

Sudah sekian lama kita ga jumpa Bu de… Apa kabarmu di kampung akherat?... I miss you so much… Sungguh engaku menyisakan cerita yang tak pernah kulupakan… Kasih sayang yang engkau berikan padaku membuatku merasa paling disayangi diantara kemenakanmu yag lain. Aku begitu tersanjung..beruntung dan sangat berterima kasih. Kesabaranmu yang begitu luar biasa, tauladan yang engkau berikan padaku tak akan kulupakan.
Bu puh marfuah adalah kakak ibuku, anak pertama dari nenekku. Beliau meninggal di tanah suci makkah waktu menjalankan ibadah haji 4 tahun yang lalu… Bagiku beliau tidak hanya seorang bude, tetapi juga ibu kedua ketika ibuku tak mengerti dan tak bisa membantu memecahkan persoalanku.
Waktu aku sekolah di kediri aku sempat tinggal di rumahnya selama kurang lebih 3 bulan. Setelah itu aku cari tempat kost yang lebih dekat dengan sekolahan. Karena aku capek harus mengayuh sepeda dari ngronggo ke MAN 3.
Selama tinggal disana aku pernah membantunya membuat kue bak po. Lumayan untuk menambah income keluarga bu deku ya meski ga seberapa.. By the way bak po bikinan budeku eunak lho... Kebetulan beliau adalah guru agama islam di SMP 3 kediri yang kemudian pindah ke SMP 7. Sayang aku tidak bisa membantunya setelah ku pindah ke kost. Waktu aku pindah ke kost meja belajar milik anaknya dipinjamkan padaku. Bliau berpesan jangan lupa sering-sering ke ngrongo.
Bu deku ini suka sekali mengasuh kemenakan-kemekannya. Waktu itu ada mas Andik putra pak puh yan kemudian ada juga kemenakan dari pak puh Nahrowi suami budeku trus masih banyak lagi. Pokoknya buanyak deh kemenakan-kemenakan yang pernah tinggal dalam waktu yang lama di tempat budeku. Bisa jadi mungkin aku yang paling sebentar.
Tapi setelah sekian tahun aku lulus kuliah dan kemudian diterima bekerja di kediri, aku juga memutuskan untuk tinggal bersama bu deku lagi. Ak masih ingat betul betapa bahagianya mereka. Saking bahagianya, Pak puh dan bu puh waktu mendengar aku diterima di kediri sebagai seorang pengajar, aku dibelikan kain 2 potong untuk sragam mengajar. Dan baju2 budeku yan dulu pernah dipakai mengajar diberikan kepadaku. Aku disuruh milih mana yang pas dan yag aku suka… kadang setiap lebaran pak puh dan bu puh membelikan aku baju baru.. dulu waktu aku dan adik-adikku masih kecil juga sering dibelikan baju baru waktu lebaran.
Setiap pagi, ketika aku berangkat mengajar ke sekolah, anaknya dibangunkan diminta mengantarkan aku … tapi lama kelamaan ga enak juga. Kemudian ketika anaknya tidak berada di rumah maka budekulah yang memboncengku ke sekolah. Pernah juga ketika bliau agak sakit juga memaksakan diri mengantarku. Padahal ku sudah mencoba menolaknya…
Saya, bude dan pak puh sering kali ngobrol di ruang tengah. Pak puhku senang sekali menceritakan romantikanya waktu berkenalan dengan bude, bertugas di Papua, Ambon dan beberapa kepulauan di Indonesia. Ceritanya sebagai veteran bagian kesehatan sangat menarik. Setahuku anak-anaknya jarang sekali mendengarkan ceritanya. Kebetulan sumua anak budeku laki-laki ada mas aan, mas yus dan mas wiwin. Bliau juga sering bercerita tentang pekerjaannya di rumah sakit bhayangkara, menceritakn pasien yang bliau temui dan menurutku kalau sudah cerita sulit pokoknya untuk menghentikannya…
Pernah pada suatu malam pak puh anfal tak sadarkan diri.., membuatku panik, budeku mulai membimbingnya menyebut kalimat “La illa ha illa allah” berulang-ulang. Kemudian minta tolong para tetangga untuk dibawa ke rumah sakit. Kebetulan mas yus ada dirumah. Setelah pensiun pak puhku memang sering kali sakit. Dengan sabar budeku merawatnya… sungguh luar biasa kesetiannya beliau, bakti beliau kepada suami. Kalau aku boleh pinjam jempol orang seluruh dunia, maka aku pinjam semuanya untuk menghormati kesetian, kesabaran merawat pak puhku ketika sakit. Dalam hatiku kelak kalau ku menikah ingin sekali menjadi istri yang sholihah seperti budeku. Kebetulan bliau sering sekali memimpin pengajian di perumnas tempat tinggalnya. Mengajakku sholat malam berjamaah dimasjid pada bulan ramadhan. Kalau pulang mengaji sering kali bude bawa jajan. Bliau selalu memberikannya pada pak puh dan pak puh selalu memberikan padaku. Rasanya aku jadi anak kesayangan mereka.
