
Dulu ketika bapakku masih sangat kekar dan muda aku digendongnya, semua kebutuhannku dipenuhinya. Baju, makanan, sekolah, uang jajan, apapun itu diusahakannya.
Pagi sehabis subuh dengan udara dingin, bapak dan ibu meninggalkan anak-anaknya untuk berjualan kaset menggelar tikar dipasar.
Pernah pula kudampingi perjalan bapak dari Jakarta nganjuk naik pick up kendaran dagangan pak puh sofyan selama hampir 24 jam. Semua itu demi keluarga, aku dan adik-adikku. Aku ingat perjuangan bapak untuk kami.
Dulu ketika bapak dan ibuku melarangku dan adik-adikku untuk keluar hanya sekedar main-main dibatasinya.
Dulu ketika ku memaksakan keinginanku aku dinasehatinya
Dulu ketika aku butuh sesuatau tinggal memintanya. Banyak hal yang tak terbilang dan tak tersebut yang telah diberikan oleh orang tuaku pada kami bertiga. Meskipun ketidak puasan-demi ketidak puasan selalu ada.
Sekarang, sekarang tibalah kami ingin membahagiakan mereka. Yang seharusnya kami lakukan dari dulu. Tapi anak kecil adalah anak kecil. Seperti kadang kurasakan bapakku dan ibuku menjadi diriku waktu dulu kami masih anak-anak. Waktu seakan sedang berbalik.
Sekarang bapakku tidak sekekar dulu. Dan mungkin tak kuat mengendongku.
Sekarang kebutuhanku tak lagi dipenuhi. Alhamdulillah meski aku belum banyak memberi, tapi apa yang ku inginkan sudah bisa kubeli sendiri.
Bapakku jadi cepat lelah dengan perjalan panjang meski gayanya masih seperti orang bujangan.
Ketika aku mengingikan bapak untuk berdiam dirumah dan tidak perlu bekerja keras, aku jadi ingat ketika aku dilarang keluar rumah dan bermain-main dibatasi.
Akupun juga bisa merasakan betapa nikmatnya bisa membeli apa yang diingikan dan membelikan apa yang orang tua inginkan dengan hasil yang kita punya. Ku yakin perasaan ini sama seperti bapakku ketika bisa memenuhi apa yang kami inginkan. Aku tahu itu…
Kadang ketika ku meminta bapak untuk tidak bekerja lagi ada perasaan yang hilang pada diriku dan bapak. Aku tahu orang tua pengennya terus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan kalu bisa membelikan sesuatu untuk cucunya. Kepuasan itu tidak bisa digantikan oleh apapun. Kadang aku ingin berikan semua harta yang aku punya untuk mereka. Tapi perasaan diberi dan berusaha untuk mendapatkan dengan keringat sendiri amat sangat berbeda. Akupun bisa merasakan kepuasan ketika berusaha mendapatkan sesuatu dengan kerja keras. Sedih juga melihat bapak tidak punya kesibukan. Dan bapak mungkin lebih sedih lagi. Kadang juga aku merasa serba salah. Ketika kami menawarkan kesibukan untuk bapak yang tidak begitu menyita banyak waktu, beliau menolaknya. Maunya kita bapak itu di’eman supaya ga capek. Ternyata maunya bapak berbeda dengan maunya kita. Sepertinya waktu ini sedang berbalik. Perasaan jengkel dan menganggap bapak ga ngerti kalu dieman anaknya sama dengan bapak dulu yang jenggel anakknya ga ngerti kalau di eman. Ya duniku dan orang tuaku sekarang sedang berbalik. Serba salah!!!. Ada yang mau kasih saran!!!
Luar biasa.
BalasHapusSaya jadi ingat Bapak, yang sering kujaili. Belum lagi anak-anakku paling puas kalau sudah nggoda kakungnya.
Salam kenal.