikah sebelum beliau meninggal. Dan mereka juga ingin sekali melihatku segera menikah. Tapi Allah berkehendak lain.
Kemudian akhirnya aku putuskan untuk tinggal di MAN 3 di lab bahasa. Waktu itu karena kesibukanku yang luar biasa… padahal saat itu pak puhku sering sakit2tan hingga suata hari dipagi yang buta aku dijemput pak lekku dengan adikku untuk pulang ke ngronggo karena pak puh telah pulang ke rahmatullah… Tampak sekali kesedihan yang sangat mendalam di raut wajah budeku… lama sekali beliau merawat pak puh di rumah sakit. Dari ruang ICU sampai di pindahkan di kamar khusus vetran. Bliau tak mau digantikan dsiapapun. Saya dan anak-anaknya sangat mengkawatirkan kondisi bliau, takut kalau ikut jatuh sakit. Setiap kali keluarga kami menjenguk pak puk bliau selalu menangis memintakan maaf atas semua kesalahan pak puh..
Bu de ku ini adalah orang yang sangat sensitive, mudah sekali menangis, sama seperti aku. Dan sangat menyayangi anaknya. Sempat juga, karena aku terlalu jengkel dan marah pada salah satu anaknya, aku minta budeku untuk membiarkannya, tidak perlu dikasih uang, karena toh mereka sudah besar, masak harus selalu minta terus kapan mandirinya. Jawaban budeku “Kalau aku tidak memberikan uang, aku takut mas mu mencuri, dan kalau masmu mencuri aku marah aku takut Allah juga marah pada mereka. Aku tidak mau anak-anakku kualat padaku… karena aku marah pada mereka” Subhannallah seorang ibu yang takut kalau anaknya marah, Allah akan marah padanya… Sejauh itu budeku melindungi anaknya.
Pernah suatu malam, sepeninggal pak puhku. Bu deku menangis di tempat tidur dan berteriak-teriak di dampingi mas aan. Waktu itu aku baru pulang mengajar di salah satu bimbel di kediri, aku tidak berani masuk aku hanya menunggu di ruang tamu. Aku dengar teriakan budeku, “ Wis to le patenono aku ae, aku wis ga kuat, awakmu kok ga iso gawe lego lan mareme atine ibu” aku menangis di ruang tamu, rasanya aku puengen muarah sama masku itu…. Tak berapa lama, mas yus datang dan aku menahannya untuk tidak masuk. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada bu puh… aku larang mas yus untuk masuk rumah, aku minta mas yus untuk menahan amarahnya. Kasian bu puh… biar saja diselesaikan oleh bu puh dan mas Aan dulu. Aku dengar mas aan meminta maaf…
Pernah juga mungkin bu puhku terlalu lelah… sepulang mengajar di malam hari beliau menungguku di depan rumah duduk di kursi, lalu menangis memelukku… beliau ingin pergi ke suatu tempat yang jauh, rasanya tidak sanggup merawat pak puhku, waktu itu bu puh berniat menghibur pak puh yang diam melamun… tapi yang terjadi pak puhku malah marah-marah, membentak budeku, memintanya untuk diam supaya tidak mengoceh. Ya Allah…. La haula wa la quwata illa billah… apapn yang terjadi bu deku tetap setia sampai akhir hayat pak puhku dan sampai Allah mengundangnya di negeri mekkah.
Aku juga ingat betapa sayangnya pak puh denganku. Malam itu hujan sangat deras dan aku belum juga pulang dari mengajar bimbingan. Pak puh nunguin dan tidak mau tidur sebelum aku pulang. Budeku nuggu duduk di kursi depan rumah. Ketika aku sampai bu deku langusng bilang “Pak iki lo watik wes teko gek ndang sare, Pak puhmu lo ga gelem turu mergo awakmu rong teko, kwatir nek ono opo-opo. Udan deres kok ga muleh-muleh”. Aku merasa bersalah dengan pak puhku jadinya. Begitu besar kasih sayang yang diberikan mereka padaku.
Rumah budeku semakin sepi setelah pak puh meninggal…. Kadang aku juga merasa sedikit tidak kerasan, lalu aku pamit bu de untuk pulang ke nganjuk… bu deku malah menangis “ kowe kok tego to tik niggalke aku dewe an” tapi akhirnya ku urungkan, aku ga jadi pulang… budeku sangat kesepian… hari-hari yang bliau lalui dengan pak puh bercengkrama di ruang tamu tengah sulit sekali dilupakan. Kadang akupun juga merasa demikian ketika kutatapi ruang tengah yang kosong, tidak ada lagi segelas teh panas, kue pasar yang biasa disajikan budeku.