Pak puhku ingin sekali melihat salah satu dari anaknya menikah sebelum beliau meninggal. Dan mereka juga ingin sekali melihatku segera menikah. Tapi Allah berkehendak lain.
Kemudian akhirnya aku putuskan untuk tinggal di MAN 3 di lab bahasa. Waktu itu karena kesibukanku yang luar biasa… padahal saat itu pak puhku sering sakit2tan hingga suata hari dipagi yang buta aku dijemput pak lekku dengan adikku untuk pulang ke ngronggo karena pak puh telah pulang ke rahmatullah… Tampak sekali kesedihan yang sangat mendalam di raut wajah budeku… lama sekali beliau merawat pak puh di rumah sakit. Dari ruang ICU sampai di pindahkan di kamar khusus vetran. Bliau tak mau digantikan dsiapapun. Saya dan anak-anaknya sangat mengkawatirkan kondisi bliau, takut kalau ikut jatuh sakit. Setiap kali keluarga kami menjenguk pak puk bliau selalu menangis memintakan maaf atas semua kesalahan pak puh..
Bu de ku ini adalah orang yang sangat sensitive, mudah sekali menangis, sama seperti aku. Dan sangat menyayangi anaknya. Sempat juga, karena aku terlalu jengkel dan marah pada salah satu anaknya, aku minta budeku untuk membiarkannya, tidak perlu dikasih uang, karena toh mereka sudah besar, masak harus selalu minta terus kapan mandirinya. Jawaban budeku “Kalau aku tidak memberikan uang, aku takut mas mu mencuri, dan kalau masmu mencuri aku marah aku takut Allah juga marah pada mereka. Aku tidak mau anak-anakku kualat padaku… karena aku marah pada mereka” Subhannallah seorang ibu yang takut kalau anaknya marah, Allah akan marah padanya… Sejauh itu budeku melindungi anaknya.
Pernah suatu malam, sepeninggal pak puhku. Bu deku menangis di tempat tidur dan berteriak-teriak di dampingi mas aan. Waktu itu aku baru pulang mengajar di salah satu bimbel di kediri, aku tidak berani masuk aku hanya menunggu di ruang tamu. Aku dengar teriakan budeku, “ Wis to le patenono aku ae, aku wis ga kuat, awakmu kok ga iso gawe lego lan mareme atine ibu” aku menangis di ruang tamu, rasanya aku puengen muarah sama masku itu…. Tak berapa lama, mas yus datang dan aku menahannya untuk tidak masuk. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada bu puh… aku larang mas yus untuk masuk rumah, aku minta mas yus untuk menahan amarahnya. Kasian bu puh… biar saja diselesaikan oleh bu puh dan mas Aan dulu. Aku dengar mas aan meminta maaf…
Pernah juga mungkin bu puhku terlalu lelah… sepulang mengajar di malam hari beliau menungguku di depan rumah duduk di kursi, lalu menangis memelukku… beliau ingin pergi ke suatu tempat yang jauh, rasanya tidak sanggup merawat pak puhku, waktu itu bu puh berniat menghibur pak puh yang diam melamun… tapi yang terjadi pak puhku malah marah-marah, membentak budeku, memintanya untuk diam supaya tidak mengoceh. Ya Allah…. La haula wa la quwata illa billah… apapn yang terjadi bu deku tetap setia sampai akhir hayat pak puhku dan sampai Allah mengundangnya di negeri mekkah.
Aku juga ingat betapa sayangnya pak puh denganku. Malam itu hujan sangat deras dan aku belum juga pulang dari mengajar bimbingan. Pak puh nunguin dan tidak mau tidur sebelum aku pulang. Budeku nuggu duduk di kursi depan rumah. Ketika aku sampai bu deku langusng bilang “Pak iki lo watik wes teko gek ndang sare, Pak puhmu lo ga gelem turu mergo awakmu rong teko, kwatir nek ono opo-opo. Udan deres kok ga muleh-muleh”. Aku merasa bersalah dengan pak puhku jadinya. Begitu besar kasih sayang yang diberikan mereka padaku.
