
Anak adalah amanah dari Allah untuk para orang tua. Anak adalah permata hati untuk para ayah dan bunda serta generasi penerus keturunan keluarga. Rasanya sangat tidak mudah mewujudkan pengharapan untuk memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Kesabaran yang luar biasa amatlah dibutuhkan. Itupun tidak cukup, karena harus diikuti dengan ilmu agama dan kejiwaan dalam mendidik anak.
Anak-anak… oh anak-anak…, dunia yang unik, menarik dan penuh pengharapan serta banyak ilmu yang bisa didapat untuk refleksi diri di masa kecil. Tapi sayangnya itu hampir tidak pernah dilakukan. Sering kali keinginan kita yang dipaksakan pada anak, kita membandingkan masa kanak-kanak kita dengan anak-anak sekarang, yang sungguhnya sangaatlah berbeda. Mereka tidaklah akan bisa hidup di masa kita, tapi mereka harus terus berusaha sekuat tenaga untuk mengahadapi hidup yang lebih sulit di masa yang akan datang.
Apalagi kalau sudah bicara tentang kekerasan. Apakah ada bedanya kekerasan pada anak yang dilakukan orang tua kita dulu dengan orang tua sekarang??? Kalau ku pikir-pikir yang membedakan adalah aturan sekarang lebih terekspose dari pada dulu. Kalau kuingat masa kecilku, orang tuaku tak jarang mencubit,dan memukul karena tak tahu waktu, karena tak sholat, karena berbohong, karna berbicara kotor dan masih banyak sekali karena… supaya aku menjadi anak sholehah. Adikkupun pernah diceburkan ke bak mandi ba’da isya, karena serakah dan tamak. Akupun pernah dipukul tanganku hingga berdarah karena membuat ibuku kesal dan akhirnya ibuku tak sabar lagi. Tapi setelah semuanya itu, setelah aku seusia sekarang aku benar-benar bisa merasakan betapa sulitnya menjadi orang tua yang mampu mendidik anak untuk berbuat benar dan mengikuti ajaran agama. Sungguh ya Allah baru sedikit ilmu yang kupunya untuk mendampingi anak-anak itu.
Ketika emosi itu datang yang ada adalah teriakan, makian dan bahkan pukulanpun bisa melayang lewat sapu, sulak, atau benda apapun yang ada disekitar. Setelah itu penyesalan, terlebih lagi jika si anak sudah diajak bicara berulang kali, diingatkan tak kunjung ada perubahan, nasehat dari situasi yang sangat tenang, anak mendengarkan dengan baik, bicara pelan, berbagai teori pelatihan juga diterapkan, setelah semua itu dilakukan, namanya anak tetaplah anak, dan orang tua tetaplah orang tua. Yang terus saja mengemukakan otoritasnya untuk bisa membuat anak-anak mengerti apa yang kita mau dengan cepat bukan kita yang mencoba megerti apa yang mereka mau dengan banyak bersabar. Anak-anakpun kembali berbuat sesuatu yang kadang tak mereka mengerti meski sudah diberi pengertian. Mereka tetap anak-anak yang punya masa, dan masa untuk mengerti itu saatnya akan datang, entah kapan??? “kapan” inilah yang membuat orag tua tak sabar. Keinginan anaknya supaya bisa tanggap dan mengerti apa yang dikatakana dan mengerti dengan cepat, membuat orang tua suka marah jika mereka tidak cepat tanggap. Belum lagi faktor lain yang sering kali mempengaruhi, capek, orang tua yang bercerai dan keadaan ekonomi sering kali mengorbankan anak-anak.
Ya Allah sungguh dhoif sekali hamba ini. Kenapa kemarahan yang ada, kenapa??? Rasanya tak kuasa hati ini menahan amarah itu, ketika tak mampu membuat anak itu mengerti. Apa kata orang dilakukan dari yang halus sampai yang keras. Astaghfirullah hal adzim… kenapa tak kumintakan petunjuk pada-Mu ya robb. Sepertinya ikhtiar lahir benar-benar sudah membuat lelah hati dan pikiran, ya Allah ampunilah kami para orang tua yang tak sanggup menjaga amanah dengan kesabaran, ku mohon petunjk-Mu ya Allah. Bimbinglah kami kuatkan hati kami membimbing amanah dari-Mu agar kelak mereka menjadi hamba-hamba-Mu yang mampu menegakkan ajaran rosulullah dan agama yang Allah ridhoi. Agar kelak mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang mencintai kedua orang tuanya sampai akhir hayat. Ya Allah telah engkau saksikan ihtiar kami untuk menjaga amanah-Mu meski dengan kemarahan. Jadikan kemarahan kami menyadarkan mereka bahwa kami orang tua sangat mencintai dan menyayangi mereka. Fauzan, Tia, Fajar dan Rajwa… Tante sangat sanyang pada kalian. Meski tante tak pandai bersikap dengan lemah lembut. Doakan tante semoga senantiasa di beri kesabaran untuk mendampingi menjadi hamba Allah Ar-Rahman Ar Rahim.
0 comments:
Poskan Komentar
Tafakur dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan hidup yang diberikan