Sabtu, 14 Maret 2009

BETAPA ALLAH SWT MASIH MENGASIHI DAN MENYAYANGIMU



Muhammad Anwar Masduki nama yang indah pemberian kakekku. Waktu masih bayi pamanku ini tak pernah kenal kakekku. Apa lagi aku. Pak lek ku yang satu ini kalau aku boleh bilang (maaf ya pak lek) “takabur”, keren juga, gaul dan kadang juga dia merasa pendapatnya ga pernah terpakai kalau ada masalah atau acara reuni keluarga, mengobatkan nenek atau apapun dikeluarga besar kami. Tapi yang pasti baik hati dan tidak pelit, karena sering kasih uang saku aku dan adik-adikku, bahkan ibu atau bapakkupun kalau ngutang juga lumayan sering dipinjami.

Cerita dari ibundaku nih, “lek war” adalah adiknya yang tentu saja disanyangi dan lumayan dekat. Bahkan juga nurut ma ibuku. Demikian juga kata lek war, “mbak yuk ku sing paling tak sanyangi iku ibumu tik( kakakku yang paling ku sayangi itu ibu mu tik;red) ”

Waktu kecil, kata ibundaku, dia pernah main ketapel tanpa sengaja mengenai kepala anak tetangga sampai berdarah. Dan berujung nenekku kena marah alias “didamprat”. Kemudian di masa mudanya dia termasuk orang yang pemberani, lumayan sering adu jotos. Tapi bukan tanpa alasan, waktu tak sengaja dia menyenggol kendaraan milik tentara yang akhirnya berujung pada pengeroyokan terhadap pak lek ku. Dia dihantam habis-habisan sampai babak belur yang akhirnya berakibat fatal di usianya sekarang. Waktu itu, pak lek ku bisa melarikan diri tapi akhirnya mobil kepolisian menjemput dirumah dan pak lek ku dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Semua menangisi kejadian itu kecuali nenekku. Tapi, alhamdulillah karena ada kenalan saudara di kepolisian akhirnya pak lek ku bisa keluar dari tahanan.

Ku juga sempat menyaksikan kisah cintanya dan kemudian menikah dengan lek Andarini, dan sekarang berputra 3: dik ovie, dik yanti dan di ipang.

Sedikit mengenang “kejayaan pak lek ku” ketika memiliki toko. Toko yang dijalankan oleh pak lek ku semula adalah toko pak puh yan (ahmad sofyan). Karena kemudian usaha jual beli kendaraan pak puh berkembang pesat maka toko itu kemudian dikelola oleh pak lek ku; lek nan (ahmad amnan) dan lek war, yang akhirnya lek nan mampu membuka toko dari hasil jerih payahnya yang juga luar biasa. Dan akhirnya lek war lah yang mengembangkan toko itu hingga mampu membeli tanah, membangun rumah membeli mobil dan naik haji.

Barang dagangannya adalah kaset, tape, radio dan aneka jam baik asli maupun bajakan. Seiring perkembangan zaman kasetpun kurang diminati akhirnya berubah menjadi CD, CD player, televisi. Waktu itu aku juga sempat bantu di toko kalo liburan semester, begitu juga adikku. Dan sering kali pak lekku memberikan uang saku pada kita. Luar biasa perdangan CD bajakan waktu itu kita sampai kewalahan, laci sampai tak cukup untuk menyimpan uang. Karena yang asli tak laku di pasaran. Aku masih ingat betul kata-kata pak lek ku waktu itu;

Watik (aku) : “Semua ada masanya ya lek, dulu kaset begitu laris, sekarang ganti CD… suatu saat ganti apa lagi ya…”

Lek War : Ini ga akan berakhir tik, akan selalu ada dan terus seperti ini.

Ku hanya terdiam tidak lagi berkata apa-apa, hanya sibuk dengan pikiranku sendiri bahwa semuanya tidak ada yang abadi di dunia ini.

Akhirnya… hari itu datang juga… ada razia CD bajakan besar-besaran. Pak lekku akhirnya hanya menjual yang asli. Akhirnya tokonya tidak seramai dulu. Meski masih menyimpan bebarapa CD bajakan itu karena sudah terlanjur dibeli. Yang kemudian berakibat fatal sampai pak lek ku benar-benar kapok.

