Selasa, 18 Agustus 2009

BIARKAN SEMUA MENGALIR SEPERTI AIR


Setiap kali aku di kenalkan seorang pria oleh siapapun dalam hatiku selalu berdoa “Ya Allah semoga orang ini adalah hamba yang telah Allah janjikan untukku. Tidak tahu sudah berapa banyak yang datang dan pergi begitu saja. Semua datang baik-baik berkenalan baik-baik tapi kemudian tidak meninggalkan pesan atau kadang tidak berpamitan. Semuanya berlalu begitu saja. Bagaikan air mengalir. Kadang aku lelah mengulang semua pertanyaan dan jawaban dari awal. Ada yang kenal lewat handphone belum ketemu kemudian berlalu begitu saja,. Ada juga yang berkenalan lewat email berkirim foto, ketemu kemudian juga berlalu begitu saja, ada juga yang sudah datang kerumah setelah itu juga pergi begitu saja. Dari awal perkenalku dengan kakak seorang teman waktu kuliah sampai sekarang, entah sudah berapa kali, aku sendiri sampai tidak tahu kenapa…tapi yang jelas belum berjodo.. dan mungkin mereka bukan “The right man in the right time” untukku…

Sebenarnya ada juga yang sudah sempat melamar.. dia memintaku untuk dijadikan istrinya.. tapi kenapa hati ini juga tidak beranjak untuk menerimanya.. sebenarnya sudah kuniatkan.. memintanya untuk datang menemui orang tuaku… tapi ternyata dia juga tidak kunjung menemui orang tuaku. Ya sudah lah… toh dia juga sudah menikah..

Akupun juga pernah nekat bulat dengan penuh kepasrahan pada Allah, ketika dikenalkan dengan seorang pria, siapapun dia pokoknya kalau dia mau sama aku, aku akan siap menikah dengannya meski aku tidak mencintainya… tapi ternyata.. pria ini malah marah-marah padaku… capek deh…
3 minggu yang lalu aku dikenalkan oleh seorang teman, berharap kami berjodo. Sebenarnya kalau dibilang lelah, aku juga sudah lelah menjawab ritualitas ta’aruf setiap perkenalan, tapi bagaimana lagi semuanya harus dilewati suka atau tidak suka. Aku tetap tidak boleh menyerah. Aku menulis ini karena dari sekian pria yang dikenalkan menurutkan dia yang paling menyakiti perasaanku…. Dia tidak seperti pria yang bisanya dikenalkan padaku… Bisa jadi aku juga yang salah. Tapi tak tahulah.. yang jelas perkataanya sangat menyakitkan.

Beberapa tahun yang lalu kalau aku dikenalkan pria aku punya pertanyaan dan akupun selalu punya jawaban jika ditanya. Kemudian ibu bilang jangan terlalu banyak bicara/berlebihan kalau kenalan dengan pria. Kemudian tahun terakhir ini aku lebih sering mununggu pertanyaan dan tidak banyak memberi jawaban. aku menyampaikan kondisiku dan keadaan keluargaku serta keinginanku. Itu yang biasa aku sampaikan dalam setiap pembicaraan.

Demikian juga dengan AZ anggap saja namanya begitu…. Kami dipertemukan dirumah seorang teman kemudian kita mengobrol, jelasnya dia yang banyak mengenalkan dirinya terlebih dahulu, “Namaku AZ usiaku 40 tahun kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku tinggal sendirian dirumah tanpa sipapun setelah ibuku meniggal. Begitulah awal perkenalannya. Dia cerita tentang kegiatannya dulu semasa ada ibu dan kakak serta kemenakannya dirumah. Dia juga menyamaikan istri seperti apa yang dia inginkan, baru kemudian dia bertanya padaku, seperti orang yang sedang melakukan transaksi…. Dia mulai bertanya, Bagaimana denganmu pria seperti apa yang kamu inginkan. Menurutku ini pertanyaan yang sering kali diberikan padaku. Jujur kaget juga aku ditanya. Biasanya aku dengan mudah menjawab kalau aku ditanya lewat hp atau email. Kadang tidak ditanyapun aku menyampaikan suami seperti apa yang aku inginkan. Akhirnya aku hanya menjawab “ya seperti yang diingikan wanita pada umumnya”. Lalu aku menyampaikan harapanku.. bahwa aku ingin yakin suatu saat aku akan ketemu dengan seorang pria yang ketika pertama kali ketemu kita merasa cocok dan tidak perlu berpikir lama untuk melamarku. Dua atau tiga kali bertemu bagiku sudah cukup. Akupun juga bercerita tentang kondisi keluarga, keadaan adik-adikku yang memberikan banyak pelajaran tentang pernikahan. Lalu karena sudah larut malam akupun pamitan karena keesokan harinya aku harus ke Malang.

