Jumat, 15 Mei 2009

ZULFAYA ISNUN


Seorang Ibu dengan tiga anak, mama dari Fauzan, Tia dan Fajar adalah adikku yang ke dua. Lahir bulan januari 22 1978. Sementara ini bekerja sebagai kasir di salah satu proyek di jawa timur. Pada tanggal 2 maret 2009, pengadilan agama kabupaten Nganjuk memberi putusan “cerai” dan jadilah adikku punya status baru “janda beranak 3”. Diantara kita bertiga (zidni,zulfa dan zabit) dia bisa dibilang lebih pandai, karena bisa sekolah di SMPN 1 nganjuk dan SMA 2 nganjuk. Sekolah favorite dan tidak mudah bagi anak yang otakya pas-pasan untuk jadi siswa disana. Tapi sayangnya, adikku tidak bersekolah tinggi. Seperti pada umumnya, persoalan putus sekolah dikarnakan faktor ekonomi. Lulus SMA, dia langsung sekolah di poltek UNDIP dan ikut bulek ku di semarang. Setelah itu mau melanjutkan D3 tidak ada biaya. Akhirnya pulang ke nganjuk, karena cari pekerjaan di semarang tidaklah mudah. Saat itu aku masih kuliah. Sesak juga rasanya, sangat disayangkan adikku yang paling pandai diantara kami bertiga tidak bisa melanjutkan kuliah. Tapi sunnguh tak satupun yang luput dari genggaman Allah semua yang ada di muka bumi dan akherat kelak.

Banyak hal yang bisa kupelajari dari perjalan hidup adik ku yang satu ini dan satunya lagi (baca; Zabit Farida). Aku hanya mencoba menuliskan apa yang kuingat tentang sepenggal kehidupan dari masa kecil yang kita lewati bersaman dan apa yang dimikinya sekarang.

Masa kecilku bersama adik-adikku adalah saat-saat penuh suka dan duka, dan mungkin tidak ada yang luar biasa bagi orang lain. Tapi apapun yang dialami manusia dalam kehidupannya sesungguhnya adalah hadiah yang sangat istimewa dari Sang Khaliq untuk hamba-hambanya. Demikian yang ku rasakan, bahwasannya kehidupan keluarga kami sungguh sangat luar biasa yang mengisahkan drama kehidupan skenario Sang Illahi yang telah tertuliskan di Lauhul fahfudz sebelum kita dilahirkan.

Tak tahu persisnya kapan, di masa kanank-kanak, zulfa pernah terbakar bajunya dan membakar tubuhnya karena bermain korek api di selatan rumah nenekku. Peristiwa itu sempat membuatku sedih. Saat itu ibu sedang mandi dan aku bermain sendiri. Seluruh tetangga mengerumuninya dan memberi berbagai macam saran obat untuk dioleskan ke tubuh adikku. Lumayan parah, masih ada bekas di tangannya sampai sekarang, karena dia gunakan tangannya untuk memadamkan api di bajunya yang hampir habis terbakar. Masa kecil kita tinggal bersama nenek. Lumayan lama sekitar 15 tahun. Setelah itu kemudian kita sekeluarga harus angkat kaki dari rumah di Ploso. “Unforgetable moment” karena kami pindah dengan tidak sangat mengenangkan tapi sesunnguhnya setelah kesusahan pasti ada kemudahan.

Zulfa adalah anak yang paling bandel diantara kami bertiga. Kalau kita lagi beradu kekuatan aku memang sering kalah. Tapi kalau kita sedang main “cirak gambar”, “kecian”, cirak karet atau permainan apapun, seringnya aku yang menang. Kemudian dia menangis dan mengadu kalau aku main curang ke ibu. Gara-gara setelah permainan zulfa kalau kalah nangis, atau kita suka berebut gambar, akhirnya dimintalah semua mainan oleh ibu dan dibuangnya. Sangat disayangkan. Waktu itu aku sangat menyesalinya. Harap dimaklumi, mainan yang kita senangi kalau dibuang begitu saja kan sangat sayang sekali. Apalagi saat itu mainan tidaklah sebanyak sekarang. Dulu bungkus permen aja bisa digunakan sebagai duit-duitan. Atau daunpun juga bisa gunakan untuk duit dalam permainan “pasaran”.