Kejadian penangkapan dengan tuduhan penjualan dan penyimpanan CD bajakan membawa pak lek ku harus ditahan selama 24 jam. Entah apa yang terjadi selama pak lek ku diatahan. Sebenarnya ketika sudah ada peringatan pak lekku tidak lagi menjual CD bajakan usahanya diganti denga penjualan HP pulsa dan aksesorisnya. Bahkan aku masih ingat betul HP jenis apapun pernah dimilikinya, begitu juga anak-anaknya. Apapun yang diminta anak-anaknya bisa langsung diperturutkan. Usahanya lumayan laku, meski akhirnya kalah bersaing dan seringnya pak lekku jatuh sakit. Tidak hanya itu saja, orang yang dipercaya pak lek untuk jaga tokopun sering sekali mengambil uang karena pak lekku tidak begitu memperhatikan dalam management keuangan tokonya.

1 tahun terakhir ini karena sakit yang hampir saja merenggut nyawanya… akhirnya toko itu tak lagi dibuka, tapi disewakan oleh pak lekku. Semua dagangannya habis untuk biaya pengobatan. Semua itu terjadi setelah pak lek pulang dari haji. Luar biasa Allah menguji pak lek ku. Dia harus dirawat ke semarang dan berganti-ganti rumah sakit. Tetap masih disyukuri…istrinya yang dulu sempat dibiayai pak lek sekolah dan jadi pegawai negeri masih mampu menopang kebutuhan hidup. Dimana anak-anaknya dimasa sekarang amat sangat butuh biaya sekolah. Dan ku masih ingat pula betapa pak puh Yan juga memikirkan penyakit adiknya serta mengusahakan pengobatannya dan bahkan biaya pun juga diberikan pak puh Yan. Sungguh Allah maha segala-galanya, sungguh tak satu pun yang luput dari kendali Allah… Pak Puhku yang juga akhirnya jatuh sakit, setelah lek war kondisinya membaik, akhirnya harus menghadap Allah terlebih dahulu. Semoga Allah membalas amal baikmu pak puh.

Setelah pulang dari semarang waktu itu pak puh belum meninggal, aku berkunjung ke rumah pak lek ku. Badannya yang dulu sangat kekar jadi kurus, nafasnyapun sangat melelahkan. Aku menangis disampingnya.. “nyapo nagnis lek war wis ga po-po(kenapa nagnis lek war sudah ga apa-apa)” katanya waktu itu meski matanya juga berkaca-kaca. Kemudian kami ngobrol panjang lebar…

Ku katakana pada pak lek ku betapa allah sangat menyayanginya. Untung saja lek War ga langsung di ambil nyawanya, untung saja istri masih mau merawatnya dan anak-anaknya masih bersamanya. Tetap masih banyak yang harus disyukuri. Ku katakana kalau harta masih bisa di cari lek, tapi kalo lek rin (istrinya) dan anak-anaknya yang di ambil kemana harus cari penggantinya.

Sekarang pak lek ku ini statusnya penganguran, hanya diam dirumah, karena tubuhnya tak sekekar dan sekuat dulu… kegiatannya hanya tunggu rumah dan insya allah berdzikir. Pak lek ku saat ini sangat menyadari kekhilafannya dan juga dosa-dosanya… ketika ku dengar curhatnya dari ibu; waktu di telpon sepupunya pak lek ku mencurahkan perasaannya saat ini dan mungkin juga perasaan “nelongso” : “saat ini saya tak punya uang sepeserpun, kadang mau makanpun saya ga berani minta, saya menyadari ga mampu lagi menafkahi istri, jadi kalau lapar kadang ku tahan. Kalau ditawari makan baru saya makan. Yang lebih menyedihkan kalau dulu aku masih tertidur anak-anakku mau berangkat ke sekolah membangunkanku dan berpamitan, sekarang… aku duduk di teraspun mereka tak menyapaku dan tak berpamitan padaku. Ku ingat dosa-dosa waktu dulu menyakiti ibuku. Kalau memang saat ini adalah hisab dari allah aku ikhlas menerimanya”

Ya Allah yang rahman dan rahim mudahkanlah urusan dunia dan akherat Lek War dan keluarganya. Berikan ketabahan dan kesabaran serta tinggikan derajatnya karena keikhlasannya menerima ketentuan-Mu ya Allah. Semoga di Ovi, dik Yanti dan dik Ipang tetap menyayangi bapaknya apapun yang terjadi. Ingatlah lapangmu dikala sempitmu. Karma susungguhnya kesenangan yang telah dilalui lebih lama dari pada sempitnya. Berikan kami sekuluarga petunjuk-Mu ya Allah… Amin Ya Robbal Alamin.

Yesterday is history

Tomorrow is mystery

Today is a gift

2 comments:

  1. Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Insya Allah, Ia senantiasa yang memberikan yang terbaik buat hamba Nya. Tetap sabar, istiqomah dan berusaha dan berdoa.

    BalasHapus
  2. Thank you ya mas. Dah mo kasih komentar. That's right brother, Allah has planed everything here for our life

    BalasHapus

Tafakur dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan hidup yang diberikan