Dua hari setelah pertemuan itu pertamakalinya AZ menelponku. Aku datar saja menjawabnya karena waktu itu aku sedang dalam perjalan ke penginapan diantar oleh temanku sejak kami TK dan mondok bersama yang sudah sekian lama tidak ketemu. Tidak ada perasaan senang atau apa. Semua biasa saja. Kemudian dia kirim sms untuk pertama kalinya “sepertinya kamu kecewa padaku, kalau begitu saya tidak jadi ke rumah” aku tidak langsung membalasnya… baru setelah subuh aku membalasnya… “Jangan terlalu cepat mengambil keputusan sampai membatalkan janji untuk bersilaturahmi ke rumah” hanya itu smsku.

Sebenarnya aku H2C (harap-harap cemas) ketika dia mengenalkan siapa dirinya ada beberapa hal yang aku merasa pas dan ada beberapa hal yang kurang pas dihatiku. Dia tidak menjelaskan secara gamblang pekerjaan dan pendidikan yang pernah dilalui. Tapi, sudahlah aku mencoba memendamnya tidak menayakannya, meski kemudian aku tahu dari temanku…
Kemudian hari minggu AZ datang ke rumah ketemu dengan bapak tapi tidak dengan ibu. Kita juga ngobrol biasa. Aku hanya menanyakan acara reoni keluarganya yang kebetulan di nganjuk. Lalu Aku tinggal sebentar, kubiarkan bicara dengan bapak. Dan kemudian berpamitan. Sesampainya di kediri dia sms untuk ke dua kalinya bahwa dia sudah sampai rumah dan bilang kalau aku sangat beruntung punya keluaraga yang baik dan rumah yang nyaman.

Kemudian malamnya temanku menanyakan bagai mana perkenalanku dengan AZ cocok apa tidak. Lalu aku minta temenku untuk datang langsung kapanpun dia bias. Seminggu setelah perkenalan itu, akupun bercerita tentang apa yang aku rasakan, dan pengalaman yanga pernah aku alami ketika dikenalkan seorang pria lain sebelumnya kepada temanku. Sebenarnya beliau tidak hanya temanku tetapi juga sahabatku, dan insya allah mengerti jalan pikiranku. Setelah mendengar ceritaku tentang masa lalu dan perasaanku yang biasa saja terhadap AZ. Temanku begitu semangat memberi nasehat dan tausiah yang disampaikan hingga akhirnya aku mengatakan, kalu memang AZ serius denganku mohon dia berpikir masak-masak. Aku harap AZ juga sudah tahu kekuranganku secara fisik. Keadaan keluargaku dan tanggung jawabku sebagai anak pertama. Aku juga menyampaikan padanya, biarlah semua mengalir seperti air. Seperti kesepakatan AZ dan aku jika ditanya temanku itu. Temanku bilang ya semua harus diusahakan juga, Ya sudah kalu begitu besok tak minta untuk segera menyiapkan lamaran, karena AZ juga sering menyakan tentang responku pada temanku.

Aku berulang kali menekankan pada temanku biarlah semua mengalir seperti air sebagai jawaban yang telah kami sepakati berdua jika ditanya. Ada perasaan gundah apa iya dia mau menerimaku dengan segala kekuranganku. Ku mencoba memantapkan hatiku pula untuk menerima kekuranganya. Akupun juga mencoba merenungkan apa yang disampaikan temanku tentang pernikahan, terutama diawal perkenalan. Memang sulit wanita mengatakan kata “Iya” kalau tidak sedikit dipaksakan. Mungkin sama halnya dengan pria itu sendiri pikirku. Mereka juga harus berfikir matang untuk melamar seorang wanita. Bliau sendiri menyampaikan, kadang kalau keberanian itu tidak dipaksakan maka kita tidak akan pernah melewatinya.