Hari demi hari, akhirnya budeku sudah mulai terbiasa, apalagi setelah mas yus menikah dengan gadis yogya “mbak ade”. Waktu pernikahan air mata budeku tidak berhenti menetes. Maklum hari pernikahan anaknya telah lama dinantikan suami tercinta yang telanh berpulang terlebih dahulu. Lalu cucu pertamanya lahir. Kemudian bliau mempersiapkan untuk keberangkatan naik hajinya.
Ketika mendekati hari keberangkatan aku ke ngrongo menengok bude dan siapa tahu bisa membantu mempersiapkan keberangkatannya. Aku lihat tas hajinya sudah siap di isi. Aku merasa aneh ketika ku lihat tas haji itu namanya bukan nama budeku, lalu akupun bertanya.. “Bu puh niki tase sinten? Kata budeku itu adalah tas calon haji yang tidak jadi berangkat karena sudah meninggal, dan budeku menggantikan calon haji itu berangkat ke mekkah. Ku tatapi wajah budeku, air mukanya sangat berubah, rambutnya dipotong pendek, ada sesuatu yang aneh tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi. Hatiku mencoba menepis kata “jangan-jangan…”, lalu bliau memintaku untuk mencarikan halaman doa untuk meminum air zam-zam untuk diberi tanda pada buku panduan haji. Pesannya untukku sebelum berangkat, “Tik omae sring-sring di inguk yo….” Akhirnya budeku berangkat haji.. bliu sepertinya sudah sangat siap. Seolah tidak mau menoleh kepedihan masa lalu… yang begitu biru. Mimpinya untuk naik haji bersama suamipun juga tak sampai. Akhirnya bliau berangkat sendiri. Sebenarnya bareng dengan lek war adik kandungnya. Tapi lek war ikut kloter yang dari nganjuk, dan budeku ketika diminta pindah kloter ke nganjuk tidak mau… bliau bilang sudah punya teman dekat dalam rombongannya.
Selama bulan haji kebetulan aku berlibur ke Kalimantan, sebenarnya sih tidak berlibur.. tapi bantuin ida adikku yang mo pindah ke balikpapan. Beberapa hari telahir di tanjung selor aku mimpi bertemu budeku. Aku ingat betul mimpi itu.. beliau hanya memandangi diriku dan tidak menjawab pertanyaanku, aku bertanya apakah bu de marah denganu karma tidak ke rumah ngrongo? Ke esoakn harinya ku juga mimpi lagi ketemu dengan bu deku.. aku Tanya kok sudah pulang bu puh kapan datangnya? Bliau menjawab ya, tapi aku mo balik lagi…, kemudian ke esokan harinya aku mimpi gigiku lepas…
Kemudian aku telpon ibu, mencerikan kalau tiga hari terakhir ini aku mimpi ketemu bu puh tapi bliau diam saja dan yang terakhir aku mimpi gigiku tanggal… sungguh aku tak punya pikiran apapun tentang mimpi gigi tanggal, yang biasanya orang berfikiran ada keluarga yang meninggal. Sama sekali aku tidak ingat mitos itu dan tak punya seidikitpun pemikiran tetang budeku… setelah ku pulang dari Kalimantan dan semua kloter haji Indonesia sudah pulang… kami sekeluarga kwatir tentang keadaan bu puh.. karena kabar yang diterema dari lek war bu puh dalam keadaan sakit. Bliau pun tidak diperkenenkan oleh panitia haji untuk tinggal menungui kakaknya, karena memang sudah ada petugasnya. Akhirnya berita duka pun kami terima bahwa bu puh telah meninggal di mekkah…
Ya Allah, semoga budeku adalah hamba pilihan-Nya untuk menjadi tamu yang teristimewa. Semoga bu de bahagia di kampong akherat. Teri kasih atas semuanya bu de… Aku kangen menceritakan semua yang aku alami pada bu de, nasehat, doa dan perhatian bu de… semoga kelak kita bisa ketemu dan berkumpul bersama di istana yang indah kampong akherat.