Dia juga pernah mengubur anak ayam milik nenek hidup-hidup. Ku ingat pula suatu malam dia menangis ga henti-hentinya karena minta dibelikan jenang. Oleh bapak sudah dibelikan kemudian minta lagi karena masih kurang dan ternyata jenangnya sudah habis, maka diapun menangis sejadi-jadinya. Lumayan lama, sampai akhirnya karna ga kunjung berhenti menagisnya, bapak mengangkatnya dan dimasukkan ke bak kamar mandi setengah badan, lalu redalah tangisnya.

Waktu kami masih SD ibu membuat kue dititipkan di warun-warung dan juga kami bawa ke sekolah. Semua itu dilakukan untuk membantu bapak yang bekerja sebagai tukang jam diwarung jayeng di toko lek war. Suatu sore kita berdua disuruh ibu untuk mengambil piring jajan dan uangnya di warung. Ibunda menjanjikan akan memberi uang Rp.25 waktu itu. Akhirnya kitapun berangkat dan uang diberikan ke ibunda. Tetapi ketika dihitung ternyata uang yang diambil adikku dari warung mak sum masih kurang Rp.25 setelah dipotong untuk diberikan ke zulfa. Usut punya usut akhirnya ketahuan juga, ternyata adikku berbohong. Dia mengambil terlebih dahulu sebelum ibu memberikannya. Sungguh tak dapat kulupakan kemarahan ibu waktu itu ketika adikku berbohong. Ketika dimarahi tak sedikitpun zulfa menangis dia kalau dimarahi punya kebiasaan melotot matanya sehingga ibu tambah marah.

Kenangan lain adalah acara minggat (kabur dari rumah) bersama. Sore itu nenek marah-marah ke kita berdua gara-gara kita berdua waktu mandi nyebur bak kamar mandi dan ketahuan nenek. Ibu mungkin juga dalam keadaan tertekan ikut memarahi kami berdua dan keluarlah kata-kata pengusiran terhadap kami. “ora ngerti repote wong tuwek, wis nek ra manut ibue gak usah melok bue, minggat to kono!” Lalu akupun berunding dengan zulfa, “kita minggat aja yuk. Tapi kemana ya? Sudah sore mau maghrib lagi”. Akhirnya kami putuskan untuk minggat ke rumah adik nenek kami.

Dengan perasaan tidak bersalah kami bercerita pada lek munir bulik kami dan sekaligus teman sekelasku. Diapun senang-senang saja. Kuminta padanya untuk merahasiakan keberadaan kami dan alasan kami disini.

Akhirnya ketahuan juga, bapak menjemput kita berdua dan diajak pulang. Setibanya kami dirumah ibu sungguh lebih hebat marahnya..”sopo sing ngongkon dolan maghrib-maghrib. Wis surub barang panggah kelayapan ae. Sopo sing ajak-ajak? Mesti watik sing marai” akhirnya kami berdua saling menyalahkan. Karena aku anak pertama, maka ibu lebih menyalahkan aku. Tak ketinggalan cubitan itupun mendarat dipupu dan tanganku. Akupun menangis. Lalu ibu memintaku untuk ngaji. Akupun nurut saja. Sambil ngaji sambil nangis. Kalau ku ingat aku sering sekali ngaji sambil nagis karena dimarahi ibu gara-gara ga tanggap kalau diajari. Trima kasih bunda walaupun begitu alhamdulillah ilmu mengaji yang bunda ajarkan bermanfaat sangat bermanfaat dunia dan kelak di akherat.
Aku menghabiskan masa kecilku dengan zulfa kalau dihitung-hitung tidak lama dari dia masih bayi sampai usiaku 12 tahun. Karena setelah lulus SD aku mondok di Ponorogo, meskipun tidak kerasan.

Masa SMP adikku, aku tidak begitu banyak tahu. Tapi yang kuingat di usianya yang masih belia dia sudah mengenal peralatan kosmetik. Dan dia membelinya sendiri, seperti mascara, penjepit bulu mata dan lain-lain. Dia cukup pandai berdandan. Dan bahkan cita-citanya waktu itu pengen jadi model.

Semasa SMA pun kita jarang ketemu karena aku sekolah di kediri. Paling hanya seminggu sekali. Kuingat juga dia sangat berani mendekati cowok, atau pacaran. Diapun pengen ikut pencinta alam di SMAnya tapi tidak diperbolehkan oleh ibunda. Lumayan banyak yang naksir adikku. Termasuk orang yang paling kusuka di sekolahku juga naksir adikku gara-gara dia lihat foto yang ku bawa dari rumah. Adikku adalah tipe gadis yang murah seyum dan mudah akrab dengan cowok yang baru dikenalnya.