Keesokan harinya AZ sms, apa iya aku mau menerimanya? Kok temanku meminta dirinya untuk segera menyiapkan lamaran. Dia bilang lucu baru kenal dan belum saling mengenal kok sudah disuruh melamar. Itu suatu yang menada-ada. Dia sms sampai 4 kali… aku tidak langsung menjawab. Kemudian sms yang kelima di hari itu dia mau datang ke tempatku. Aku bialng tidak usah karena waktu itu aku sedang ada tamu, kebetulan juga sudah malam. Kemudian keesokan harinya smsnya baru aku tanggapi.

Aku harus berfikir dan berfikir kemudian aku mengomentari pendapatnya. Aku bilang bahwa aku sudah mengatakan pada temanku agar biarlah semuanya mengalir seperti air dan aku juga mengatakan menurutku apa yang disampaikan temanku tidaklah menga-ada dan bukan hal yang lucu. Menurutku sarannya agar dia cepat melamarku itu karena kesimpulan temanku atas semua cerita, pengalaman, keiinginanku dan kenyakinanku bahwa suatu saat aku yakin insya allah bertemu dengan pria yang kita sama-sama falling in love in the first sight, kemudian langsung menikah saja. Tidak perlu berpikir lama. Karena selama ini yang terjadi, pria itu suka sama aku dan aku kurang menyukainya, atau sebaliknya, aku mau menerimanya tapi ternyata pria itu berlalu begitu saja. Lalu akupun bilang pada AZ kalau memang tidak sependapat ya sudah tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. AZ menginginkan tidak perlu mak comblang. Aku pikir saya dan dia kenal juga karena mak comblang. Untuk selanjutnya memang terserah kita.

Mulailah AZ menuduh temanku memperkeruh keadaan, merendahkan harga dirinya dihadapanku, bersekongkol mempermainkannya, dan dia menghinaku tidak mau belajar dari kedua adikku, entah mendoakan entah menyumpahiku agar aku mendapatkan jambangan seperti yang aku inginkan. Ya Allah, sungguh dia itu “Too much” padahal temanku tak pernah sedikitpun merendahkannya, semua yang disampaikan adalah kebaikannya, kalau toh ada yang kurang akupun diminta memahaminya. Tuduhannya sangat berlebihan. Aku tahan amarahku, aku tidak langsung membalas smsnya keculai setelah dia bilang “hentikan persekongkolanmu dengan temanmu, puas kamu mempermainkan aku” lalu akupun bilang “istighfar, njenengan sudah sangat keterlaluan, alhamdulillahirobil alamin, trima kasih atas segala waktu, saran dan doanya. Saya mohon maaf. Itu sms yang ku kirim.
Dari semua smsnya yang masuk aku memang tidak langsung membalas. Aku baca berulang-ulang. Adakah sms yang aku kirim slah tulis. Sampi-sampai aku memintanya membaca dengan sepenuh hati. Dan memahami maksud temanku itu. Aku berulang kali minta maaf kalu ada yang salah kata… tapi sepertinya AZ smakin menjadi-jadi dan memintaku menganggap pertemuanku dengannya adalah mimpi buruk. Sungguh demi allah aku tidak punya pikiran seperti itu.

Aku sedang mencoba menata pikiranku menerima apapun keadannya, aku tidak pernah menyinggung dan menanyakan pekerjaan atau pendidikannya. Kemudian akhirnya aku bicara dengan temanku… apa yang terjadi… AZ memintaku untuk ketemuan lagi… aku pikir, kita sudah ketemu, sudah kerumah orang tua… keaadanku sudah aku jelaskan. Aku pikir itu sudah cukup untuknya. Tapi ternyata tidak, menurutnya tidak mungkin dia suka denganku yang baru ketemu 2 kali, menurutnya… kalu toh menikah itu sama halnya dengan dipaksakan, menurutnya menikah dengan cinta yang dipaksakan tidak akan berlangsung lama. Dia pikir aku menikah hanya untuk coba-coba…. Tuduhan yang sangat berlebihan… sulit sekali aku menerimanya. Rasanya badanku panas dingin menahan amarah. Aku hanya mengucap beribu-ribu maaf padanya serta rasa syukurku pada Allah atas semua jawaban yang di berikan AZ menurutku petunjuk yang tak terduga dikala aku memasrahkan hatiku menerima segala kekurangannya. Karena no body perfect.