Rumah budeku semakin sepi setelah pak puh meninggal…. Kadang aku juga merasa sedikit tidak kerasan, lalu aku pamit bu de untuk pulang ke nganjuk… bu deku malah menangis “ kowe kok tego to tik niggalke aku dewe an” tapi akhirnya ku urungkan, aku ga jadi pulang… budeku sangat kesepian… hari-hari yang bliau lalui dengan pak puh bercengkrama di ruang tamu tengah sulit sekali dilupakan. Kadang akupun juga merasa demikian ketika kutatapi ruang tengah yang kosong, tidak ada lagi segelas teh panas, kue pasar yang biasa disajikan budeku.
Hari demi hari, akhirnya budeku sudah mulai terbiasa, apalagi setelah mas yus menikah dengan gadis yogya “mbak ade”. Waktu pernikahan air mata budeku tidak berhenti menetes. Maklum hari pernikahan anaknya telah lama dinantikan suami tercinta yang telanh berpulang terlebih dahulu. Lalu cucu pertamanya lahir. Kemudian bliau mempersiapkan untuk keberangkatan naik hajinya.
Ketika mendekati hari keberangkatan aku ke ngrongo menengok bude dan siapa tahu bisa membantu mempersiapkan keberangkatannya. Aku lihat tas hajinya sudah siap di isi. Aku merasa aneh ketika ku lihat tas haji itu namanya bukan nama budeku, lalu akupun bertanya.. “Bu puh niki tase sinten? Kata budeku itu adalah tas calon haji yang tidak jadi berangkat karena sudah meninggal, dan budeku menggantikan calon haji itu berangkat ke mekkah. Ku tatapi wajah budeku, air mukanya sangat berubah, rambutnya dipotong pendek, ada sesuatu yang aneh tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi. Hatiku mencoba menepis kata “jangan-jangan…”, lalu bliau memintaku untuk mencarikan halaman doa untuk meminum air zam-zam untuk diberi tanda pada buku panduan haji. Pesannya untukku sebelum berangkat, “Tik omae sring-sring di inguk yo….” Akhirnya budeku berangkat haji.. bliu sepertinya sudah sangat siap. Seolah tidak mau menoleh kepedihan masa lalu… yang begitu biru. Mimpinya untuk naik haji bersama suamipun juga tak sampai. Akhirnya bliau berangkat sendiri. Sebenarnya bareng dengan lek war adik kandungnya. Tapi lek war ikut kloter yang dari nganjuk, dan budeku ketika diminta pindah kloter ke nganjuk tidak mau… bliau bilang sudah punya teman dekat dalam rombongannya.
Selama bulan haji kebetulan aku berlibur ke Kalimantan, sebenarnya sih tidak berlibur.. tapi bantuin ida adikku yang mo pindah ke balikpapan. Beberapa hari telahir di tanjung selor aku mimpi bertemu budeku. Aku ingat betul mimpi itu.. beliau hanya memandangi diriku dan tidak menjawab pertanyaanku, aku bertanya apakah bu de marah denganu karma tidak ke rumah ngrongo? Ke esoakn harinya ku juga mimpi lagi ketemu dengan bu deku.. aku Tanya kok sudah pulang bu puh kapan datangnya? Bliau menjawab ya, tapi aku mo balik lagi…, kemudian ke esokan harinya aku mimpi gigiku lepas…
Kemudian aku telpon ibu, mencerikan kalau tiga hari terakhir ini aku mimpi ketemu bu puh tapi bliau diam saja dan yang terakhir aku mimpi gigiku tanggal… sungguh aku tak punya pikiran apapun tentang mimpi gigi tanggal, yang biasanya orang berfikiran ada keluarga yang meninggal. Sama sekali aku tidak ingat mitos itu dan tak punya seidikitpun pemikiran tetang budeku… setelah ku pulang dari Kalimantan dan semua kloter haji Indonesia sudah pulang… kami sekeluarga kwatir tentang keadaan bu puh.. karena kabar yang diterema dari lek war bu puh dalam keadaan sakit. Bliau pun tidak diperkenenkan oleh panitia haji untuk tinggal menungui kakaknya, karena memang sudah ada petugasnya. Akhirnya berita duka pun kami terima bahwa bu puh telah meninggal di mekkah…
Ya Allah, semoga budeku adalah hamba pilihan-Nya untuk menjadi tamu yang teristimewa. Semoga bu de bahagia di kampong akherat. Teri kasih atas semuanya bu de… Aku kangen menceritakan semua yang aku alami pada bu de, nasehat, doa dan perhatian bu de… semoga kelak kita bisa ketemu dan berkumpul bersama di istana yang indah kampong akherat.
0 comments:
Poskan Komentar
Tafakur dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan hidup yang diberikan