Kalau kuliah aku ga begitu banyak tahu sepak terjangnya, tapi yang jelas dia pernah cerita. Waktu itu dia bingung mau mutusin pacarnya atau tidak. Lalu dia siapkan surat untuk menyatakan putus, tapi karma tidak tega dia buat lagi surat sekedar minta maaf. Tapi apa yang terjadi. Surat yang diberikan keliru surat putus, ya sudah… akhirnya putus juga. Di hari wisudanya orang tuaku tidak datang. Hanya aku seorang yang menghadiri wisudanya.

Setelah kuliah dia nganggur. Cari pekerjaan sulit sekali. Akhirnya dia putuskan untuk daftar TKW ke malaysia lewat PJTKI di Surabaya. Waktu itu aku masih kuliah. Rasanya ga ikhlas kalau adikku harus jadi TKW. Ibuku pun juga demikian. Bukan karma jauhnya sih. Karma kwatir dengan zulfa kalau ga bisa jaga diri. Ternyata Allah bekehendak lain. Adikku tidak jadi berangkat ke Malaysia tetapi di rekrut oleh PJTKI untuk jadi tenaga administrasi. Alhamdulillah, sungguh Allah maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Kemudian masa kontrak kerjanya habis dan PJTKI tersebut hampir bangkrut. Adikku sudah menemukan pekerjaan baru masih di bidang yang sama tapi di Jakarta. Kemudian bertemulah dengan jodonya akhirnya menikah dan dikaruniai 3 anak. Meski akhirnya harus becerai.

Kalau ku perhatian luar biasa perjuangannya. Suami tidak menafkahi kurang lebih 2 tahun. Saat-saat anaknya sakit, butuh biaya sekolah, ataupun butuh biaya pengobatan dia hanya diam. Dalam keadaan tertekan jarang sekali dia menangis, kecuali kalau benar-benar tidak tahan. Masa-masa sulit itu membuat hatiku ikut sesak. Tidak tega melihatnya dan ponakanku, terlebih lagi ibundaku, yang mau tidak mau harus memikirkan nasib anaknya. Ku ingat betul apa yang pernah dikatakan bunda padaku. “Rasanya kesulitan yang kuhadapi dulu bersama ayahmu tak sebanding dengan keadaan adikmu sekarang tik, mungkin kalau aku tidak akan kuat” . sesungguhnya Allah telah menyiapkan bahu untuk bersandar ketika hamba-Nya diberi ujian atau cobaan.

Saat ini sudah hampir 2 tahun dan mungkin kontrak kerjanya juga sudah hampir habis. 2 tahun penderitaannya tanpa uang dan kiriman dari suami terbayar cash dari Allah. Meski harus dengan perjalanan malam berangkat dari nganjuk, kemudian pagi dini hari sampai Surabaya, menyebrang lautan untuk anak-anaknya. Medan yang ditempuh ke madura pun tidak mudah. Sungguh adikku yang pemberani. Ya allah mudahkanlah urusan dunia dan akheratnya, ampunkanlah dosa-dosanya dan terimalah amal ibadahnya. Jadikan anak-anaknya sholeh dan sholehah. Semoga Allah senantiasa melindungimu dan anak-anakmu.. Jagalah, dan didiklah anakmu baik-baik. Mereka lebih berharga dari uang yang engkau cari selama ini. Semoga Allah mempertemukanmu dengan pendamping baru yang mampu membantumu menjaga amanat dari Allah. Amin ya robbal alamin

Terima kasih dik telah bersabar dengan sikap mbak yang kadang keras dalam mendidik anakmu. Ku tahu jauh dilubuk hatimu yang paling dalam engkau tak suka aku berlaku seperti yang kulihat. Sungguh engkau ibunda yang sangat sabar. Semua yang kulakukan pada anak-anakmu bukanlah kebencian aku yakin engkaupun tahu itu. Mungkin aku kurang pandai dalam mengekspresikan cintaku, kasih sayangku pada mereka. Semoga kelak mereka juga mengerti bahwa tante sangat sayang pada mereka… semua. Nurut sama mama, tante, nenek dan kakek ya…!!!!

0 comments:

Poskan Komentar

Tafakur dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan hidup yang diberikan