Namun akhirnya aku berfikir… sepertinya dalam menjalin suatu hubungan apalagi diawal ta’aruf, komunikasi memang sangat penting terutama untuk menyamakan persepsi awal tujuan perkenalan. Terlebih lagi diusiaku yang semakin berkurang, dan kematangan pemikiran, kupikir aku sudah tidak bisa lagi pacaran seperti anak ABG. Aku pikir itu bisa kita lakukan nanti setelah menikah. Akupun tak pernah punya pikiran “gagal dalam pernikahan” siapa sih yang mau pernikahannya berantakan, tidak ada kan? Kalau toh itu harus terjadi, itu adalah pilihan pasangan di kemudian hari.

Aku memang berprinsip tidak mau pacaran. Alhamdulillah dari dulu aku tidak pernah pacaran sekalipun aku mencintai seorang pria. Aku hanya punya pikiran kalau sudah merasa cocok diawal sebaiknya segera menikah. Kalu toh ternyata dikemudian hari ada persoalan muncul, itu adalah ujian dari Allah untuk menaikan hambanya ke derajat yang lebih tinggi.

Selama ini perkenalan selalu diawali dengan “siapa tahu kita jodo, kalu tidak kita bisa tambah teman” awal yang manis dan niatan yang baik…. Jujur aku tak pernah ada niatan memutuskan tali silaturahmi dengan siapapun setelah aku berkenalan dengan pria manapun. Tapi yang terjadi… setelah kenal, bertemu semuanya seperti kafilah yang berlalu disepanjang usiaku ini.

Ya Allah… hamba benar-benar haus akan petunjuk-Mu… akupun bertanya dengan temanku yang belum menikah. Apakah keinginanku terlalu berebihan. Apakah keinginanku tidak wajar dan tidak umum? Aku juga ingin tahu komentar siapa saja yang membaca… apakah wanita yang menginginkan pasangannya punya pekerjaan merupakan hal yang wajar, terlebih lagi pria yang memiliki pekerjaan tetap dan tetap bekerja. Kata temenku ya itu wajar dan umum.. kemudian apakah keinginanku memiliki suami minimal pendidiakan sama denganku apakah itu hal yang wajar. Diapun masih berpendapat wajar. Apakah keinginanku memiliki suami yang agamanya lebih baik dariku juga hal yang wajar. Diapun juga menginginkan hal yang sama. Kemudian temanku bertanya kalau pekerjaan dan pendidikan tidak sesuai dengan kita apa mau menerima? akupun berfikir kenapa tidak selama dia mampu menjadi imamku, membimbingku untuk istikomah di jalan Allah, mampu menjaga keluarganya jauh dari siksa api neraka, kenapa tidak. Agama adalah penentu segalanya bagiku. Karena disitu banyak petunjuk Allah…untuk menjadikan hambanya memiliki pegangan hidup. Semoga menjadi pelajaran untukku dalam perkenalan berikutnya… serta untuk para pembaca yang belum menikah.

Semua orang mengira aku terlalu menginginkan sesuatu yang berlebihan, dan pilih-pilih. Aku pikir untuk dunia dan akherat, suatu hal yang wajar kalau aku berikhtiar untuk memilih. Hasil akhir tetap ada di tangan Allah.

Ampuni hamba-Mu yang sok tahu ini ya Allah. Jangan lepaskan petunjuk-Mu untukku menjalani hidup. Hamba benar-benar ingin segera bertemu dengan suami yang telah Allah janjikan untuk hamba. La haula wa la Quwata illa billah. Ampuni hamba jika hamba berharap berlebihan dalam setiap perkenalan, sejujurnya selalu ada perasaan takut ditolak dan takut untuk diterima. Tapi apapun itu ya Allah hamba memang harus melaluinya suka ataupun tidak, hamba tetap harus melaluinya. Bimbinglah hamba-Mu yang dhoif ini ya Robb.

0 comments:

Poskan Komentar

Tafakur dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan hidup yang diberikan