Selasa, 25 Agustus 2009

My Wise Uncle...


Pamanku yang satu ini, paling enak diajak bicara, bercanda dan dimintai nasehat. Pokoknya kalau diajak “petung” enak deh. Hampir seluruh keluarga ibuku kalu punya masalah mesti minta pertimbangan n ngajaknya bicara. Aku dan adik-adikku memanggilnya Lek Nan.
Kisah hidup masa mudanya juga tidak kalah serunya dengan pak puhku “Pak Sofyan”. Ibu dan bu puh sering kali menceritkan kisah hidupnya dimasa kecilnya dan masa mudanya padaku dan juga adik-adikku. Bahkan kalau aku ngobrol dengan lek nan, bliau juga sering menceritakan kehidupannya di masa lalu. Sekarangpun kalu kita saling berkunjung masih cerita tentang anaknya, atik dan alfin (adik sepupuku).
Istrinya Lek Nur, orangnya juga asyik buanget deh… kita juga sering ngobrol masalah keluarga, apa yang telah di laului waktu dulu. Kalu kita ketemu betah deh ngobrolnya. Lek nur orangnya fair dan terbuka sekali. Kita sering sharing bagaimana menghadapi hidup dan persoalannya. Aku bersyukur punya bu lek yang asyik-asyik dan tidak pelit juga. Waktu aku kuliah dulu aku juga sering dijatah/diberi uang saku sebulan sekali sama lek Nur. Sampai-sampai lek nan bilang ke lek nur ngingatkan kalau ponakanya tidak hanya watik. Tesanjung juga aku disayang sama bu lekku dan bu puh ku.

Kalau aku menilai, keluaraga lek nan adalah keluarga yang paling tenang dan aman-aman saja. Tak pernah terdengan ada masalah. Kehidupannya juga selalu ada peningkataan dan perubahan yang semakin membaik. Ibarat perusahaan, menegementnya buagus.
Dulu waktu muda lek Nan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, dia ingin jadi orang yang berhasil. Sebenarnya kalau mau bliau juga bisa jadi guru. Tapi ternyata guru bukan pilihannya. Cerita yang aku ingat tentang perjalanannya adalah lek nan hanya jadi tukang cat di Jakarta, tapi dia bilang baik-baik saja, sampai akhirnya tidak mampu bertahan lagi dan tidak punya uang sama sekali, hanya permen karet dimulutnya untuk menahan rasa lapar, akhirnya beliau pulang ke jawa dengan nebeng truk.
Kemudian sepulang dari Jakarta pak lek ikut membantu pak puh yan di kios jam tangan dan kaset yang yang baru saja dibuka di pasar warung jayeng. Pak lek ku rajin sekali menabung dan orang nya kreatif. Akhirnya dari hasil tabungannya bliau mencoba buka toko elektronik dan kaset sendiri. Yang kemudian toko pak puh yan dikembangkan oleh lek war. Pak puh sendiri usahanya sudah mulai berkembang di jual beli automotif.
Hari demi hari usaha lek nan lumayan maju. Jadi di pasar warung jayeng itu ada toko kaset, jam dan elektronik yang dikembangkan oleh lek nan dan lek war. Waktu itu seingatku dua pak lek ku ini belum menikah. Kemudian aku ingat lek nan akhirnya menikah dengan lek nur dan dikaruniani anak putrid pertama atik.
Waktu itu aku masih kecil jadi belum begitu bisa ngobrol dengan pak lek n bu lek ku seperti sekarang. Setelah aku dewasa aku sering sekali mendapat cerita tentang pengalaman hidup mereka. Bahkan mereka juga menceritakan masa kecil mereka dengan ibuku, kehidupan ibuku yang menurut pak lek ku hampir tidak pernah bahagia. Selalu menyedihkan.
Kalau aku ingat cerita lek nan aku bersyukur sekali dengan keadaanku sekarang yang jauh lebih baik. Meski mungkin tak sebaik keluarga ibuku yang lain dalam masalah materi. Kalau aku boleh bilang, ibuku paling miskin diantara keluarganya. Dan alhamdulillah keluarga ibuku tak satupun yang memandang sebelah mata. Semuanya sering kali membantu dari sisi materi. Aku bersyukur sekali. Karena mereka dulu sama-sama susah. Bu puhku marfuah, pak puh yan, lek nan, lek war dan lek titin, mereka semua sangat sayang sekali dengan aku adik-adikku ibuku dan bapakku juga. Sering kali mereka mengungkapkan kasih sayang mereka dengan tetesan air mata. Kalau mereka bisa memberikan dunia ini untuk ibuku mungkin akan diberikannya. Makanya kenapa aku selalu berusaha membahagiakan ibuku, termasuk keinginanku memiliki suami yang mampu membahagiakan orang tuaku.
Lek Nan sangat dekat dengan semua keluaraga. Silaturahmi dan sifatnya yang suka menolong selalu menjadikan keluarga ini hangat dan erat. Kisah cintanya denga lek nur juga menjadikan pelajran untuk ku. Lek nur sering cerita, bagaimana bliau mau menerima lek nan sebagai suaminya, dan merasa sangat beruntung tidak menolaknya.
Usaha tokonya semakin hari juga semakin maju. Dulu rumahnya terpisah dengan tokonya, kemudian sekarang toko dan rumah sudah jadi satu. Kekhawatiran yang pernah dirasakan dalam membesarkan putri-putrinyapun juga memberikan pelajaran berharga padaku. Mereka kadang juga pernah meminta pertimbanganku, meski pendapatku biasa-biasa saja tapi mereka tidak segan untuk bertukar fikiran. Pokoknya aku merasa beruntung punya paman dan bibi seperti lek nan dan lek nur.
Alhamdulillah satu bulan yang lalu pamanku mendapatkan keluarga baru alias menantu untuk putri pertamanya. Ketika ku abadikan dengan cam-record matanya yang berkaca-kaca seiring dengan lantunan sholawat nabi, membuatku tak kuasa menahan tangis haru, momen yang paling indah bagi orang tua dan anak gadisnya. Seperti keinginan ibundaku yang entah kapan akan terwujud. Semoga untuk adikku tercinta TITA aku memanggilnya semoga memiliki keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Semoga juga krasan tinggal di kendari bersama suami. Semoga juga lek nan segera mendapatkan cucu pertamanya.

0 comments:

Poskan Komentar

Tafakur dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan hidup yang diberikan